
"Maafkan aku. Waktu itu aku sedang bertengkar dengan putriku. Aku tidak merestuhi pilihannya menikah dengan kalangan menengah. Tapi dia bersikeras dan ternyata mereka sudah menikah secara diam-diam, bahkan Ariana telah hamil. Aku sangat marah saat itu dan mengusirnya keluar dari kediaman. Hampir 4 tahun lamanya aku tidak tegur sapa dengannya. Sampai aku mendengar kabar tentang kematiannya. Aku sangat menyesal. Ayah macam apa aku ini. Aku tidak ada disaat dia membutuhkan. Hiks... Aku merindukan suaranya."
Lina terdiam. Dia baru sadar atas apa yang baru saja ia katakan. "Kenapa aku begitu marah padanya tadi? Aku merasa amarah ini telah terpendap untuk waktu yang lama dan menunggu waktunya yang tepat untuk meluap keluar."
"Sampai sekarang aku masih merasa bersalah pada Ariana, Ducan dan putri kecil mereka. Aku ingin sekali minta maaf pada mereka tapi aku tidak ada keberanian untuk itu. Aku takut mereka tidak akan mau memaafkan ku. Aku bahkan belum perna memeluk cucu perempuanku."
"Maafkan saya, tuan besar. Saya tadi terlalu lancang pada anda. Saya tidak bermaksud begitu," kata Lina.
"Tidak apa," Tn. Down menyekat sisa air mata di pipinya. "Aku merasa sedikit lega setelah menceritakannya padamu."
"Padaku?"
"Kau seperti cerminannya. Bicara padamu seperti aku berbicara pada putriku sendiri. Aku menerima dibentak olehmu karna aku memang pantas mendapatkannya. Terima kasih."
"Kalau begitu. Sebagai bayangan dari putrimu, 'aku telah memaafkan mu ayah.'"
Tn. Down tersentak dan menoleh pada Lina. "Ariana."
"Saya yakin putri anda sudah memaafkan anda."
"Hiks... Maaf... Maafkan aku Ariana. Maafkan aku..."
Tangis Tn. Down pecah saat itu. Untuk pertama kalinya George melihat ayahnya menangis, meluapkan semua emosi yang selalu terkubur jauh dalam hati.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Sorenya mereka pulang. Tn. Down sedikit memberi hadiah kecil untuk Lina. Sebuah boneka kucing berwarna hitam putih dengan kalung lonceng berpita merah. Tn. Down mengatakan kalau boneka itu milik Ariana yang tertinggal. Ia tidak berani untuk mengantarkannya kembali kepada Ariana karna takut kalau Ariana tidak mau bertemu dengannya lagi atas apa yang telah ia perbuat. Sekarang Tn. Down memberikan boneka tersebut pada Lina. Ia berpikir mungkin Ariana tidak keberatan kalau boneka tersebut diberikan pada Lina.
"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang berani membentak kakek. Kau orang pertama Velia," ujar Samuel saat diperjalanan pulang.
"Sungguh, tadi itu aku tidak bermaksud. Aku tidak tahu mengapa, tapi semua kalimat itu tiba-tiba keluar begitu saja dari mulutku."
"Apa tidak apa ya jika aku meminta dia untuk tetap tinggal walau ingatannya sudah pulih sepenuhnya? Jujur saja aku semakin penasaran dengan identitas asli Velia. Dari kata-katanya barusan membuatku cukup yakin kalau dia memiliki hubungan dengan keluarga tersembunyi," pikir George. "Em... Velia," panggilnya.
"Iya, Tn. George. Ada apa?"
__ADS_1
"Aku..." George tidak melanjutkan. Ia kembali berpikir. "Ah, tidak ada."
"?"
Sampai di rumah sekitar jam 18.48, Lina kembali ke kamarnya, mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia sedikit berlama-lama sebentar di kamarnya membaca buku. 10 menit berlalu. Ia ke luar dari kamarnya hendak pergi ke perpustakaan untuk mengganti buku yang baru. Buku yang ada di tangannya sekarang sudah selesai ia baca.
Di lorong yang sepih, Lina tanpa sengaja menyenggol seorang pelayan yang membuat nampan berisi sup hangat yang dibawanya tersebut jatuh. Karna hal itu membuat mangkuk gerabah berwana coklat berisi sup itu pecah berkeping-keping.
"Oh, maafkan aku. Aku tidak sengaja," kata Lina minta maaf.
"Kau pikir minta maaf saja tidak cukup? Lihat apa yang telah kau lakukan. Ini adalah mangkuk kesayangan tuan besar, sekarang hancur karnamu!!" bentak pelayan itu marah-marah.
"Aku akan menggantinya."
"Tidak mungkin kau bisa menggantinya! Mangkuk ini sangat mahal. Biarpun kau berkerja seumur hidup disini itu tidak akan cukup untuk menggantinya! Apa kau tahu, mangkuk ini adalah pemberian nyonya sebagai hadiah ulang tahun tuan besar tiga tahun yang lalu!!"
"Nyonya Sara maksudmu?"
"Tentu saja, siapa lagi?!! Aku akan memberi tahu nyonya soal ini agar ia bisa mengusirmu ke dalam hutan dan berakhir di makan hewan buas!!" tunjuk pelayan itu pada Lina.
"Oh, begitu."
"AARRGH ! ! !" teriak pelayan itu kesakitan sambil memengangi bagian wajahnya yang terluka. "Be, berani sekali kau melukai wajahku!!! ARGH!"
Satu goresan lagi mendarat di sisi lain pipi pelayan tersebut. Darah benar-benar telah memenuhi memenuhi wajahnya sampai menetes di lantai. Seperti tanpa rasa bersalah, Lina cuman melihati pelayan itu dengan raut wajah dingin.
"Kau! Aku akan membalasmu!"
Pelayan itu memungut pecahan mangkuk dan hendak menyerang Lina, namun gerakannya terlalu lambat. Lina sudah menggores pergelangan tangan pelayan tersebut yang menyebabkan pecahan mangku di tangganya terlempar jauh.
"AAAAA ! ! !" teriak pelayan itu lagi. Ia mencengkram kuat pergelangan tangannya yang terluka.
"Kau ingin aku melukai bagian yang mana lagi?" tanya Lina tanpa mengubah ekspresinya.
"Kau pikir dirimu itu siapa?!! Berani sekali kau melukai salah seorang di rumah ini tampa alasan!"
__ADS_1
"Alasan? Aku mamang tidak perlu alasan untuk melukaimu!" Lina kembali menggores wajah pelayan tersebut yang kali ini melukai mata kirinya.
"ARGH!"
Tidak cukup sampai disitu, Lina juga menendang pelayan itu sampai tersungkur ke lantai. Kemudian Lina menginjak jari pelayan itu yang membuatnya menjerit kesakitan.
"AAAAAH ! ! !"
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Lina. Kini sebelah kakinya telah berpindah ke dada pelayan itu, menahannya agar tidak berdiri.
"Nyonya tidak akan perna memaafkanmu. Dia pasti akan membunuh mu!! Kau itu cuman wanita rendahan yang dipunggut tuan muda karna belas kasihan. Baru sedikit mendapat perlakuan baik kau sudah menggangap dirimu sebagai tuan rumah disini! Sadarlah! Kau itu cuman wanita kotor! Berpura-pura hilang ingatan agar bisa hidup mewah. Aku yakin sekali kau itu pasti berasal dari klub-klub malam, wanita penghibur! Dan anak dalam kandunganmu..."
Bugk!
Kaki Lina sudah duluan mendarat di wajah pelayan tersebut sebelum ia menyelesaikan kaciannya.
"Sebagai pelayan kau itu banyak ngomong juga ya."
"Lepaskan aku wanita gila!!!" bentak pelayan itu. Ia berusaha melepaskan diri.
"Baik. Akan aku lepaskan kau dari..."
"Velia!" panggil Samuel membuat Lina menoleh.
"Samuel?!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε