Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Sandiwara


__ADS_3

"Dia tidak berbohong. Wajahnya pucat sekali. Jika dia memang berakting, mana mungkin wajahnya akan sepucat ini. Aku akan membantu membawanya ke ruang kesehatan," Alwen meraih tubuh Julia dari pangkuan Febby dan mencoba mengangkatkannya.


"Aku akan beritahu kakaknya soal ini," Nisa mengeluarkan hpnya lalu menelpon Julius.


"Iya. Telpon dia sekarang juga."


Beberapa kali Nisa menelpon Julius namun tidak bisa. "Telponnya tidak aktif."


"Kalau begitu kita harus menemuinya secara langsung," saran Febby.


"Serahkan saja itu padaku. Kalian cepatlah bawa Julia ke ruang kesehatan!" teriak Wendy sambil bergegas berlari pergi.


"Rica, Delfa. Aku akan mengurus kalian nanti. Jangan coba-coba untuk lari dari hukuman atau kalian akan mendapatkan hukuman tambahan," ancam Alwen.


"Ha?! Kenapa aku juga?" kata Delfa tidak terima dengan keputusan Alwen.


"Karna kau membiarkan temanmu berkelahi dan malah mendukungnya."


Alwen membopong Julia menuju ruang kesehatan yang ada di lantai Lima, dua lantai dibawah mereka. Sedangkan Febby dan Nisa mengikuti dari belakang meninggalkan Rica dan Delfa yang terlihat sangat kesal karna harus menerima hukuman. Mereka tidak mengira kalau Alwen akan datang sebagai ketua osis.


"Rasakan itu Rica, Delfa. Beraninya mengganggu nona ini. Selamat menikmati hukuman kalian. Bersihkan sampai bersih, ya... Hihi..." kata Julia dalam hati. Ia terus melanjutkan aktingnya sampai pura-pura tidak sadarkan diri.


Sementara itu Wendy benar-benar kesulitan mencari Julius di lingkungan sekolah yang luas ini. Sambil berlari, Wendy pergi menuju tempat-tempat dimana Julius sering berada. Seperti tempat yang jarang di datangi siswa atau siswi lainnya. Suasana yang sepi dan tenang merupakan tempat kesukaan Julius. Selain berguna untuk menghindar dari para siswi yang sering mengganggunya, tempat seperti itu juga sangat cocok untuk berlatih bermain biola. Berkat suara biola tersebut Wendy berhasil menemukan Julius di dekat danau.


"Julius! Akhirnya aku menemukan mu," teriak Wendy dengan nafas terengah-engah.


Julius seketika menghentikan permainannya. "Ada apa Wendy? Darimana kau sampai berlari kesini?"


"Ju... Julia pingsan."


"Apa?!" Julius sangat kaget mendengarnya karna jarang-jarang Julia bisa pingsan. Ia mengeluarkan hpnya dan mencoba menghidupkannya. "Astaga hpku mati lagi. Pantas saja aku tidak mendapat pemberitahuan dari sistem yang ada pada jam tangan Julia."


Selain memasang alat pelacak, Julius juga menyematkan sensor pendeteksi kesehatan tubuh. Dengan ada sensor ini, Julius dapat mengetahui kondisi kesehatan dari seseorang yang memakai jam tangan tersebut. Semua ini ia lakukan demi mempermudah tugasnya dalam menjaga adiknya yang nakal itu. Tapi hari ini Julius telah lalai membiarkan hpnya kehabisan daya.


"Dimana dia sekarang?" tanya Julius sambil memasukan kembali hpnya ke saku jas seragamnya.


"Alwen membawanya ke ruang kesehatan," jawab Wendy.


Begitu tahu dimana Julia berada, Julius menyodorkan biolanya pada Wendy lalu berlari pergi. Wendy sempat bingung sesaat menerima biola tersebut. Namun matanya langsung tertuju pada tas biola yang tergeletak tak jauh darinya. Ia segera memasukan biola itu dalam tasnya lalu bergegas menyusul Julius.

__ADS_1


"Hei... Tunggu aku!"


Jarak dari danau ke ruang kesehatan lumayan cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki dan melelahkan. Tapi bagi Julius, itu tidaklah seberapa. Ia bisa sampai dengan cepat ke ruang kesehatan tanpa lelah sedikitpun.


"Julia!" panggilnya saat menerobos masuk ruang kesehatan.


"Dia sungguh datang," Julia yang baru hendak mengakhiri aktinya dibuat terpaksa melanjutkannya lagi. "Aku harap kakak tidak tahu kalau aku sedang berpura-pura."


Terlihat Julia masih terbaring di ranjang yang tersediakan di ruang kesehatan tersebut. Julius berjalan mendekat dan mengambil tempat duduk disebelah ranjang itu. Ditatapnya dengan cermat wajah yang sedang memejamkan mata itu.


"Syukurlah kau cepat datang Julius," ujar Nisa yang memberikan tempat duduknya.


"Wajahnya memang sedikit pucat... Tapi..." batin Julius. Ia mulai mencurigai kebohongan yang Julia lakukan.


"Hosh.... Hosh... Ju-Julius, kau... Larinya cepat sekali," kata Wendy yang baru sampai. Ia langsung terduduk di lantai melepas lelah. Nafasnya benar-benar terdengar berat.


"Kau terlihat kacau, Wendy," Febby menghampiri Wendy dan menyerahkan segelas air padanya.


Wendy menerima gelas itu lalu meneguk habis airnya. "Terima kasih Febby."


"Merasa lebih baik?"


Wendy mengangguk sebagai jawaban. "Oh, iya. Dimana Alwen?" tanyanya begitu tidak melihat Alwen di ruang kesehatan itu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Julius setelah melakukan pemeriksaan pada denyut nadi Julia.


"Dokter Martha sudah memeriksa kondisinya. Ia mengatakan kalau Julia tidak apa-apa. Ini mungkin faktor kelelahan yang menyebabkan staminanya menurun. Tapi kami masih khawatir karna Julia masih belum sadarkan diri," jelas Nisa.


"Detak jantungnya meningkat cukup cepat dari biasanya. Ini tidak baik."


"Eh? Apa maksudnya tidak baik?" kata Julia dalam hati.


"Apa yang terjadi Julius? Julia baik-baik saja, kan?" tanya Nisa kembali khawatir.


Julius menggeleng. "Dia berbohong pada kalian. Sebenarnya julia menderita suatu penyakit yang menyebabkan ia harus minum obat rutin seminggu sekali. Dia pasti lupa minum obatnya minggu ini."


"Sembarangan! Aku tidak perna lupa minum obat ku walau rasanya sangat pahit."


"Lalu bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" ujar Wendy.

__ADS_1


"Apa sebaiknya kita bawa Julia ke rumah sakit sebelum terlambat?" kata Febby memberi saran.


"Apa boleh buat. Karna saat ini ia sedang pingsan dan tidak bisa minum obatnya, terpaksa aku harus memberi ia suntikan untuk setiap obatnya."


"Apa?! Suntikan?"


"Apa kau yakin Julius bisa melakukannya? Menyuntik orang tidak boleh sembarangan dan lagi dia adikmu sendiri."


"Tenang saja. Mamaku adalah seorang dokter yang sangat hebat dan suatu hari nanti aku mau jadi seperti dia. Sebab itu sejak kecil aku selalu ikut mama berkerja dan belajar bagaimana menjadi seorang dokter. Walau belum memegang sertifikat, untuk urusan suntik-menyuntik ini, aku ahlinya."


"Apa itu benar? Kenapa aku merasakan firasat buruk?"


"Nisa, siapkan alat suntik sekitar lima buah, kapas dan alkohol pembersih luka."


"Baik," Nisa bergegas menyiapkan apa yang diminta Julius tanpa menaruh curiga.


"Lima jarum suntik? Apa itu tidak terlalu banyak?" tanya Wendy pada Julius.


"Tidak. Itu sangat cukup untuk masing-masing obatnya."


"Apa kakak mau mencoba membunuhku?"


Tak butuh waktu lama bagi Nisa kembali dengan semua barang yang diminta. "Ini jarum suntik dan alkohol pembersih lukanya."


"Terima kasih Nisa."


"Sama-sama."


Setelah menerima semua barang-barang tersebut, Julius meletakanya pada meja kecil yang ada di samping tempat tidur. Ia meraih botol alkohol pembersih luka lalu membukanya. Diteteskannya sedikit alkohol di atas permukaan kapas. Setelah itu barulah Julius usapkan di tangan Julia untuk membersihkan area yang hendak di suntik nanti.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2