Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ayok berangkat


__ADS_3

Daniel sudah ada di lantai dua dan tepat berdiri di depan pintu kamar bayi yang bersebelahan dengan kamarnya. Kamar itu telah di rancang dan dihias khusus untuk menyambut kelahiran bayi mereka nanti. Karna kegugupan Lina saat menjelang waktu persalinan membuatnya tidak perna masuk ke kamar tersebut. Tapi hari ini sepertinya ia berusaha melawan kegugupannya itu.


Daniel membuka pintu perlahan dan melihat Lina yang duduk manis membelakangi. Ia sepertinya sedang melihat-lihat pakaian bayi. Daniel berjalan menghampiri Lina dan langsung melingkarkan tangannya di perut Lina sambil megelusnya.


"Ah, tumben kau pulang jam segini."


"Kau sedang melihat-lihat pakaian bayi. Apa kau sudah tidak gugup lagi?"


Lina menegakkan pinggangnya. "Kegugupanku masih akan terus ada sampai aku merasakan konstraksi pertamaku. Namun sebenarnya aku sedikit menantikan hal ini. Aku sudah tidak sabar melihat mereka lahir ke dunia. Menggendong mereka, mencium mereka, melihat senyum, tawa serta tangis mereka."


"Aku juga menantikan itu," Daniel berpindah tempat lalu berjongkok di hadapan Lina. Ia menempelkan pipinya di perut Lina sambil mengelusnya. "Dia menendang."


"Kau membangunkan mereka."


"Apa aku mengganggu?"


"Tidak. Sudah sewajarnya mereka bangun sekarang. Mereka cukup tenang hari ini. Ugh!"


"Dia menendang lagi."


"Aku tebak mereka akan sangat manja padamu."


"Tidak apa. Aku akan memanjakan mereka. Akan kupenuhi semua kemauannya karna ia pantas mendapatkan yang terbaik."


"Jadi kau bisa memberitahu ku, kenapa kau pulang jam segini? Karna aku yakin ada yang ingin kau sampaikan secara langsung padaku," tanya Lina mengalihkan pembicaraan.


"Oh, iya. Aku hampir lupa. Aku mau memberitahu mu kalau umpan kita sudah dimakan."


"Sungguh?"


"Iya. Menurut informasi dari mata-mata yang kita tempatkan diantara anak buahnya, Violet saat ini sedang dibawa ke markas mereka yang tersembunyi jauh di tengah-tengah hutan."


"Kalau begitu kita harus siap-siap. Aku akan ganti baju dulu dan meminta Emma dan Judy mempersiapkan semuanya."


"Apa kau yakin mau ikut?"


"Sangat yakin. Aku janji tidak akan terjadi sesuatu padaku. Istrimu ini bukanlah gadis lemah. Mau bagaimanapun kondisiku aku masih bisa melindungi diriku sendiri."

__ADS_1


"Hah... Baiklah," Daniel membantu Lina berdiri. "Jika terjadi sesuatu padamu aku pasti tidak perna memaafkan diriku sendiri."


"Kau juga harus berhati-hati."


Dengan satu tangan dipinggangnya, Lina menarik dasi Daniel sampai membuat wajah mereka sangat dekat. Daniel membalas dengan merangkul pinggang Lina dan menariknya mendekat. Daniel bisa merasakan gerakan bayi yang ada dalam kandungan Lina.


"Kau mengkhawatirkan orang yang salah," bisik Daniel.


"Apa kalian sudah selesai?"


Daniel dan Lina sedikit tersentak mendengar suara itu. Mereka menoleh dan melihat Via berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya di dada.


"Via, sejak kapan kau ada disana?" Lina sedikit mendorong Daniel menjauh.


"Coba aku ingat-ingat. Em... Mungkin sejak 'mereka bangun'."


"Itu berarti kau sudah lama ada disitu."


"Ada perlu apa Via? Kau menggangu kesenanganku."


"Kami?" kata Lina bingung.


"Aku sungguh iri melihat kemesraan kalian," kata Briety yang muncul dari balik pintu bersama dengan Rayner. "Tidak aku sangka ternyata purtaku bisa begitu perhatian pada istrinya. Ayahmu saja tidak perna seperti itu padaku," lirik Briety pada suaminya yang ada disampingnya.


Rayner menarik tangan istrinya itu dengan tangan yang lain merangkul pinggang Briety. "Oh... Maksudmu perlakuanku kurang romantis padamu, gitu?" bisik Rayner di telinga Briety.


"Rayner, jangan di depan anak-anak," Briety memalingkan mukanya yang merah.


"Ternyata kalian juga ada disini," ujar Daniel.


Mereka kini bersiap-siap. Ditemani Via, Lina mengati bajunya dengan Black leather catsuit Walau terlihat ketat tapi pakaian tersebut sama sekali tidak menyulitkan Lina, dan juga pada bagian perut sudah di disain agar yaman untuk Lina. Dengan pakaian tersebut ia mala lebih leluasa bergerak dari pada mengenakan pakaian longgar yang dimana membuatnya harus senantiasa menopang kandungannya yang berat.


Rayner, Briety dan Daniel mempersiapkan persenjataan serta amunisi dan perlengkapan lainnya. Daniel juga memberi arahan lagi pada anak buahnya agar semuanya berjalan lancar dan mengerti tugas mereka masing-masing.


Sedangkan Judy dan Emma, mereka sudah tidak sabar menantikan hal ini. Setelah sekian lama akhirnya mereka dapat beraksi lagi seperti dulu. Senjata laras panjang kesayangan mereka yang merupakan hadiah dari Rayner akan menjadi senjata yang mereka gunakan. Tidak lupa Emma dan Judy juga mempersiapkan racun yang telah dibuat Lina dua minggu terakhir ini. Racun tersebut khusus di persiapkan untuk hari ini.


Setelah semuanya siap, mereka berangkat. Daniel sengaja kali ini membawa mobil sendiri. Sebuah mobil Ferrari superfast memimpin beberapa mobil lainnya. Daniel menancap gas menuju lokasi yang diberikan mata-matanya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan ayah? Dia mana dia?" tanya Lina disaat mobil kini melaju menuju lokasi.


"Tn. Cershom sudah duluan kesana."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Violet membuka matanya perlahan setelah efek dari obat bius itu sudah hilang. Ia saat ini sedang dalam keadaan terikat di sebuah kursi kayu. Tubuhnya masih lemah untuk menyadari apa yang ada disekitarnya.


"Dimana ini? Bagaimana bisa aku ada disini?"


"Sudah sadar, keponakanku," kata seorang pria yang duduk di sofa tepat di depan Violet. Ia menghembuskan asap rokoknya ke udara. Terdapat beberapa anak buahnya yang berdiri dibelakangnya.


Betapa terkejutnya ia begitu mengetahui siapa itu. "Paman Stevan?! Apa-apaan ini paman Stevan! Kenapa kau menculikku?" Violet berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya namun usahanya sia-sia karna ikatannya kuat sekali.


"Kenapa? Tidak ada sayang. Aku cuman becanda saja denganmu," Stevan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah Violet. "Maaf. Aku pasti membuatmu takut," ia menyentuh dagu Violet dan mengangkatnya dengan lembut.


"Tidak. Becanda paman terlalu berlebihan. Mohon lepaskan aku. Hiks..." Violet memohon dengan air mata mengalir.


Violet tahu betul kalau itu bukanlah candaan semata. Ia mengenal Stevan lebih dari orang lain ketahui. Stevan adalah sosok berdarah dingin dan kejam menurutnya. Sewaktu kecil, dihari kunjungan pertamanya dirumah Stevab. Violet tampa sengaja melihat Stevan membunuh seseorang dengan sangat sadis. Diruang bawah tanah penuh darah dan potongan tubuh manusia yang berserakan. Di sana lah Violet melihat Stevan memutilasi seseorang. Ia benar-benar takut saat itu. Apa lagi begitu Stevan menoleh dan berjalan mendekatinya. Wajah penuh bercak darah korbannya itu tersenyum melihat Violet yang berdiri kaku tak bergerak sangking takutnya. Stevan berjongkok di depan Violet sambil membelai wajah Violet yang pucat basi. Bau amis darah terasa menusuk hidung Violet.


"Sstt..."


Stevan memberi isyarat pada Violet untuk tidak memberitahu siapapun atas apa yang ia Lihat. Violet cuman menganguk pelan dengan air mata mengalir diujung matanya. Sejak saat itu Violet sangat takut bertatap muka dengan Stevan secara langsung. Walau sudah sekian tahun bayangan dari kejadian tersebut masih menghantui Violet. Ia tidak perna memberitahu siapapun soal ini termasuk ayahnya. Kejadian itu dipendapnya sendiri jauh dalam pikirannya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2