
Seperti yang dia harapkan Wendy dan Febby. Rica dan ibunya benar-benar kaget melihat perubahan penampilan dari Nisa. Sangking kaget nya, garpu yang dipegang sampai Rica terjatuh dan menimbulkan suara nyaring begitu menghantam lantai.
"Kau tanpa berbeda hari ini sayang. Kau terlihat lebih cantik dari biasanya." puji Tn. Pinkston pada putrinya, Nisa.
"Terima kasih ayah."
"Ibu, itu bukanlah gaun yang ibu berikan padanya, kan? Kenapa dia memakai gaun berbeda?" bisik Rica pada ibunya.
"Ibu juga tidak tahu. Sepertinya teman-teman Nisa sudah menyadari tentang gaun itu dan dengan cepat menggantinya."
"Sial! Kenapa selalu saja gagal!" gerutu Rica kesal.
"Silakan dinikmati hidangannya nona-nona," kata Zack dengan ramahnya.
"Terima kasih tuan.."
"Zack, panggil saja begitu."
"Baik. Tn. Zack," ujar Julia berusaha untuk tersenyum.
"Aku tidak suka tatapan paman Rica pada kita," bisik Febby pada Julia.
"Iya. Tatapannya benar-benar menjijikan," sambung Wendy berbisik.
"Aku malah lebih tidak nyaman dengan pria disebelahnya."
"Aku merasakan firasat buruk dari mereka."
"Kita lihat dulu situasi selanjutnya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan."
"Baiklah. Tapi, apa boleh kami memakan ini?" tanya Wendy.
"Silakan. Tidak ada apa-apa di makanannya, tapi nanti sebaiknya kalian memilih air dalam kemasan yang masih tersegel dari pada minuman yang mereka tawarkan."
"Siap bos," kata mereka serempak.
"Em... Ngomong-ngomong Nisa, kenapa kau tidak mengenakan gaun yang ibu siapkan?" tanya Ny. Pinkston.
"Eh..." Nisa dibuat bingung harus jawab apa.
"Ah, maafkan saya Ny. Pinkston," kata Julia tiba-tiba membuat semua menoleh padanya. "Tadi saya tanpa sengaja menumpahkan minuman ke gaun Nisa yang menyebabkan gaunnya kotor. Saya sungguh minta maaf atas kecerobohanku. Saya pasti akan mengganti gaunnya."
"Tidak apa-apa. Aku cuman bertanya-tanya kenapa Nisa mengenakan pakaian berbeda. Ternyata begitu ceritanya."
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan saya Ny. Pinkston," Julia menyatukan kedua tangannya sebagai bentuk ketulusan nya.
"Tidak perlu sampai segitunya. Mari nikmati lagi pejamuannya."
"Iya."
Acara makan bersama berlanjut. Tidak ada percakapan lain diantara mereka selain percakapan umum seperti, bagaimana hari-hari mereka disekolah? Kegiatan apa saja yang sering dilakukan? Menanyakan status keluarga masing-masing dan beberapa hal lainnya sampai percakapan tersebut mempertanyakan hal yang seharusnya tidak dibahas oleh anak-anak remaja seperti mereka.
"Tn. Zack, saya dengar dari Rica bahwa anda memiliki kenalan dari anggota Black Mamba. Bisa anda kenalkan pada saya?" kata Yusra tanpa basa basi lagi.
"Anggota Black Mamba? Siapa?" Julia seketika melirik Yusra lalu beralih pada Zack. Ia cukup terkejut disaat Yusra berkata seperti itu.
"Ah, maafkan saya tuan muda Arlo, seharusnya saya memperkenalkan kalian dari awal," Zack menepuk pundak pria disebelahnya lalu berkata. "Tuan muda Alro, saya perkenalkan padamu teman saya dari anggota Black Mamba, Tn. Norman."
"Ffrttt.... Uhuk! Uhuk!" Julia seketika tersedak begitu tahu anggota Black Mamba yang dimaksud adalah pria di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa Julia?" tanya Nisa khawatir.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku cuman tersedak. Maafkan aku," Julia mengambil selembar tisu lalu menyekat mulutnya. "Astaga, tadi itu sungguh membuatku kaget. Sejak kapan penyamaran paman Norman jadi jelek begini?"
Yusra mengulurkan tangannya menjabat tangan Norman. "Kalau begitu, salam kenal Tn. Norman. Saya Yusra, putra pertama dari keluarga Alro."
"Saya sudah mendengar banyak tentang anda berserta keluarga anda dan kehebatan anggota Drogon."
"Dengan senang hati."
Wendy menyolek Nisa, kemudian berbisik di telinganya. "Nisa, anggota Black Mamba itu apa?" tanyanya sendikit penasaran dengan arah percakapan Yusra dan Norman.
"Aku juga tidak tahu," jawab Nisa balas berbisik.
"Tidak perlu pusingkan itu. Bukan urusan kita juga toh," kata Julia sambil menikmati kudapan manis yang dihidangkan pelayan. Walaupun ia berkata begitu namun Julia tetap mendegarkan percakapan Yusra dan Norman.
"Maaf nih Tn. Norman, bukannya saya meragun. Setahu saya setiap anggota Black Mamba memiliki tanda pengenal sebagai keanggotaan mereka, apa boleh saya melihatnya?" kata Yusra.
"Tentu saja boleh."
Norman merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari dopetnya. Sebuah lencana persegi berwarna keperakan dan berukir ular Black Mamba dengan mulut terbuka memperlihatkan taringnya. Dibalik lencana tersebut juga berukir nama 'Norman'.
"Tanda pengenal itu asli dan memang miliki paman Norman, tapi kenapa aku sedikit ragu kalau dia memang paman Norman? Coba aku tanya langsung saja deh," batin Julia.
Untuk membuktikan apa benar orang yang di depannya ini adalah Norman yang ia kenal atau tidak, Julia permisi ke toilet semua. Ia berencana menelpon Norman dan menanyakan langsung hal ini. Sampai di toilet ia segera mengeluarkan hpnya dan menelpon Norman. Tak membutuhkan watuk lama telpon diangkat.
"Halo. Ada yang bisa saya bantu nona Julia? Tumben menelpon."
__ADS_1
"Eh, begini paman Norman, Julia cuman mau tanya. Sejak kapan penyamaran paman Norman jadi begitu jelek?"
"Hah? Apa maksud nona Julia? Saya tidak dalam misi penyamaran."
"Oh?! Jadi... Kalau begitu... Apa paman Norman kehilangan tanda pengenal?"
Norman sedikit tersentak mendengarnya. Ia sangat yakin tidak perna memberitahu hal ini pada siapapun. "Dari mana nona tahu? Aku mohon jangan beritahu papamu soal ini. Saya bisa dihukum sangat berat karna telah ceroboh menghilangkan tanda pengenal tersebut."
"Paman Norman tenang saja, aku tidak akan beritahu papa. Julia cuman mau mengatakan, ada seseorang yang menyamar sebagai paman disini. Ia memengan kartu tanda pengenal milik paman yang membuat semua orang percaya kalau dia adalah anggota Black Mamba. Orangnya jelek sekali," jelas Julia.
"Apa?! Dimana nona Julia sekarang?"
"Di restoran Moon di pulau Balvana."
"Baik. Saya akan segera kesana. Kebetulan saya berada di kota terdekat dari pulau Balvana."
"Cepat datang ya paman. Julia menantikan pertunjukan menarik."
"Setengah jam paling lambat."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Dalam 10 ronde permainan Roulette, Julius telah memenangkan tujuh kali dan tiga kekalahan. Sementara lawannya yang kalah merasa tidak terima. Ia meminta untuk bermain 5 ronde lagi. Julius segera menyetujuinya karna melihat kesadaran lawannya masih terjaga. Pertaruhan itu semakin seru bagi para penonton. Mereka malah memasang taruhan siapa pemenang dan kalah dari permainan itu.
Dari 5 ronde tambahan ini Julius sudah memenangkan dua kali berturut-turut dan lawannya juga menang dua kali dari 4 ronde yang ada. Tinggal satu ronde lagi sebagai penentuan.
"Hahaha... Kau akan kalah kali ini, bocah!" kata pria itu yang sudah dalam keadaan mabuk.
"Kita lihat kan saja nanti."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1