
"Me, mereka baru saja membunuh seseorang. Aku sewaktu seumuran mereka baru belajar menembak," kata Samuel yang membandingkan dengan dirinya dulu.
Lina memang sangat terkejut atas apa yang terjadi tapi ia lebih tersentak lagi dengan ekspresi Julius dan Julia. Ekspresi dingin dan tenang dari Julius serta raut wajah tak bersalah tapi penuh darah dari Julia membawa sisa ingatan Lina yang hilang, walau masih dalam keadaan acak. Mata Lina mulai berlinang.
"Semuanya tangkap mereka! Jangan biarkan mereka lolos!" perintah pria tersebut memanggil anak buahnya.
"Lari!"
Teriak Samuel namun Lina masih mematung di tempat. Samuel terpaksa menarik tangan Lina pergi dari tempat itu. Beberapa orang mulai membondong-bondong datang. Julius kembali menembakan bola hitam tapi kali ini ia melemparkannya ke arah orang-orang yang datang. Ledakan dari bola itu tidak mengeluarkan asap seperti sebelumnya namun menghasilkan gas beracun yang membuat kerusakan pada sistem pernapasan apabila terhirup. Lina tahu itu. Dengan cepat ia menutup mulut serta hidung Samuel menggunakan sapu tangan yang di kenakan seperti masker.
Tidak mau kalah dari anak-anak, Samuel mengeluarkan pistol nya dan mengambil kesempatan menembaki orang-orang tersebut. Mereka berhasil keluar dan turun ke lantai bawah. Namun kemalangan terjadi. Karna kepala Lina masih diserang rasa pusing membuat ia tersandung kakinya sendiri dan akhirnya terjatuh. Beruntung posisi terjatuhnya Lina tidak terlalu membahayakan kandungannya.
"Velia!"
"Mama!"
Samuel, Julius dan Julia hendak menolong Lina namun sudah keduluan Sara yang ternyata menggunakan lif berbeda. Ia telah menarik Lina berdiri dan merangkulkan tangannya di leher Lina. Lina berusaha merenggangkan rangkulan tangan Sara agar bisa bernafas.
"Lepaskan Velia, Sara!" bentak Samuel sambil mengacungkan pistol nya.
"Memang apa yang bisa kau lakukan tuan muda dari keluarga tersembunyi," kata kekasih Sara yang berjalan mendekat.
"Paman berasal dari keluarga tersembunyi?!" kata Julius yang terkejut.
"Anak-anak seperti kalian saja bahkan tahu tentang keluarga tersembunyi. Siapa kalian sebenarnya?" tanya Samuel pada Julius dan Julia.
"Paman pasti tidak akan menyangka."
"Kita bahas itu nanti. Bagaimana caranya menyelamatkan mama?" tanya Julia yang khawatir.
"Buang senjatamu Samuel! Aku janji dia akan baik-baik saja," ujar Sara sambil melirik Lina.
"Tidak Samuel! Pergilah dari sini bersama mereka! Jangan khawatirkan aku," teriak Lina dengan susahnya.
"Kami tidak akan meninggalkan mama!" teriak Julius dan Julia bersamaan.
"Itu benar Velia. Kami tidak akan meninggalkanmu! Tidak akan perna! Sara, aku bersedia menggantikan posisinya, tapi biarkan mereka pergi dari sini," kata Samuel mencoba bernegosiasi.
"Melihat itu pasti membuatmu terharu, kan nona?" kata kekasih Sara yang sudah berdiri disamping Lina.
"Apa yang telah kau lakukan pada tuan muda ini Velia sampai dia bersedia bertukar posisi denganmu?"
__ADS_1
"Itu tidak membuatku terharu sama sekali, mala membuatku jengkel. Tapi apa boleh buat. Itu bentuk kepedulian mereka padaku."
"Kau terlihat tenang sekali Velia. Apa kau tahu kalau aku dapat membunuh mu dengan sangat mudah disini," ancam Sara.
"Aku tahu itu. Tapi sebelum kau membunuh kami, sebaiknya kau berpikir sebentar."
"Apa yang perlu kupikirkan lagi? Apa kau sedang mengulur waktu?"
"Tidak ada gunanya juga mengulur waktu. Aku cuman ingin memberitahu mu kalau aku memiliki resep obat untuk menghilangkan wajah keriputmu itu."
"Kau jangan coba-coba untuk membodohiku!" Sara memperkuat cengkramannya membuat Lina kesulitan bernafas.
"Sara!!!" teriak Samuel dengan tatapan membunuh.
"Jangan perna berpikir untuk menarik pelatuknya, Samuel. Senjataku lebih dekat menembus kepalanya," pria itu menodongkan senjata tepat ke kepala Lina.
"Kakak, bagaimana ini? Kita harus membantu mama," pinta Julia pada kakaknya dengan sangat sedih.
"Aku yakin mama punya rencana. Tapi aku juga tidak sanggup melihat mama terus seperti ini."
"Kita harus pikirkan cara."
"Em..." Julius berusaha berpikir keras sampai tiba-tiba ia berteriak. "Oleander! Mamaku seorang Master ahli racun Oleander!"
"Haa... Haa..." Lina mengatur nafasnya yang sempat tersendat.
"Tidak mungkin si Oleander yang misterius itu adalah seorang wanita muda sepertimu," Sara masih terlihat tidak percaya.
"Itu memang benar, mamaku adalah Oleander. Selain ahli dalam meracik racun, mama juga sangat pandai membuat obat-obatan dan produk kecantikan," kata Julia meyakinkan.
"Kau bisa mempercayai ku sepenuhnya. Kebetulan sekali disini aku membawa ekstrak tinggi dari biji Phaleria macrocarpa. Itu sangat baik untuk kulit wajahmu," kata Lina sambil mengangkat kantung berisi bahan obat-obatannya yang ternyata masih ia bawa.
"Aku tidak akan tertipu. Bagaimana kalau yang kau berikan padaku itu adalah racun bukannya obat?" Sara masih meragukan.
"Kepercayaan memang sulit dibentuk. Begini saja. Aku juga akan memakannya. Aku tidak akan mungkin meracuni diriku sendiri, bukan?"
"Em... Baiklah. Tapi kau duluan yang memakannya," Sara melepaskan Lina.
"Tidak masalah."
Lina mengeluarkan ekstrak biji Phaleria macrocarpa yang ia maksud dari kantung belanjaan dan langsung memakannya. Lina membuka mulutnya sambil menjulurkan lidah untuk membuktikan kalau dia benar-benar memakannya. Sara masih terlihat ragu. Ia meneliti kapsul yang berisi ekstrak biji Phaleria macrocarpa itu. Tapi walaupun begitu ia yakin kalau kapsul tersebut tidak akan mungkin membunuhnya karna Lina benar-benar telah memakannya juga. Ia menelan kapsul berwarna hijau tersebut.
__ADS_1
"Apa yang sedang direncanakan Velia sebenarnya?" pikir Samuel. Ia tidak menurunkan pistol nya sama sekali.
"Tuan juga boleh mencobanya. Selain untuk kesehatan kulit, ini juga bisa..." Lina melirik ke kancing terakhir dari kemeja pria di sampingnya lalu kembali melihat ke wajah pria itu yang sudah memalingkan muka.
"Uhuk... Berikan itu padaku," kata pria itu tanpa melihat Lina.
"Inidia tuan," Lina memberikan kapsul yang sama pada pria tersebut.
"Kak, apa yang mama berikan itu benaran obat?" tanya Julia berbisik.
"Kau perhatikan saja mereka dalam 3... 2... 1..."
Tepat setelah Julius menjentikkan jarinya, Sara dan pria itu tersungkur ke lantai tidak sadarkan diri. Efek racun dari biji Phaleria macrocarpa telah berkerja. Melihat hal itu Samuel, Julius dan Julia bergegas menghampiri Lina yang tiba-tiba terduduk di lantai.
"Velia kau baik-baik saja?" tanya Samuel.
"Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Kaki ku cuman sedikit lemas," Lina memberi senyum untuk memberitahu kalau keadaannya baik.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?" lirik Samuel pada Sara dan pria tersebut.
"Mereka cuman pingsan."
"Racun dari biji Phaleria macrocarpa memang bisa membuat seseorang pingsan jika mengkonsumsinya," jelas Julius.
"Racun? Tunggu dulu. Bukankah kau juga memakannya Velia?"
"Tenang saja. Tubuhku ini kebal terhadap semua jenis racun."
"Syukurlah kalau begitu. Aku akan menghubungi seseorang untuk membereskan mereka dan seluruh bawahannya. Mereka harus membayar atas semua perbuatan mereka terutama Sara," Samuel mengeluarkan hpnya dan menelpon anak buahnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε