Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menguliti


__ADS_3

"Jangan berpikir untuk kabur, karna itu tidak akan mungkin terjadi," kata Lina membuat Stevan sedikit tersentak.


"Apa gadis ini bisa membaca pikiran? Bagaimana ia bisa menebak pasti apa yang aku pikirkan?"


"Berikan belatimu padaku. Sebelum kita pergi, aku perna bilang ingin megulitinya," kata Lina pada Daniel.


"Ini belatinya sayang," Daniel memberikan belati bersarum hitam ke Lina.


"Terima kasih."


Lina menerima belati itu. Ditariknya belati tersebut dari sarumnya. Tampaklah sebuah belati multifungsi yang mengkilap nan tajam. Untuk pertama kalinya Stevan begidik ngeri melihat senyum Lina yang terpantul dari belati tersebut. Lina berjalan mendekati tangan kanan Stevan yang terantai di tembok.


"Siap Tn. Stevan?" tanya Lina sambil mulai menggores tipis tangan Stevan menggunakan belati. "Sebagai orang yang berdarah dingin kau pasti tidak takut, bukan?"


"Seharusnya aku membunuh sejak kau lahir!!" bentak Stevan dengan raut wajah menahan perih disaat kulit tangannya mulai terkelupas.


"Kalau aku tahu sejak awal jati diriku, penyebab kematian ibu dan kau yang membunuhnya," Lina berjalan pelan ke tangan Stevan yang lainnya. "Aku bisa pastikan kau mendapatkan siksaan yang lebih sadis lagi dari pada ini!!"


Lina lanjut mengguliti tangan kiri Stevan dari siku sampai pergelangan tangan. Darah telah menyelimuti daging yang telah kehilangan kulit itu. Tubuh Stevan terkadang menggeliat setiap kali belati tersebut menggores kulitnya, dan sesekali juga matanya terpejam dengan tangan mengepal kuat menahan sakit. Selesai menguliti kedua tangan Stevan, Lina beralih menguliti kedua kaki pamannya itu. Tetasan darah kini membuat genangan di lantai.


"Selesai. Itu akan tampak cantik nantinya."


"Kau berlumuran darah lagi. Sebaiknya bersihkan dirimu dulu sebelum kita pergi," saran Daniel sambil membatu Lina berdiri.


Lina menatap telapak tangannya yang berlumuran darah. "Aku rasa kau benar. Akan gawat kalau ibu melihatku seperti ini."


"Bagus. Aku akan membantumu..."


"Aku cuman perlu mencuci tangan dan mengganti bajuku, bukannya mandi. Jadi tuan, urungkan saja niat nakalmu itu," potong Lina yang mengerti betul isi kepala Daniel.


"Apa kau sungguh bisa membaca pikiran?"


"Tidak perlu membaca pikiran jika raut wajahmu itu mengatakan maksudmu dengan jelas."


Lina menegakan pinggangnya yang pegal dengan tanggannya akibat kandungannya yang semakin berat. Tapi karna itu ia jadi ingat kalau ada satu hadiah kecil yang belum ia berikan pada Stevan. Lina merogoh sakunya dan mengeluarkan tabung kaca kecil yang berisi cairan merah menawan seperti ruby.


"Oh, iya. Aku baru ingat. Berikan ini pada makhluk yang tergantung itu," tunjuk Lina pada Stevan setelah menyerahkan tabung kaca tersebut pada Daniel.

__ADS_1


"Apa ini? Warna merah yang cantik," Daniel memperhatikan cairan merah dalam tabung kaca. "Sepertinya aku perna melihatnya."


"Itu cuman hadiah kecil yang kusiapkan sebagai balasan karna telah melukai tuan besar Flors. Aku ingin kau yang melakukannya."


"Suatu kehormatan bagiku," Daniel menarik sumbat tabung kaca itu sambil berjalan mendekati Stevan.


"Apa yang mau kau lakukan Daniel?!!" bentak Stevan. "Jangan coba-coba..."


Belum sempat Stevan menyelesaikan kalimat nya Daniel telah memicit pipi Stevan memaksanya membuka mulut. Dituangkannya cairan merah itu ke dalam mulut Stevan sampai habis tak bersisa.


"Uhuk! Uhuk! Apa yang kau berikan padaku?"


"Itu cuman mawar berduri Tn. Stevan," jelas Lina singkat.


"Ayok bersiap-siap kucing kecil. Pertunjukan sudah mau dimulai," Daniel menggadeng tanggal Lina keluar dari penjara tersebut.


"Hei, seharusnya aku yang mengatakan itu."


Mereka berdua kembali ke kamar. Lina membersikan bekas darah yang memenuhi telapak tangannya. Di depan lemari Lina sedikit bingung mau pakai baju yang mana. Ia cukup bosan mengenakan dress longgar. Ia ingin memakai baju kaos tapi semua kaosnya tidak buat lagi untuk menutupi kandungannya. Sambil mengelus perutnya Lina berpikir sebentar. Matanya tiba-tiba tertuju pada pakaian Daniel.


Mumpung Daniel sudah turun duluan ke bawah, Lina mengambil salah satu baju kaos berwarna putih milik Daniel dan langsung mengenakannya. Kaos itu memang besar di tubuh Lina tapi pas menutupi kandungannya. Sebagai tambahan Lina mengenakan Overalls berwarna biru tua dan sepatu putih.


"Oh... Itu bukankah baju kaos ku?" tanya Daniel memastikan.


"Sekarang tidak lagi."


Mereka berangkat ke tempat pengeksekusian yang dilaksanakan di pinggir pantai tidak jauh dari vila kepemilikan Ariana. Stevan sudah duluan dibawa kesana dengan menggunakan mobil lain. Kepalanya ditutup kain hitam agar ia tidak mengetahui jalan menuju tempat pengeksekusian tersebut. Sampai disana Ducan menyambut mereka. Rayner dan Briety juga menghampiri begitu melihat mobil Daniel berhenti tidak jauh dari mereka. Sedangkan Via, ia asik bermain ombak laut dipinggir pantai.


"Dimana Tn. Stevan?" tanya Lina begitu turun dari mobil.


"Dia sudah terikat disana?" tunjuk Ducan ke halaman depan pondok bersantai.


"Apa yang kau lakukan pada tangan dan kaki Stevan, Lina?" tanya Briety. "Akukan sudah bilang agar kau tidak melakukan apapun. Kau harus istirahat."


"Aku cuman menguliti nya sedikit. Lagi pula aku juga sudah cukup beristirahat."


Ekspresi Lina seperti seorang gadis kecil yang habis dimarahi ibunya. Oo... Mata itu membuat semua orang tidak bisa marah padanya. Mereka yang melihat ekspresi imut itu sedikit memalingkan muka, termasuk Daniel. Ia menghalagi wajahnya menggunakan sebelah tangan.

__ADS_1


"Ada apa dengan kalian?" tanya Lina yang kebingungan.


"Oh... Sayang. Kau tidak perlu menggunakan ekspresi seperti itu. Aku tidak akan marah padamu," Briety memeluk erat Lina dengan menggosokan pipinya ke pipi Lina. "Kau imut sekali."


Daniel mengela nafas panjang. "Hah... Aku masih memandang dirimu yang hamil, kalau tidak... Aku pasti menggangapmu sebagai gadis berumur 12 tahun."


"Umur 12 tahun?! Yang benar saja. Apa aku semuda itu?"


"Itu masih mending. Aku tadi mala mengirah kalau kau itu gadis kecil berumur 8 tahun," kata Briety yang belum melepaskan pelukannya.


"Itu lebih parah. Tapi mana ada gadis kecil berumur 8 tahun setinggi aku."


"Sudahlah, mari kita ke pondok bersantai sekarang dan bahas itu lagi nanti," ajak Rayner.


Mereka semua berjalan ke teras pondok bersantai tersebut. Disana sudah ada kursi yang telah tersedia diteras pondok bersantai tepat di depan Stevan. Keadaan Stevan saat ini berbaring di atas meja besi dengan pergelangan kaki diikat menggunakan tali yang terhubung ke sebuah katrol dan pergelangan tangan diikat ke katrol lainnya. Tubuh Stevan masih menggeliat karna meja besi tersebut sempat dijemur di bawah sinar matahari. Disisi lain ia juga harus menahan sakit dan peri dipergelangan tangan dan kakinya akibat ikatan tali yang sangat kuat.


"Kak Lina!" panggil Via sambil menghampiri. Ia mengambil tempat duduk disampi Lina.


"Via."


"Seperti instruksi mu sayang. Aku sudah meminta bawahanku membuatkan alat penyiksaan yang seperti kau inginkan," ujar Ducan.


"Kau yang merancangnya sendiri, Lina? Itu sungguh luar biasa," kata Rayner memuji.


"Itu bukan rancangan ku. Aku cuman mencontoh alat penyiksaan dari abad pertengahan The Rack. Hanya saja aku mengubahnya sedikit. Yang biasanya terdiri dari bingkai persegi panjang, berbahan kayu, dengan rol di salah satu atau kedua ujungnya. Kini bingkai kayu itu diganti besi dan dilengkapi dengan mekanisme katrol otomatis," jelas Lina.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2