Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pengacau


__ADS_3

Julius hendak menangkap adiknya itu namun Adelia sudah berlari menghindar. Untung Julius sigap berhenti, kalau tidak... Julius dan Marjorie mungkin sudah terjungkal kebelakang.


"Cobalah tangkap aku kalau kakak bisa. Uweek..." ejek Adelia dari kejauhan.


"Awas saja kau ya!!"


Adelio yang sendari tadi diam kini turun dari kursi. "Maafkan kami karna telah mengganggu. Saya pergi dulu," ia berbalik lalu bergegas menyusul Adelia.


"Sampai bertemu lagi kak MJ," teriak Adelia sambil melambaikan tangan.


Marjorie membalas lambaian tersebut. "Sifat dari keduanya benar-benar terbalik," batinnya.


"Hah... Dasar kau, Adelia!" geram Julius. Ia kemudian menoleh pada Marjorie. "Maaf atas ketidaksopanan adikku yang satu tadi. Dia memang nakal."


"Tidak apa-apa, namanya juga anak-anak."


"Mereka sudah lebih dari anak-anak."


"Tapi mereka berdua berbeda dengan mu dan Julia. Mereka terlihat saling melengkapi."


"Kau benar. Yang satu nakal tak terkira dan yang satunya sopan satu dan baik hati. Mereka seperti Ying dan Yang."


"Kau memiliki keluarga yang kelihatanya menyenangkan."


"Kau pikir begitu?"


"Iya," Marjorie tiba-tiba tertunduk murung. "Aku belum perna merasakan seperti apa memiliki sebuah keluarga. Sejak kecil aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku. Aku dibesarkan di panti asuhan bersama belasan anak lainnya yang bernasip sama."


Mendengar itu membuat hati Julius ikut sedih. Ia menggapai tangan Marjorie dan digenggamnya dengan hangat. "Marjorie..."


"Jak! Kalian mau apa?" kata Via tiba-tiba muncul dari belakang kursi mereka. Hal itu sontak membuat Julius melepaskan genggamannya.


"Bibi Via...! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu! Kau membuat kami terkena serangan jantung."


"Hihi... Maaf. Tidak aku sangkan ternyata keponakanku juga bisa terkejut."


"Astaga, aku sungguh kaget tadi," kata Marjorie pelan sambil mengatur nafasnya.


"Gadis ini bibi Via yang aku ceritakan tadi. Pacarnya kak Julius," tunjuk Adelia yang berdiri belakang Via bersama Adelio.

__ADS_1


"Apa?! Aku bukan... Kami tidak sedang pacaran," sangkal Marjorie dengan pipi merona.


"Kau berani kembali dan malah mengajak bibi Via," ujar Julius begitu melihat Adelia.


"Sebenarnya kami tidak sengaja bertemu bibi Via yang memang sedang mencari kami, lalu kak Adelia menceritakan tentang kak Julius bersama pacarnya," jelas Adelio.


"Sustt.....ss.... Diam," lerai Via. "Kemari lah sayang, biar aku melihatmu dulu," Via menarik tangan Marjorie sampai ia berdiri.


"Apa yang mau bibi lakukan padanya?" tanya Julius sambil ikut berdiri.


"Tenang saja Julius, akan aku kembalikan dia dengan utuh. Sebelum mama mu itu menikah dengan papa mu, dia juga mendapatkan pemeriksaan dariku."


Seperti yang perna ia lakukan dulu pada Lina, Via mulai mengitari Marjorie. Ia meneliti Marjorie dari ujung rambut sampai kaki. Marjorie dibuat bingung dan hanya bisa pasrah. Ia tidak menyangkah dibalik kepribadian Julius yang dingin dan Julia yang ceria teryata memiliki anggota keluarga yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang yang sering ia jumpai.


"Wajah yang cantik, mata biru permata, rambut emas terjuntai indah, tubuh tinggi dengan kulit sedikit terlalu pucat, tidak apa-apa. Cuman tubuhmu ini lumayan kurus dan pandangan mu tampak lesuh. Apa kau banyak pikiran akhir-akhir ini?"


"Ah... Sedikit," jawab Marjorie.


"Kurangi itu dan rileksasikan pikiranmu, atur pola makan dan berhenti bergadang. Sanyangilah dirimu sendiri, kau masih muda," Via menepuk pelan pipi Marjorie.


"Terima kasih atas nasehatnya, saya akan mengikuti saran dari anda."


"Baiklah bibi Via," jawab mereka serempak sambil berlari menghampiri bibi mereka.


"Hah... Dasar mereka benar-benar pengacau. Kenapa selalu aku terus menjadi korbannya? Baik dari bibi Via maupun Adelia, mereka berdua sama saja. Apa yang dipikirkan Marjorie soal kejadian tadi?" batin Julius. Ia melirik pada Marjorie yang juga melihat kepadanya. "Kau tidak apa-apa?"


"Iya. Eh... Apa semua keluarga mu seperti itu jika berkenalan dengan orang baru?"


"Tidak. Cuman mereka. Sebaiknya kita cari tempat lain. Mereka bisa datang lebih dari sekali," Julius menggandeng tangan Marjorie dan mengajaknya ke tempat lain.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Kembali ke Julia. Ia dan teman-temannya masih sibuk keliling bazar. Tidak ada yang teringin Julia beli lagi disini. Pertemuannya dengan gadis kecil tadi malah mengembalikan perasaan yang membuat ia murung lagi. Jika Adelia memang ada disini pasti sama seperti gadis kecil itu. Dengan nakalnya ia akan berlarian kesana kemari. Karna mulai bosan berkeliling, Julia memutuskan untuk mengajaknya teman-temannya ke taman. Dan itu dengan cepat di setujui oleh Nisa dan Wendy. Mereka juga mulai merasa bosan. Tapi baru hendak keluar dari bazar tersebut, tiba-tiba terdengar suara yang begitu mereka kenal memanggil nama mereka.


"Hei, Julia! Nisa! Wendy! Disini!" teriak Febby memanggil teman-temannya.


Julia, Nisa dan Wendy menoleh begitu nama mereka dipanggil temannya. Di sebuah toko yang menjual aneka kue, disana lah Febby berada bersama dengan empat rekannya yang lain.


"Febby? Tenyata ini yang kau katakan waktu itu. Kau membuka toko kue rupanya," kata Wendy sambil menghampiri.

__ADS_1


"Iya. Di klub memasak yang ku ikuti mengadakan lomba kecil-kecilan. Barang siapa dari kelompok yang bisa mendapat keuntungan tertinggi dari hasil penjualan mereka, maka akan berkesempatan bertemu dan belajar langsung dari chef Jessica dari Prancis. Jadi aku minta tolong pada kalian belilah kue dari toko kami, agar kami bisa menang. Dijamin enak."


"Baiklah kalau begitu aku mau kue lava coklat," kata Julia.


"Ini untukmu, hadiah spesial dariku. Kue coklat stroberi," Alwen muncul dan menyodorkan kue coklat berhiaskan stroberi di atasnya.


"Alwen?! Kau juga ikut klub masak dan satu tim dengan Febby."


"Kenapa? Tidak boleh? Terlihat anehnya kalau laki-laki suka masak?"


"Tidak. Banyak juga chef-chef terkenal adalah seorang laki-laki," kata Nisa.


"Seharusnya kau bangga Alwen. Kebanyakan laki-laki tidak bisa masak," sambung Wendy.


"Hah, dia bilang begitu bukan karna suka memasak. Dia ikut klub memasak cuman untuk... Hmph!"


Belum selesai Febby menjelaskan, Alwen sudah menutup mulutnya. "Jangan dengarkan dia."


Febby berusaha melepaskan diri dan akhirnya berhasil, kemudian aia berteriak lantang. "Untuk membuatkan kue pernyataan cinta kepada mu Julia!"


"Tidak. Ini cuman kue persahabatan saja," sangkal Alwen dengan cepat.


"Jangan berbohong lagi. Padahal kau selalu bertanya padaku apa yang mungkin di sukai Julia, aku bilang kalau Julia itu suka makanan manis terlebih lagi coklat. Apa lagi alasan selain kau ingin membuat kue pernyataan cinta? Kau kan memang sedang mengejar-ngejar dia. Jangan malu-malu begitu tuan muda Abend. Apa kau takut diterima?"


"Sebenarnya itu cuman alasan agar aku bisa dekat denganmu," gumang Alwen tidak hampir tidak terdengar.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2