Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Hari tersial


__ADS_3

Julius yang mendengar suara tersebut dari lantai satu tidak memperdulikannya. Ia memilih mencari jalan keluar yang terhindar dari bawahan Tn. Black. Tinggal sedikit lagi menuju pintu keluar, Julius tiba-tiba tersandung yang membuatnya jatuh tengkurap. Bukan karna tubuhnya masih lemah tapi melainkan di sebab Julius tersandung senjatanya sendiri.


"Hahaha... Cara jatuh yang sangat bagus sekali," ejek Death knell yang berada cukup jauh di depan.


Julius mengangkat wajahnya sambil menatap kesal pada gadis yang masih tertawa dengan lucunya. "Kau... Sudah aku duga kalau itu memang benar kau, Death knell."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku menyelamatkan mu semata-mata agar kau dapat menepati janjimu soal pertarungan kita di lain waktu yang kau katakan itu. Aku juga sangat menantikan hari itu tiba. Adiós... Bocah menggemaskan," Death knell mengedipkan sebelah matanya mencoba bertingkah imut.


"Sial! Kau membalas ku rupanya," ujar Julius sambil bangkit.


"Oh, iya. Aku sudah membereskan beberapa orang untuk mu tapi sisanya kau coba tangani sendiri ya. Semoga berhasil."


Tanpa peringatan, dengan raut wajah datar, Julius menembakan belatinya ke arah Death knell. Karna luka di tangannya membuat belati itu dapat dengan mudah tangkis oleh Death knell menggunakan senjata kesayangannya.


"Uuuh.... Meleset. Uek...." ejek Death knell sambil menjulurkan lidahnya lalu berlalu pergi dan menghilang dalam kegelapan.


"Tingkahnya sedikit mirip Julia."


Julius melangkahkan kakinya keluar dari gedung tersebut lalu memungut belatinya. Tidak jauh dari tempat belatinya tergeletak Julius juga ikut memungut sebuah lonceng kecil yang tidak sengaja terputus saat Death knell menangkis belatinya tadi.


"Hm, cinderamata yang bagus. Aku akan mengingat mu dengan ini."


Julius menyimpan lonceng itu di sakunya lalu berlari pergi memasuki hutan disaat tiga sampai empat orang muncul dan mengejarnya. Biarpun tenaganya cuman pulih sebagian, berkat hutan yang gelap itu memudahkan Julius menghindari kejaran mereka. Namun hal yang tidak terduga terjadi. Dari arah samping kiri Julius tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki yang seketika langsung menabraknya. Sangking keras tabrakan tersebut mereka berdua sampai terguling di tanah.


"Aduh... Ini hari tersialku," rintih Julius sambil menahan sakit di tubuhnya, terutama pada lukanya yang kembali terbuka dan meneteskan darah.


"Ah, maaf. Maafkan aku. Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" tanya bocah itu sambil membantu Julius berdiri. Dia ternyata adalah Carl, putra Tn. Rodgers.


"Kau bocah datang dari mana?!! Kenapa berlarian di tengah hutan yang gelap ini dan menabrak ku?" bentak Julius kesal.


"Maaf. Semua pohon di hutan ini terlalu rimbun sampai-sampai cahaya bulan sedikit yang berhasil menembus dedaunan. Aku belum terbiasa melihat dalam kegelapan."


"Siapa kau ini?"


"Aku tidak bisa memberitahu mu untuk sekarang karna kita harus melarikan diri dulu dari mereka," tunjuk Carl ke arah orang-orang yang mengejarnya.

__ADS_1


"Itu mereka. Ayok tangkap!" teriak salah satu dari para pengejar tersebut.


Mengetahui para pengejar itu semakin mendekat, Julius menarik tangan Carl berlari menyelamatkan diri. Julius yang memang telah terlatih untuk dapat melihat di kegelapan dengan mudah bergerak lebih leluasa dalam hutan itu. Sesekali Julius membalas beberapa tembakan yang diluncurkan ke arah mereka. Julius dan Carl bersembunyi sebentar di balik pohon sambil beristirahat. Orang-orang itu tidak terlihat untuk sekarang namun Julius tetap harus waspada.


"Kau juga di kejar mereka?" tanya Julius sambil mengatur nafas yang lelah.


"Aku mengikuti papa ku diam-diam karna papa tidak mengizinkan aku ikut. Tapi aku tanpa sengaja malah membuat sedikit kekacauan," jelas Carl sedikit malu mengakui itu.


"Jadi rupa-rupanya kau yang merusak jaringan listrik di rumah lelang?"


"Iya. Aku tidak bermaksud," mata Carl tertujuh pada lengan Julius yang berdarah. "Tanganmu terluka."


"Biarkan saja."


"Tidak bisa. Luka terbuka seperti ini harus segera diobati atau paling tidak di perban," Carl mengeluarkan sapu tangannya lalu melilitkannya pada lengan Julius. "Sudah."


Julius melirik sekali lengannya yang telah terperban rapi itu. "Terima kasih, sekarang pergilah. Cari papamu sana atau paling tidak kembali ke kapalmu."


"Begitukah caramu berterima kasih? Setidaknya tersenyumlah sedikit."


Bukannya tersenyum, Julius malah semakin cemberut. "Aku menyelamatkan mu setelah kau tabrak aku saja seharusnya kau sudah bersyukur!"


"Aku heran, bagaimana bisa orang bodoh seperti mu menyusup ke pulau ini?!"


"Oh... Aku datang kesini bersama papaku. Dia adalah seorang agen yang hebat," jawab Carl dengan polosnya.


"Dijawab begitu saja?! Itu sebuah penghinaan bukannya pertanyaan! Hah... Kau itu terlewat polos atau memang bodoh?" Julius tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi orang seperti Carl.


"Hei, siapa namamu? Kalau boleh aku beritahu kau tadi juga sangat hebat. Jika dilihat, kau ini seumuran denganku. Apa kau juga datang kesini bersama papa mu?"


Julius menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau tahu situasi kita saat ini seperti apa?"


"Tentu saja. Saat ini kita berada di situasi antara hidup dan mati. Menurut perkiraan ku, kita berada di bagian 120° Tenggara, sekitar 300 meter dari dermaga 7. Jumlah orang bersenjata yang mengejar ada sekitar tinggal dua orang lagi," jelas Carl seperti kicauan burung.


"Pengamatan yang bagus."

__ADS_1


"Terima kasih. Ngomong-ngomong... Hmph!"


Sebelum Carl melanjutkan kalimatnya, Julius sudah menutup mulut Carl. "Sutt... Ada yang datang."


Julius mengintip dari balik pohon besar tempat di mana mereka bersembunyi. Tidak terlihat siapa-siapa yang datang namun suara gemeriksik daun kering yang dinjak semakin terdengar jelas mendekat. Kewaspadaan Julius semakin meningkat begitu ia melihat ada seseorang berjalan pelan ke arah mereka. Orang tersebut adalah salah satu dari anak buah Tn. Black yang diperintahkan untuk menangkap mereka. Sebisa mungkin mereka berusaha tetap tenang dan tidak menimbulkan suara sedikitpun. Tiga menit berlalu dalam diam, orang tersebut terlihat mendengar suara gemerisik dari lain tempat yang berlawanan dengan tempat Julius dan Carl bersembunyi. Lantas dia segera pergi dan memeriksa tempat tersebut. Melihat pria itu telah pergi membuat mereka menghembuskan nafas lega.


"Fiiuuuh... Dia sudah pergi," Julius melepaskan tangannya dari mulut Carl.


"Hebat. Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Carl.


"Suara gemerisik daun."


"Luar biasa. Kau bisa tahu ada orang yang datang dari suara gemerisik daun saja. Padahal orang tadi sudah sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Apa kau juga seorang agen rahasia?"


"Agen rahasia?"


"Iya. Dilihat dari kemampuanmu ini, kau pasti seorang agen, bukan?"


"Bukan. Aku bukan seorang agen."


"Sudahlah, tidak perlu disembunyikan lagi. Aku juga seorang agen."


"Kau seorang agen? Aku tidak percaya."


"Itu benar. Walau tidak sehebat papaku, tapi suatu hari nanti aku pasti bisa menjadi seperti dia."


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2