Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kontraksi pertama


__ADS_3

Lina membantu merapikan dasi Daniel sebelum turun ke ruang makan untuk sarapan.


"Apa sungguh tidak apa aku tinggal keluar kota sebentar?" tanya Daniel lagi.


"Ini sudah ke tujuh kalinya kau bertanya."


"Aku mengkhawatirkan dirimu," Daniel merangkul Lina, menariknya sampai tubuh mereka bersentuhan. "Apa sebaiknya aku batalkan saja. Aku bisa meminta Qazi atau Norman mewakilkan ku untuk menghadiri pertemuan itu."


"Jangan khawatir. Lagi pula cuman sehari. Kau akan pulang malam ini, kan?" tangan Lina beralih merangkul leher Daniel. Ditatapnya lurus mata suaminya itu.


"Jika semuanya cepat selesai aku pasti segera pulang," Daniel mengecup sekali ubun-ubun Lina lalu berjongkok mensejajarkan kepalanya dengan perut Lina dan memberi satu kecupan disana. "Ayah mau pergi kerja sebentar. Jangan nakal ya. Dengarkan kata-kata ibumu."


"Baiklah ayah. Jangan lupa bawa oleh-oleh ya," jawab Lina dengan suara anak-anak.


Daniel mengankat wajahnya menatap Lina yang tersenyum. "Iya. Ayah akan bawakan oleh-oleh yang spesial untukmu dan juga ibumu," kecupan dan belaian lembut kembali mendarat di perut Lina. "Perutmu kencang sekali. Apa benar kau belum merasakan tanda-tanda mau melahirkan?"


"Belum. Walau sebenarnya aku merasa kalau mereka sudah semakin turun. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku akan merasakan kontraksi pertamaku."


"Kau yakin?" anggukan Lina berikan sebagai jawaban. Daniel berdiri. "Telpon aku jika kau merasakan sesuatu. Aku pasti akan langsung pulang apapun yang terjadi."


"Itu pasti. Aku tidak akan sanggup melahirkan sendiri tanpa kehadiran dirimu."


"Aku akan selalu ada disampingmu pada saat waktu itu tiba. Aku akan meminta ibu atau Via menemanimu hari ini."


"Ibu dan Via baru pulang kemarin setelah seminggu menginap. Apa tidak apa meminta mereka ke sini?"


"Aku tidak bisa tenang jika membiarkan mu sendiri, dan aku rasa ibu juga begitu. Ia pasti datang walau aku tidak memintanya."


"Kalau begitu biarkan dia datang sendiri. Tidak perlu memintanya."


"Aku akan memberi tahu nya saja kalau kau sendirian di rumah. Ibu pasti langsung datang."


"Kau pasti dimarahi jika berkata seperti itu."


"Benar juga. Lebih baik aku beritahu pada Via saja."


"Apa kau yakin Via tidak mengadu?"


"Hah... Sepertinya memang lebih baik batalkan saja pertemuannya."


"Dasar kau ini. Tidak seperti biasanya. Kau tahukan aku tidak benar-benar sendirian. Masih ada beberapa orang di rumah ini. Aku akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Baiklah aku percaya padamu. Ayok kita sarapan."


Daniel merangkul bahu Lina mengajaknya turun ke ruang makan. Beberapa makanan langsung dihidangkan begitu Daniel dan Lina mengambil tempat duduk mereka di meja makan. Emma dan Judy sengaja menyajikan menu ekstra karna beberapa hari terakhir ini nafsu makan Lina sedikit bertambah.


Selesai sarapan Lina mengantar Daniel sampai ke mobilnya. Lambaian tangan Lina menggiring kepergian mobil Daniel yang melaju meninggalkan halaman rumah. Lina baru melangkah masuk begitu mobil yang dipandanginya itu menghilang diantara kendaraan lainnya.


Baru dua jam Daniel pergi. Lina tiba-tiba merasakan ngilu yang tajam menjalar ke punggungnya, kemudian secepat datangnya dia menghilang. Sepuluh menit berlalu, rasa sakit itu terasa kembali dengan durasi lebih lama. Rasa sakit tersebut sedikit menggangu konsentrasinya membaca.


"Emmm.... Kram kali ini jauh lebih sering terjadi. Apa itu biasa?" tanya Lina pada diri sendiri.


Lina mengelus perutnya untuk meredakan rasa kram yang dialaminya, setidaknya itulah yang ia pikir. Lina tidak tahu kalau itu adalah tanda anaknya yang bersiap-siap untuk mendesakka waktu lahirnya. Sejak sore kemarin Lina sudah merasakan sensasi tekanan yang semakin ke bawah, tapi Lina tidak menggubrisnya. Ia pikir itu adalah hal yang biasa dialami saat menjelang hari persalinannya yang sudah ditetapkan. Rencana berubah. Mereka ingin lahir hari ini dan ibunya tidak tahu itu.


"Nona Lina, Ny. Flors tadi telpon. Katanya mau datang dan sekalian makan siang disini jika tidak ada halangan," kata Judy yang menghampiri Lina di perpustakaan.


"Iya. Uhuu...." Lina berusaha menyembunyikan ekspresinya begitu merasakan kontraksi


lagi.


"Apa anda mau teh hangat?" tawar Judy yang menyadari kalau Lina sepertinya sedang menahan kesakitan.


"Boleh, jika tidak merepotkan."


Judy berlalu pergi. Lima menit kemudian ia kembali dengan nampan berisi secangkir teh dan sepiring kue jahe. Ia menyusun semua itu di atas meja.


"Dimana Emma?" tanya Lina sambil mengambil sepotong kue jahe lalu memakannya.


"Membersikan laboratorium."


"Oh.... Kalau tidak ada kegiatan, bisa temani aku? Aku sedikit bosan."


"Bosan atau rindu?" goda Judy membuat Lina memalingkan muka.


"A, apa yang kau katakan. Si, siapa yang rindu. Aku tidak merindukannya."


"Merindukannya? Aku tidak menyebut salah satu nama. Siapa yang kau pikirkan? Apa itu tuan muda?"


"Judy...."


"Hihi..."


Selesai membersikan laboratorium Emma segera menyusul Lina dan Judy yang tengah bersantai di pondok kayu di taman. Mereka mencari kesibukan untuk mengisi waktu luang sambil menunggu Briety datang. Namun tiba-tiba Lina merasakan kontraksi yang lebih menusuk punggungnya. Terlihat ia memejamkan mata dan sedikit membungkuk ke depan sambil mencengkram perutnya yang terasa kencang.

__ADS_1


"Eghmmm....." Lina tidak bisa menyembunyikan ekspresi nya menahan ngilu di punggungnya dari Judy dan Emma.


"Nona Lina, apa anda merasa kram lagi?" tanya Emma khawatir.


"Iya, tapi ini jauh lebih sakit dari biasanya dan durasinya lebih lama," kata Lina yang masih membungkuk. Tanpa sadar ia mengatur nafasnya.


"Aku rasa itu bukanlah kram biasa. Itu mungkin kontraksi anda. Nona Lina, sepertinya anda akan melahirkan hari ini," kata Judy yang memang sendari tadi memperhatikan Lina namun ia cuman ingin memastikan apa benar perkiraannya.


"Benarkah? Tapi aku belum siap. Aww.....! Ini cukup sakit," Lina kembali menahan perutnya yang terasa tegang lagi. Ia mencoba mengatur nafas dan berusaha untuk tetap rileks.


"Aku akan telpon tuan muda untuk memintanya segera pulang."


"Iya, cepat telpon dia. Aku tidak menyangka kalau mereka mendesak waktu lahir lebih cepat dari jadwal yang diperkirakan," Lina menyerahkan hpnya pada Emma.


Dengan menggunakan hp Lina, Emma mencoba menelpon Daniel. Tapi baru hendak menyalakan hp tersebut, tiba-tiba sebuah peluru yang entah datang dari mana melesat cepat menembus hp itu berserta telapak tangan Emma.


"AAAA ! !" pekik Emma begitu peluru itu melukai tangannya. Darah kini berceceran disana.


"Emma!" teriak Lina yang kaget.


"Aku tidak apa-apa nona Lina."


"Siapa itu!" bentak Judy.


Judy dengan sigap menyembunyikan Lina dibelakang tubuhnya. Bersamaan dengan itu muncul empat pengawal bayangan yang ditempatkan untuk melindungi Lina. Mereka siap melawan begitu enam orang yang berpakaian serbah hitam seketika menyerang mereka.


"Judy! Emma! Cepat bawa nona Lina pergi dari sini! Mereka semua serahkan saja pada kami!" perintah ketua dari pengawal bayangan tersebut.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2