Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kembali ke sekolah


__ADS_3

Seminggu berlalu. Akhirnya Julius dan Julia bisa kembali ke sekolah tanpa harus diikuti pelayan lagi atau diomelin tidak boleh melakukan ini dan itu. Namun tetap saja mereka masih harus membatasi gerakan berlebih. Luka pada bagian luar memang sudah sembuh namun luka dalam mereka masih terancam infeksi jika tidak berhati-hati. Lina bahkan sampai memberitahukan kepada pihak sekolah beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan Julius dan Julia untuk beberapa hari kedepan atau mungkin beberapa minggu, seperti pelajaran olahraga yang belum diizikan dulu.


Sebagai Nyonya dari keluarga Flors tentu saja pihak sekolah langsung menuruti permintaan ini tanpa menbantah sedikitpun. Mereka bahkan menyarankan bagi Julius dan Julia untuk dipindahkan ke asrama khusus. Namun hal itu lekas ditolak Julius dan Julia. Mereka beralasan lebih menyenangkan tinggal di asrama biasa. Sudah cukup selama seminggu ini mereka diperlakukan seperti anak kecil yang senantiasa terus diawasi. Mereka lebih suka hidup mandiri dan bebas.


Lina sebenarnya enggan meninggalkan Julius dan Julia dalam kondisi belum sembuh total. Apa lagi Via telah menyerahkan surat pengunduran diri menjadi guru di sekolah Anthony. Tugasnya menjaga Julius dan Julia sudah selesai. Ia saat ini telah kembali ke Jepang bersama suaminya. Tapi Julius dan Julia bersikeras meyakinkan mama mereka kalau mereka akan baik-baik saja. Samuel ikut menyakinkan Lina untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Julius dan Julia. Ia akan senantiasa menjaga mereka. Membiarkan Samuel yang menjaga putra dan putrinya malah membuat Lina semakin tidak yakin meninggalkan mereka.


Bujuk rayu terus dilakukan agar mama mereka yakin kalau mereka telah sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Lina menguatkan hatinya untuk percaya pada putra dan putrinya. Sore hari sebelum keberangkatan, Lina berjumpa dengan Nisa terlebih dahulu. Ini soal latihan Nisa. Lina akan kembali ke ibu kota, jadi Lina telah meminta salah satu bawahan Samuel untuk menjadi pengganti pelatih Nisa kedepannya.


Minggu demi minggu berlalu. Kondisi kesehatan Julius dan Julia telah membaik sepenuhnya. Keseharian mereka kembali seperti biasa. Tidak perlu dipusingkan lagi oleh masalah yang muncul di dunia bawah tanah. Cerita tentang Lady Blue perlahan-lahan menghilang dan meninggalkan rumor misterius. Semua kejadian yang terjadi memang tidak disebar luaskan ke publik soal siapa Lady Blue, kematiannya dan tentang pangeran Hans. Tidak ada yang tahu kecuali keluarga Flors. Jenazah Gerda telah dimakamkan dengan layak tepat di belakang bangunan vila tua yang telah terbakar. Sedangkan jenazah Hans dilemparkan begitu saja ke batu karang seperti seonggok sampah tak berguna.


Terkadang Julia masih terlihat sering melamun di atas gedung sekolah disaat ia teringat akan Gerda. Teman-temannya yang lain akan mencoba menghiburnya dengan berbagai tingkah konyol mereka. Lumayanlah untuk sedikit mengalihkan perhatiannya Julia dari kerinduannya pada temannya itu. Cara Wendy yang biasanya paling ampuh untuk mengembalikan keceriaan Julia atau setidaknya membuat ia kesal. Tidak hanya Wendy, Febby dan Nisa saja yang sering menghibur Julia, Rica dan Marjorie juga ikut-ikutan.


Rica saat ini mulai akrab berteman dengan yang lain walau nada bicaranya masih sombong karna dia merupakan seorang kakak kelas dan yang pali tua diantara yang lain. Tapi lain cerita jika Alwen sudah datang. Tidak seperti Sean yang terlihat canggung jika bertemu Julia, Alwen malah semakin terang-terangan mendekati Febby. Di beberapa kesempatan Alwen terlihat mencoba menyatakan perasaannya namun terus saja gagal karna berbagai alasan tak terduga. Namun ia tidak pantang menyerah. Tidak jauh berbeda dengan Alwen, Chris juga masih berusaha mendekati Nisa. Chris dibuat kesulitan mengejar Nisa karna wataknya yang pemalu. Ia bahkan sampai meminta nasehat dari Julia dan Rica agar bisa menaklukan hati Nisa. Sampai sejauh ini sepertinya usahanya masih tidak ada kemajuan.


Karna Marjorie bukan lagi pengawal pribadi Yusra, ia kini memiliki banyak waktu luang bermain bersama teman-temannya. Tidak ada lagi majikan, tidak ada lagi keterikatan, tidak ada lagi misi dan yang paling penting, ia sekarang bisa menjalani kehidupan SMA nya sama seperti gadis lain pada umumnya. Perilaku Marjorie semakin tampak ceria, tidak dingin seperti dulu. Ia lebih sering tersenyum dan menujukan emosi lainnya yang jarang terlihat. Berbeda lagi dengan Yusra. Sejak kejadian waktu itu, ia tampak lebih pendiam, sifatnya berubah jauh lebih dewasa. Saat ini ia lebih fokus belajar dan menjadi kuat. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin seperti Julius. Sebagai tuan muda yang suatu hari nanti akan menjadi pemimpin dari mafia Dragon, Yusra pastinya dituntut menjadi pemimpin yang hebat, disegani dan dihormati bawahannya.

__ADS_1


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Diakhir pekan. Marjorie menyempatkan diri menemui kakaknya, tidak sebagai Terry tapi melainkan sebagai Marjorie. Bersama Julia, Nisa, Wendy dan Febby, pertama-tama mereka datang seperti biasa. Memesan makanan dan mengobrol santai. Ketiga bawahan Marjorie yang dikenal Laura sebagai orang yang telah membuat kedainya menjadi sebuah restoran datang berkunjung. Mereka datang untuk menempati janji mereka memperkenalkan siapa nona mereka yang tanpa pambri mau menyumbangkan dana yang besar untuk memajukan restoran tersebut. Sejak dari pagi Laura sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang mereka panggil nona itu.


"Akhirnya kalian datang juga," Laura segera menyambut ketiga pria itu sambil celingak-celinguk mencari seseorang. "Em... Dimana nona kalian? Bukankah kalian janji mau memperkenalkan aku padanya? Sudah sejak kemarin aku memperhitungkan pendapatan restoran ini untuk dibagi bersama dengannya. Aku tidak bisa menerima semua kebaikannya ini secara cuma-cuma."


"Kenapa tidak bisa, kak Laura?" tanya Julia setelah menyerumput minumannya.


"Tentu saja tidak bisa. Dana yang ia berikan terlalu besar. Aku bukan tipe orang yang tidak tahu malu menerima semuanya tanpa ada balasan terima kasih. Setidaknya keuntungan yang di dapat dari restoran ini harus dibagi bersamanya. Karna dia lah yang mengubah kedai kecil kami menjadi restoran seperti ini. Cepat katakan dimana nona kalian. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya."


"Disini? Dimana?" tanya Laura dibuat bingung.


"Salam nona Marjorie," kata ketiga pria itu memberi hormat pada Marjorie yang telah berdiri dibelakang Laura.


"Marjorie," Laura merasa sangat tidak asing dengan nama tersebut. Ia seketika langsung berbalik tapi ia malah semakin dibuat bingung begitu mendapati Terry berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Lama tidak berjumpa kak Kety," kata Marjorie sambil berusaha menahan air matanya keluar.


Laura atau nama aslinya adalah Kety, dibuat terdiam. Sudah sangat lama ia tidak mendengar seseorang memanggilnya dengan nama tersebut. Satu bulir air mata mengalir pelan di pipinya. Marjorie mengeluarkan sapu tangannya lalu membatu mengelap air mata Kety. Yang tidak terduka Kety tiba-tiba memeluk Marjorie dengan sangat erat.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2