Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Yatim piatu


__ADS_3

"Kau begitu manis sekali kucingku," dibelainya rambut Lina kemudian diselipkan di telinga nya.


Lina memalingkan muka tersipu malu. "Kapan perutku akan membesar?" tanya Lina sambil mengusap perutnya.


"Sebentar lagi. Perutmu akan sangat besar karna tubuhmu yang kecil ini," Daniel mencolek hidung Lina yang membuatnya terkekeh.


"Hihi... Mereka akan tubuh disini, menendanku dengan kenakalan mereka. Cepatlah besar anak-anakku."


Mendengar itu membuat Daniel bahagia. Andai Lina mengatakan semua itu dalam keadaan sadar, pasti membuatnya semakin bahagia.


"Kita mulai lagi?" tanya Daniel.


"Apa bisa dilakukan sambil berdiri? Aku bosan berbaring."


"Baiklah."


Daniel menarik diri dari Lina, membiarkan Lina berdiri sambil berpegangan pada pinggiran ranjang. Daniel menyuruh Lina menungging. Daniel mulai kembali memasukan miliknya namun dalam sekali hentakan kasar.


"AAAHH ! ! !" Pekik Lina dengan mata terbelalak. "Ohhh...... Astaga, kasar sekali."


Daniel tidak memperdulikan rintihan Lina. Kali ini ia bermain kasar dan sangat agresif.


"Ohh...... AHH ! ! Pelan-pelan. Sakit.... Hmmmph......."


Daniel bermain sampai Lina kelelahan lalu mulai tertidur. Ia membelai rambut Lina yang kini tertidur dalam pelukannya lalu diciumnya sekali dahi Lina dengan lembut. Lina semakin merapatkan dirinya pada Daniel kemudian berbisik...


"Terima kasih."


"Tidurlah. Kau membutuhkannya."


"Iya."


"Apa efek obatnya sudah hilang setelah ia tertidur?" pikir Daniel.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Lina membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sudah ada di kamar berbeda. Kamar luas dengan tempat tidur yang besar dan funitur mewah. Ini bukan kamar miliknya. Dimana ini? Lina berusaha bangkit dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya semalam. Ia memengangi kepalanya yang sedikit sakit begitu ia bangun terduduk di tempat tidur. Sepotong-potong ingatan muncul di kepala Lina yang membuatnya tersentak kaget.

__ADS_1


"AAAAH ! ! !" teriaknya begitu memenginga semua kejadian semalam. "Tidak, tidak mungkin aku melakukan itu!"


Lina menutupi wajahnya yang malu dengan sikapnya semalam. Bisa-bisanya ia yang duluan meminta melakukan itu bersama Daniel. Dengan tingkah bodoh... Tidak! Itu bukanlah dirinya. Lina sungguh tidak mau mempercayai ini tapi rasa sakit di tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia menarik selimut yang menutupinya. Tubuhnya kini berbalut piyama berwarna biru gelap yang elegan dengan hiasan manik-manik mutiara disekitaran leher sampai dadanya. Lina hendak turun dari tempat tidur namun tubuhnya masih lemah yang membuat ia tidak bisa berdiri kemudian terjatuh.


"Aduuh......." rintihnya sambil mengusap kepalanya yang sakit. Ia berusaha duduk lalu bersandar di ranjang tempat tidur.


"Nona Lina!" panggil Emma begitu ia masuk dan mendapati Lina sudah terduduk di lantai. Ia bergegas berlari menghampiri Lina dan segera membantunya duduk kembali ke tempat tidur. "Nona Lina tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa," jawab Lina.


"Ada apa Emma? Kenapa kau berteriak memanggil nona Lina?" tanya Judy yang baru masuk dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya.


"Aku hendak memeriksa apa nona Lina sudah bangun atau belum, tapi saat aku masuk nona Lina sudah terduduk di lantai," jelas Emma.


"Kau jatuh dari tempat tidur?" tanya Judy pada Lina sambil meletakan nampan tersebut di atas meja.


"Kaki ku tersendung seprei," bohong Lina sambil memalingkan mukanya yang malu.


"Tuan muda menyuruhku membawakan makanan yang bisa manambah energi. Katanya kau membutuhkan itu karna terlalu lelah bermain semalam."


Mendengar itu memuat wajah Lina seketika merah merona. Kejadian semalam tidak mau hilang dari kepalanya.


"Tidak! Tidak ada apa-apa," jawab Lina dengan wajah malu.


"Oh, kau belum tahu Emma, nona Lina semalam..."


"Tolong jangan ceritakan itu!" potong Lina sebelum Judy menceritakan semuanya. "Aku... Malu..."


"Kenapa harus malu? Semua bawahan tuan muda sudah tahu tentang..."


"Apa?! Mereka semua tahu?" potong Lina lagi. Ia benar-benar sangat terkejut. Bagaimana bisa kejadian yang begitu memalukan tersebar di antara anak buah Daniel?


"Tentu saja mereka semua tahu kekejaman nona Lina dalam membunuh seseorang," Judy mempercepat bicaranya sebelum Lina memotong lagi.


"E? Aku kira..." dengan nada kecil Lina berkata.


"Aku dengar dari Rey kalau nona Lina sangatlah sadis menyiksa si Rylie itu. Ia bahkan merasa ngeri menyaksikannya. Rey berkata..."

__ADS_1


Judy terlihat asik bercerita tentang permainan yang dilakukan Lina bersama Rylie. Lina ikut mendengarkan itu sambil menikmati makanan yang di bawakan Judy tadi.


"Andai aku ada disana dan melihatnya secara langsung. Mendengar ceritamu saja sungguh terdengar sangat luar biasa," kata Emma yang terlihat bergairah setelah mendengar cerita Judy.


Lina mengangkat wajahnya melirik Emma. Ia sedikit terkejut dengan reaksi yang diperlihatkan Emma. "Kalian tidak takut sama sekali?"


Mereka tidak segera menjawab. Mereka cuman tersenyum pada Lina.


"Siapa kalian sebenarnya? Aku yakin kalian bukan hanya sekedar pelayan rumah, kan?" pertanyaan ini memang sudah lama ini ditanyakan Lina.


"Tentu saja. Menurutmu berapa banya wanita yang bisa berkerja di rumah ini? Hanya kami kan," kata Judy.


"Orang-orang yang menjadi bawahan tuan muda bukanlah orang-orang biasa. Walaupun kami memang sekedar pelayan di rumah ini, tapi sebenarnya kami ini sama saja dengan para pria itu. Kami telah dilatih ilmu bela diri, ketahanan, kekuatan dan juga penggunaan beberapa jenis senjata," jelas Emma.


"Kalian berkerja disini karna inisiatif sendiri atau tidak?" tanya Lina sedikit penasaran.


"Hah... Awal cerita ini sudah lama sekali," Judy menatap langit-langit kamar seraya mengingat kenangan itu. "Aku dan Emma merupakan gadis yatim piatu yang tidak memiliki rumah maupun keluarga. Untuk bertahan hidup saja kami harus mengandalkan rasa belas kasihan orang lain. Hidup di jalanan sangatlah berat bagi kami yang masih kecil. Seringkali kami kelaparan dan kehausan atau diusir oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali. Tidur di bawah jembatan, emperan toko atau di kursi-kursi taman, yang paling menderita apabila hujan tiba-tiba turun di malam hari."


Mendengar cerita Judy membuat Lina merasa sedih. Penderitaan mereka berdua jauh lebih menderita dari Lina. Walaupun Lina tinggal di desa dalam keadaan miskin tapi ia masih ada tempat berteduh dan tidak kedinginan saat malam menjelang.


"Disaat kedinginan dan kelaparan di malam yang gelap serta keadaan hujan waktu itu, ada seorang pria menghampiri kami, mengulurkan tangannya lalu membawa kami masuk ke mobil. Tidak ada pikir dalam kepala kami siapa dia, orang jahat kah atau bukan. Kami hanya diam mengikutinya yang membawa kami pulang ke rumahnya. Kami diperlakukan sangat baik, diberi makanan dan pakaian yang layak. Sampai ia berkata... 'Maukah kalian berkerja untuk ku?' tanya pria itu. Tanpa pikir panjang lagi kami lansung menjawab 'iya'. Kami tidak mau kembali ke jalanan lagi. Apapun resikonya dan pekerjaan apa yang ia maksud, kami tidak peduli," Emma tertunduk sambil memainkan rendah di seragam pelayannya disaat bercerita.


"Dua hari kemudian kami tahu pekerjaan apa yang di maksud pria tersebut. Kami dilatih untuk menjadi seorang pembunuh bayaran dengan keahlihan dalam menggunakan berbagai senjata. Pelatihan yang kami alami sangat lah berat bagi anak-anak seperti kami, tapi itu tidak mengapa asalkan kami tidak kelaparan lagi dan memiliki tempat berteduh yang layak," sambung Judy bercerita.


"Siapa pria itu?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2