
Teriak Hans sambil hendak menarik pelatuk pistol nya yang telah ia arahkan pada Gerda. Julia yang sendari tadi perlahan mendekati Hans kini mempercepat langkahnya lalu menendang pistol tersebut sampai telempar ke jendela kaca dan akhirnya jatuh ke tanah. Hans mencengkram pergelangan tangannya yang sakit akibat tendangan dari Julia barusan. Julia memang berhasil menjatuhkan senjata lawan namun ia tidak bisa menghentikan peluru yang telah di tembakan. Beruntungnya peluru tersebut hanya menembus bahu Gerda.
"Gerda!" Julia segera menghampiri temannya itu. "Kau terluka."
"Tidak apa-apa, cuman mengenai bahuku."
"Kalian para serangga berani sekali menghancurkan rencana yang sudah susah payah aku buat, semuanya hancur karna kalian! Aku akan membunuh kalian semua!!"
Hans mulai menyerang mereka dari yang paling dekat dengannya saat ini, Rica. Namun ia tidak mengira kalau Rica ahli dalam ilmu bela diri. Rica menghindari pukulan yang diarahkan Hans padanya kemudian berbalik menyerang. Dengan mengandalkan kelenturan tubuhnya, Rica meluncurkan tendangan ke atas dan tepat mengenai kepala Hans yang menyebabkannya tersungkur ke lantai.
"Itu baru gerakan keren, Rica," puji Julia sambil mengacukan jempolnya.
"Terima kasih."
"Nisa, bisa kau jaga Gerda sebentar?" kata Julia pada Nisa yang telah berlari menghampirinya.
"Serahkan saja padaku. Oh, iya Julia. Senjata mu," Nisa menyodorkan pistol dan belati milik Julia.
"Jarimu terluka karna belatiku?" tebak Julia disaat melihat bercak darah di tangan Nisa.
"Cuman tergores sedikit."
"Aku akan ambil belati ini saja. Simpan pistol nya untuk berjaga-jaga. Jangan segan untuk menggunakannya bila diperlukan."
"Iya."
"Sepertinya kau mendapat teman yang pemberani Julia."
"Siapa mengira itu tersembunyi dibalik senyum pemalu nya."
Julia bergegas membantu Rica melawan Hans. Terlihat Hans belum mengeluarkan segenap kemampuannya. Rica tidak akan bisa menang jika melawan dia seorang diri. Pertarungan itu semakin sengit terjadi. Tidak memperdulikan lawannya hanya dua orang gadis SMA, Hans menyerang mereka berdua dengan niat membunuh yang kuat. Tidak mau kalah Julia juga membalas dengan serius. Ia tidak segan-segan langsung menyerang titik vital Hans agar dapat segera membunuhnya di tempat. Sementara itu Nisa membantu menghentikan pendarahan pada luka Gerda. Ia merobek jas seragam sekolahnya menjadi kain-kain panjang lalu melilikannya pada bahu Gerda yang terluka. Itu cukup membantu menghentikan pendarahan sampai Gerda di bawah ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
__ADS_1
"Kemampuan kalian para gadis ternyata lumayan juga. Tapi segini saja tidak cukup untuk mengalahkan ku!!"
Hans menekuk pergelangan tangan Julia sampai belatinya terlepas dari genggaman dan dengan tangan lainnya merangkul leher Julia, atau lebih tepatnya mencekiknya. Tidak hanya berdiri diam melihat Julia kini tidak bisa dibuat melawan lagi, Rica meraih tongkat baseball yang ada di dekatnya lalu memukul Hans dari belakang dengan sisa tenaga yang ia miliki. Akibat pukulan yang begitu kuat itu membuat Hans melepaskan Julia. Julia terduduk lemas sambil mengatur nafasnya yang sesak dan terbatuk-batuk. Tidak terima dipukul, Hans berbalik ke arah Rica dan berjalan menghampirinya dengan tatapan tajam membunuh. Karna tekanan yang begitu kuat membuat tubuh Rica gemetar dan tanpa sadar melangkah mundur ketakutan. Hans mengeluarkan pisau lipat nya lalu mengayunkannya ke arah Rica. Menyadari itu, dengan cepat Julia memungut belatinya kembali dan hendak menyerang Hans dari belakang. Yang tidak terduga adalah Hans ternyata tidak mengincar Rica. Ia telah menebak Julia akan bangkit dan menyerangnya dari belakang. Julia tidak sempat menghindari serangan tersebut dan hal hasil pisau itu menebus perutnya.
"Argh!"
"Julia!"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Dig! Dug!
Entah mengapa Julius merasakan perasaan tidak enak di dadanya. Rasanya ngilu menusuk tajam disetiap tarikan nafasnya yang mulai terasa sesak. Sebelum ini ia merasa baik-baik tapi kenapa sekarang dadanya tiba-tiba sakit? Apa yang terjadi sebenarnya? Pandangan Julius juga perlahan menggelap namun ia berusaha sebisa mungkin menahan kesadarannya.
"Apa dengan begini penyerangan ke keluarga tersembunyi akan terhenti?" tanya Marjorie.
Marjorie belum menyadari ada yang tidak beres dengan Julius sampai Julius tidak sanggup lagi berdiri. Ia kemudian terduduk terlutut sambil meringkuk dengan tangan kanan mencengkram kuat dada kirinya. Matanya terpejam menahan sakit dengan nafas yang berat.
Marjorie yang melihat Julius tiba-tiba terjatuh seketika langsung panik. Ia berjongkok disebelah Julius. Rasa takut pada ular hilang seketika. Hanya ada raut wajah yang penuh kecemasan. Piepie yang masih ada di bahu Julius sepertinya merasakan hal yang sama begitu melihat tuannya kesakitan. Ia berkali-kali mengeluskan kepalanya di pipi Julius.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Manjorie.
"Aku... Aku tidak tahu. Dadaku, sakit sekali," jawab Julius dengan susah payahnya. "Uhukh!" tiba-tiba Julius memuntahkan darah yang lumayan banyak.
"Sepertinya organ dalammu terluka parah. Kita harus segera membawamu ke rumah sakit sekarang. Yusra, bantu aku membawanya ke mobil."
"Baik."
Yusra segera membantu Julius berdiri dan menuntunnya keluar menuju mobil. Sampai di mobil, Julius dibaringkan di kursi belakang dengan kepala berada di pangkuan Marjorie. Seperti sudah mengerti, Pieper turun dari tubuh Julius dan merayap menuju kursi depan tempat dimana sebelumnya ia tertidur. Yusra segera menacap gas meninggalkan gubuk tersebut. Jalanan yang berbatu cukup menyulitkan Yusra menambah kecepatan mobilnya. Sebenarnya Julius sedikit malu, terbaring tidak berdaya dihadapan seorang gadis. Yang benar saja. Tapi apa boleh buat. Keadaan yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Julius, bertahanlah. Kita akan segera menuju rumah sakit," Marjorie mengusap rambut Julius berkali-kali. "Apa kau tidak bisa lebih cepat lagi, Yusra?!!"
__ADS_1
"Ayoklah, apa kau tidak lihat kondisinya? Jalanan disini berbatu. Mana mungkin aku bisa lebih cepat dari ini."
"Kalau seperti ini, kapan sampainya?" gerutu Marjorie pelan.
Dengan nafas yang lemah, Julius menatap wajah gadis yang terlihat sangat khawatir itu. "Lihatlah dirimu. Kau mengkhawatirkan diriku terlalu berlebihan. Aku tidak akan mati."
"Bagaimana aku tidak cemas, kau terluka parah. Dan lebih baik kau simpan tenagamu. Berhentilah berbicara."
"Kau berkata seperti itu seolah-olah aku belum perna terluka selama ini. Tapi apa yang terjadi pada diriku sekarang belum seberapa dari rasa cemasku... Pada Julia."
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi padanya?" tanya Marjorie bingung dengan perkataan Julius.
"Aku tahu kalau dia mungkin masih berada di sekolah, tapi entah mengapa aku merasa kalau dia dalam bahaya."
"Aku perna dengar kalau saudara kembar memiliki ikatan telapati yang sangat kuat antara saudaranya, apa lagi kembar identik. Mungkin itulah yang kau rasakan saat ini."
"Bisa, tolong hubungi dia? Aku, cuman ingin tahu, kalau dia, baik-baik saja," kata Julius semakin tidak terdengar. Kondisinya terlihat semakin melemah dengan bibir yang pucat dan mata mulai terpejam.
"Baiklah."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε