Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kado pernikahan


__ADS_3

Daniel melangkah masuk ke kamar dan segera mengganti pakaiannya dengan texedo hitam lengkap yang ada di dalam paper bag. Selesai berganti pakaian dan menyemprotkan parfum sebagai penyegar, Daniel melangkah keluar dari kamar tersebut. Ia sempat bertanya bagaimana penampilannya pada putra-putrinya. Mereka menjawab 'Sangat sempurna' secara bersamaan. Julia dan Adelia segera menggandeng tangan papanya menuju halaman rumah dimana sang ratu telah menunggu. Julius dan Adelio berjalan berjejer tepat di samping saudara kembar masing-masing.


Sampai disana mereka disambut ratusan lampu-lampu kecil yang tersebar disepanjang jalan. Via dan Briety menebar kelopak bunga mawar begitu mereka lewat. Tepat diujung jalan terdapat lantai dansa dengan enam pilar putih gading berdiri kokoh mengelilinginya. Untaian tirai sutra berwarna putih dengan bordiran mawar merah menjadi dinding diantara pilar. Julius, Julia, Adelio dan Adelia mempersilakan papa mereka naik sendirian ke lantai dansa tersebut. Daniel masih dibuat bingung, apa lagi disaat Ducan mendekatinya dan menyerahkan sebuah busur dan satu anak panah.


"Untuk apa ini?" tanya Daniel begitu menerima busur dan anak panah tersebut.


"Jika kau ingin bertemu dengan istrimu, kau harus memanah satu balon yang berisi bintang. Kau hanya memiliki kesempatan satu kali. Pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan," kata Ducan menjelaskan permainannya.


"Apa tidak ada petunjuk lain?"


"Jika kau sangat mengenal putriku maka kau pasti bisa memilih balon yang tepat."


"Bagaimana jika aku salah?"


"Kau akan mendapat hukuman. Semoga beruntung."


Ducan turun dari lantai dansa menghampiri yang lain. Daniel menarik tali busur tersebut bersiap membidik sasaran yang sudah disiapkan di depannya. Enam balon berwarna merah tertempel di papan diantara huruf D & V yang terbuat dari rangkaian bunga. Setelah yakin akan pilihannya, Daniel menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan sebelum menembak sasaran.


"Semangat papa!" teriak Julia, Adelia dan Adelio memberi semangat.


"Jangan sampai salah pilih," sambung Julius.


"Pikirkan lah baik-baik putraku!" teriak Briety.


"Aku dengar kakak ipar sudah menyiapkan hukuman yang mengerikan untukmu loh. Jadi berhati-hatilah," kata Via menakut-nakuti.


Anak panah dilepas dan melesat cepat menuju sasaran. Tapi bukan enam balon di depannya yang menjadi target Daniel. Anak panah itu malahan menembak pecah balon pink yang ada di ujung pilar tepat di belakangnya. Hal itu membuat salah satu sisi tirai sutra jatuh bersamaan dengan ratusan origami berbentuk bintang berjatuhan di atas kepala Lina yang sendari tadi bersembunyi di balik tirai tersebut.


Daniel berjalan mendekati Lina sambil tersenyum puas. "16 balon merah adalah ulang tahun pernikahan kita. 2 balon hijau adalah bulan pernikahan kita. 22 balon ungu adalah tanggal pernikahan kita. 4 balon kuning adalah anak-anak kita. 1 balon biru adalah aku dan 1 balon pink adalah dirimu. Benarkan ratuku?" Daniel merangkul pinggang Lina dan menariknya dalam pelukannya.

__ADS_1


"Apa kau sudah mengetahuinya dari awal?"


"Aku cuman merasa janggal dengan jumlah dari setiap warna balon yang acak."


"Tidak seru ah!" Lina memasang ekspesi cemberut.


"Oh... Kenapa? Apa kau berencana membuatku gagal agar kau bisa menghukum ku? Tapi nyatanya aku berhasil. Bukankah aku harus meminta hadiah darimu?"


Lina tersenyum. Ia menjetikan jarinya memberi isyarat pada yang lain untuk menembakan anak panah masing-masing ke penahan tirai. Seluruh tirai berjatuhan bersamaan dengan ribuan balon putih terbang ke udara yang jumlahnya sama dengan tahun pernikahan mereka. Daniel dibuat terkesima melihat pemandangan malam bercahaya bulan sabit dipenuhi balon putih yang semakin terbang tinggi.


"Wow... Sejak kapan kau mempersiapkan semua ini?" lirik Daniel pada Lina yang sudah berdiri jauh di luar lantai dansa.


"Sejak kau mengalami hari yang penuh kesialan."


"Oo... Jadi semua itu juga rencanamu. Aku dikerjain habis-habisan rupanya. Tidak aku sangka ternyata mereka semua sepakat menjahilku."


Setelah menarik kain hitam tersebut seketika lampu menyala menerangi sebuah mobil hitam bermerek Bugatti. Dibekali dengan mesin W16 quad-turbo berkapasitas 8.0 liter. Mobil ini bisa mengeluarkan tenaga sebesar 1.500 hp dengan kecepatannya lebih dari 412 Km/jam. Daniel terperangak tak percaya dengan hadiah ulang tahun pernikahan ke 16nya yang begitu menawan. Dielusnya lembut body mobil itu sambil mengitarinya.


"Kau menyukainya?" tanya Lina.


"Kau bertanya? Tentu saja aku sangat menyukainya. Bagaimana bisa kau mendapatkan mobil ini? Setahuku Bugatti cuman memproduksi sedikit mobil jenis ini. Aku saja tidak berkesempatan mendapatkannya."


"Apa kalau lupa siapa istrimu ini?"


"Seharusnya aku tidak bertanya."


"Mobil ini akan jadi milikmu setelah aku mendapatkan hadiahku," kata Lina sambil memutar kunci mobil di jarinya.


"Ini yang membuatku bingung mencarikan hadiah untuk istriku yang mampu memiliki segalanya. Sebuah hadiah mewah tidak akan membuatmu terkesan, jadi aku memutuskan untuk memberimu hadiah kecil ini. Aku harap kau menyukainya."

__ADS_1


Daniel menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang baru saja diserahkan salah satu pelayan padanya. Kotak berwarna putih berpita merah Lina terima dari suaminya. Ia perlahan membuka kotak tersebut. Satu bulir air mata mengalir di pipi Lina begitu melihat isi dari kotak itu. Ia mengeluarkannya dengan hati-hati. Sebuah boneka buatan tangan berkarakter gadis berkerudung merah lengkap dengan membawa kerajangnya.


"Da, dari kau mendapatkan boneka ini?" tanya Lina sambil terus menatap boneka sejuta kenangan itu.


"Aku membuatnya sendiri. Sebisa mungkin aku membuatnya persis sama dengan yang ada di foto ini."


Daniel mengeluarkan selembar foto dari balik toxedonya dan menyerahkannya pada Lina. Dengan tangan gemetar Lina menerima foto tersebut. Itu adalah foto kebersamaan ia dengan Ramona. Waktu itu umur Lina baru 10 tahun dikala Ramona memberikannya sebuah boneka buatan tangannya sendiri. Lina sangat menyayangi boneka tersebut, kemanapun selalu ia bawa bahkan ke sekolah sekalipun. Sampai suatu hari, disemester awal kelas satu SMA. Lina mendapati bonekanya telah dirusak oleh tiga siswi sekelasnya. Lina tentu sangat sedih melihat benda kesayangannya rusak dan hanya menyisakan keranjang dari boneka itu saja. Dengan bermodal ujung jangkar besi yang biasa digunakan untuk mengambar lingkaran pada kertas, Lina menikam leher ketiga siswi itu sampai meregang nyawa.


"Hiks... Terima kasih. Terima kasih telah membawa kembali kenanganku bersama Ramona."


"Jangan menangis," Daniel mengusap air mata di pipi Lina. "Aku memberikan hadiah ini bukan untuk melihatmu menangis. Tersenyumlah."


Lina memasang senyum terbaik nya lalu memeluk Daniel dengan sangat erat. "Ini hadiah terbaik ku," bisiknya.



.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2