Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Lamaran di acara pernikahan


__ADS_3

Dan salah satu momen yang paling di tunggu oleh para gadis adalah disaat pengantin wanita melemparkan karangan bunga. Setelah hitungan ketiga Lina melemparkan karangan bunga yang di tangannya ke arah para gadis dibelakangnya. Karangan bunga mawar tersebut terbang, para gadis berlompatan hendak menangkapnya tapi karangan bunga itu lebih ingin memilih sendiri. Tanpa diduga karangan bunga tersebut mala mengenai wajah Judy yang kebetulan lewat. Kekecewaan menghampiri setiap hati gadis yang gagal mendapatkannya.


"Wah, sepertinya yang akan menikah selanjutnya adalah Judy," kata Lina begitu berbalik dan melihat siapa yang mendapatkan karangan bunga tersebut.


"Mitos itu ternyata benar adanya. Aku rasa ini waktu yang tepat Qazi," Daniel melirik Qazi yang ada di belakangnya.


"Baiklah," sebagai pria sejati, Qazi memberanikan diri melangkah ke hadapan Judy.


"Waktu yang tepat untuk apa?" tanya Lina pada Daniel.


"Lihat saja, kau akan tahu."


Belum cukup terkejut dengan karangan bunga yang tiba-tiba mendarat di wajahnya, Judy tampak kebingungan dengan semua orang yang mundur memberi ruang. Namun dari semua itu ia lebih dikejutkan lagi dengan kehadiran Qazi yang berdiri dihadapannya. Qazi meraih kedua tangan Judy. Ditatapnya lurus mata Judy dalam-dalam.


"Qa-Qazi?" kata Judy dengan bibir gemetar.


"Judy, aku tahu ini agak sedikit terlambat. Sejujurnya aku sudah memperhatikan mu sejak kau pertama kali masuk ke kediaman, tapi aku masih sedikit takut untuk mengatakannya. Hehe, cukup aneh, bukan? Bahkan untukku. Aku takut kau menolak ku. Tapi sejak aku tahu kalau kau..." Qazi melirik sekali pada Daniel yang dibalas anggukan dari Daniel. "Pada kesempatan ini, di acara pernikahan, atas izin dari tuan muda dan nona Lina, dan kebetulan juga kau yang mendapatkan karangan bunganya."


Qazi seketika berlutut di depan Judy. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku jasnya lalu membukanya. Sebuah cincin berlian tampak berkilau memantulkan cahaya lampu ada dalam kotak tersebut. Judy tidak bisa berkata apa-apa. Ia menutup mulutnya sambil menahan air matanya yang telah berlinang.


"Maukah kau menjadi pendampingku di altar pernikahan selanjutnya?"


"I, ini..." Judy menoleh pada Lina seperti ingin meminta bantuan.


"Terima! Terima!" Lina mala bersorak dan diikuti para penonton yang lain. "Terima! Terima! Terima!"

__ADS_1


Judy kembali menoleh pada Qazi yang sedang menanti jawaban. "I, iya. Aku... Aku bersedia," kata Judy dengan anggukan.


Sorakan serta tepuk tangan yang meriah segera mengalun-ngalun. Qazi mengeluarkan cincin yang ada dalam kotak tersebut, kamudian menyematkannya di jari manis Judy. Cincinnya begitu pas sekali menghias disana. Namun dalam kebahagiaan tersebut, ada satu orang mala menangis.


"Huaaa.......haah...." Ira menangis sambil berjalan mendekati temanya, Lina.


"Kenapa kau menangis Ira?"


"Karna aku tidak mendapatkan karangan bunganya."


"Cuman itu. Dasar kau ini. Aku masih ingat, bukankah karangan bunga dulu kau yang mendapatkannya?"


"Aku tahu. Tapi kenapa Judy lebih dulu menemukan jodohnya? Aku rasa mitos itu hanya sekedar mitos belakang," wajah Ira seketika berubah cemberut.


"Suatu hari nanti kau pasti akan bertemu jodohmu. Kalian akan menikah dan membentuk keluarga kecil yang bahagia."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Daniel dan Lina sudah merencanakan bulan madu mereka yang ingin berkeliling di berbagai tempat-tempat populer di negeri Eropa. Mereka berangkat disaat umur Julius dan Julia genap tiga bulan. Sebelum pergi Lina ingin menyempatkan diri mengunjungi makam Ramona di desa. Ducan, Rayner, Briety dan Via juga ikut kesana. Makam Ramona telah berganti dari yang sebelumnya cuman batu berukir namanya kini telah berubah dengan batu nisan marmel putih.


Tepat di makam tersebut Lina memperkenalkan Julius dan Julia pada Ramona. Sedangkan Ducan mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Ramona karna telah merawat putrinya dengan sangat baik. Namun ia terlambat untuk membalas kebaikan tersebut. Ramona telah pergi sebelum Ducan bertemu kembali dengan Lina.


Sepulangan dari makam Ramona, keesokannya Daniel, Lina, Julius dan Julia berangkat sesuai rencana. Hampir sepuluh hari mereka menjelajahi negeri Eropa. Pergi ke tempat-tempat yang sering di datangi turis seperti menara Eiffel di Prancis, Big ben di Inggris, Colosseum di Italia dan berbagai tempat lainnya


Namun dari semua kebahagian itu terselip juga kabar duka. Dua bulan setelah acara pernikahan, tuan besar Flors menghembuskan nafas terakhirnya. Semua orang tentunya merasa kehilangan, termasuk Lina. Ia merasa bersalah karna tidak berhasil menemukan obat penawar untuk tuan besar Flors sebelum ajal menjemput. Beberapa obat yang Lina buat untuk menekan racun dalam tubuh Tn. Flors semakin berkurang khasiatnya jika dikonsumsi secara terus menerus.

__ADS_1


Yang awalnya bisa menekan racun sampai lebih dari tiga bulan, kemudian untuk peminuman obat yang kedua cuman bertahan dua setengah bulan, satu setengah bulan, sampai khasiatnya hanya bisa bertahan seminggu. Sehari sebelum meninggal, dikediaman utama. Tuan besar Flors sempat mengucapkan terima kasih pada Lina karna telah mewujudkan janjinya pada Ariana, yaitu menikahkan Daniel dengan putri kandung Ariana. Serta impiannya kecil ingin melihat cicitnya sebelum ia pergi.


Tuan besar dimakamkan di pemakaman keluarga yang ada diluar kota, bersebelahan dengan makam istri tercintanya. Iring-iringan mobil mengantar kepergian tuan besar Flors untuk terakhir kalinya. Acara pemakan tersebut berjalan lancar tanpa gangguan. Rayner yang sebagai putra pertama tentunya diangkat menjadi kepala keluarga Flors menggantikan ayahnya. Sang adik, putra kedua tidak keberatan soal itu. Ia tidak terlalu tertarik menjalankan bisnis keluarga. Ia lebih suka mengembangkan usaha yang digelutinya agar bisa berkembang lebih pesat lagi.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Di tahun berikutnya, Lina berhasil menyelesaikan study nya di universitas kedokteran. Walau sempat mengalami ketertinggalan akibat beberapa masalah yang datang silih berganti. Berkat usaha dan kerja kerasnya, Lina akhirnya bisa menyelesaikan studynya tepat waktu dan mendapatkan nilai tertinggi, mengalahkan ratusan mahasiswa/mahasiswi lainnya. Ini merupakan pencapaian besar untuknya dan kebanggaan untuk keluarga nya. Dengan pakaian wisuda lengkapnya Lina naik ke atas podium untuk menerima surat kelulusannya. Lina memberi lambaian pada Daniel, Julius, Julia, Ducan, Rayner, Briety dan Via yang duduk di kursi khusus yang disediakan pihak universitas.


"Selamat atas kelulusanmu, sayang," Daniel memberi kecupan di dahi Lina begitu Lina menghampiri.


"Kau membuatku menjadi ayah yang bangga," Ducan memberikan rangkaian bunga besar untuk putrinya itu.


"Terima kasih, ayah."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2