
Sampai matahari terbenam pun Julia dan Nisa tidak kunjung menemukan satupun rekan tambahan. Semua orang yang mereka ajak kebanyakan sudah memiliki kelompok dan sisanya tidak mau ikut lomba tersebut karna alasan tertentu. Julia menyadarkan tubuhnya di kursi taman. Mereka berdua terlalu lelah untuk kembali ke kamar sekarang ini.
"Tidak ada pilihan lain selain Sean, jika kita ingin mengikuti perlombaan tersebut," kata Nisa yang lelahnya dengan Julia.
"Sean ya Sean. Orang itu pasti mengasut semua siswa supaya tidak mau ikut ke dalam tim kita. Secara ia bisa melakukan apapun agar kita tidak punya pilihan lain selain memilihnya."
"Dia yang paling berusaha keras untuk mendekati mu. Sepertinya ia sungguh sangat menyukaimu, Julia."
"Tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Dia itu selalu mengganggu ku dan lagi cara bicaranya itu membuatku jengkel. Apa yang bisa aku sukai dari dia?"
"Lalu tipemu itu yang bagaimana?" tanya Nisa iseng-iseng.
"Ya... Paling tidak yang seperti kakak lah. Walaupun berwajah dingin tapi perhatian dan lemah lembut. Namun kakak ku terlalu mengerikan saat marah dan ia juga sering membuatku kesal dengan setiap ucapnya."
"Oh... Ternyata tipe Julia itu yang seperti kakaknya sendiri. Bagaimana jadinya kalau ketiga tuan muda itu tahu?"
"Apa?" dengan pipi merona, Julia baru sadar atas apa yang ia katakan barusan. "Nisa...! Kau sengaja ya!!"
"Kabur...!"
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Nisa berlari kabur dari kerjaran temannya itu. Sesekali ia mengihidar disaat Julia hampir saja berhasil menakapnya. Karna tidak sempat mengerem, Nisa tanpa sengaja menabrak seorang pria yang sedang lewat di taman itu.
"Fiuhh... Hampir saja," beruntung pria itu berhasil menangkap tangan Nisa sebelum Nisa terbaring di tanah.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Julia sambil menghampiri.
"Iya. Kami baik-baik saja. Ma, maaf karna menabramu barusan. Aku sungguh tidak sengaja," Nisa menyatukan telapak tangannya minta maaf pada pria itu.
"Makanya, lain kali hati-hati, Nisa."
Pria itu membantu memasangkan kembali kacamata Nisa yang baru saja ia pungut di reruputan. Nisa hanya mematung disaat pria itu menyematkan kacamatanya.
"Te, terima kasih." kata Nisa dengan cepat tersadar. Ia segera memalingkan wajahnya yang malu.
"Kau mengenalnya?" tanya Julia pada pria itu sambil menunjuk Nisa.
"Oh, aku lupa mengenalkan diri. Namaku Chris Fliedle. Putra kedua dari keluarga Fliedle. Aku hadir di pesta perjamuan yang diadakan Tn. Zack. Di sana lah aku mengenal kalian. Para gadis yang menjadi pusat perhatian pada malam itu."
"Kau murid baru disini?"
__ADS_1
"Iya. Darimana kau tahu?"
"Cuman menebak."
"Tebakan yang bagus. Jadi apa yang kalian lakukan malam-malam di taman ini?"
"Kami tadinya mau mencari seorang siswa yang mau ikut dalam lomba sains dan teknologi, tapi tidak tidak ada yang mau. Kebanyakan mereka sudah memiliki tim sendiri."
"Kenapa harus siswa? Kenapa tidak siswi saja?"
"Ini karna kakak ku dingin itu. Secara kakak ku itu banyak penggemarnya. Jika kami mengajak seorang siswi, jangan membuat kakak ku jengkel saja. Nanti dia yang malah keluar dari tim. Itukan bisa gawat. Maka dari itu untuk mengantisipasi kami lebih mencari seorang siswa," jelas Julia.
"Kakakmu memang ramai digemari banyak gadis. Di kelas sains sore tadi saja para siswi begitu hebohnya..."
"Tunggu, kau juga ikut klub sains?" potong Julia.
"Iya."
"Benarkah? Apa kau mau satu tim bersama kami?" kata Julia langsung menawarkan.
"Aku sih sebenarnya mau saja, tapi sayangnya aku sudah ada kelompok dan juga kami telah memiliki bahan untuk perlombaan nanti. Maaf ya."
"Kami sudah tahu sejak seminggu yang lalu. Ada kakak kelas yang memberitahukan tentang perlombaan ini."
"Dan kakak kelas itu pasti Sean."
"Sebaiknya kalian kembalilah ke kamar kalian. Udara malam mulai terasa dingin."
"Aku rasa kau benar. Kami kembali ke asrama dulu. Dah..." Julia menghadang tangan Nisa yang sendari tadi diam.
"Dah..." balas Chris. Ia terus memperhatikan dua gadis yang berjalan di depannya dan semakin menjauh. "Ternyata dia gadis yang pemalu. Hihi... Aku jauh-jauh pindah ke sekolah ini cuman untuk bertemu dengannya. Tapi sudah lebih dari seminggu, ini pertama kalinya aku berbincang dengannya, itupun karna tidak sengaja. Hah... Sebaiknya aku lebih berani lagi.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Kesokannya, di jam istirahat. Mereka berempat berencana berkumpul untuk mendiskusikan perihal perlombaan sains dan teknologi ini. Agar lebih leluasa berbincang, Sean sudah meminta ruangan khusus dari kepalah sekolah. Di ruangan ini juga akan menjadi tempat kerja dan uji coba dari project mereka nanti. Dengan terpaksa Julia setuju Sean bergabung ke dalam tim mereka, begitu juga dengan Julius. Tapi ada syaratnya. Diharapkan Sean untuk kurangi bercandanya dan lebih serius lagi dalam berkerja.
"Kita mau buat apa untuk perlombaan nanti? Waktu kita cuman sebulan loh," tanya Nisa.
"Ada banyak yang bisa dibuat dalam jangka waktu sebulan, tapi bisa menang atau tidaknya yang menjadi pertanyaan. Secara kelompok lain sudah memulai lebih awal. Kemungkinan project mereka telah setengah jalan," ujar Sean.
__ADS_1
"Buat yang sederhana saja namun bisa memukau para juri, selesai."
"Mudah bagimu bicara kak. Lalu bentuk yang sederhana itu apa?" tanya Julia yang sendari tadi memainkan pensil di jarinya.
"Em... Aku punya banyak usulan sederhana. Seperti membuat miniatur simulasi bencana gempa bumi, banjir, tsunami atau..."
"Serangan meteor yang dilakukan oleh alien," potong Yusra bercanda.
"Ee! Jangan mulai!" dengan kesal Julia mengepalkan tinjunya di hadapan Sean.
"Tidak bisa. Aku dengar kelompok lain ada yang membuat itu."
"Bagaimana kalau Turbin angin? Rangkaian listrik bertenaga surya? Sumber daya baru?"
"Hei, kita kembangkan teknologi yang sudah ada menjadi lebih efisien dan praktis?" kata Sean mencoba memberi saran.
"Teknologi mana yang mau kau kembangkan dalam kurun waktu sebulan ini? Ilmuan saja butuh bertahun-tahun untuk melakukannya," tanya Julius.
"Teknologi? Benar juga. Inikan perlombaan sains dan teknologi. Kenapa kita tidak membuat robot saja?" usul Julia bersemangat.
"Membuat robot? Apa cukup waktunya Julia?" Nisa sedikit ragu akan hal itu.
"Iya Julia. Bahan-bahannya saja kita tidak ada, apa lagi rancangan robotnya," Sean juga sependapat dengan Nisa.
"Tenang, semuanya tenang. Aku memiliki cetak biru dari rancangan robot setengah jalan yang pastinya bisa membuat kita menang. Aku tinggal meminta papaku kiriman cetak biru itu berserta semua perlengkapan robotnya. Jadi kita tinggal melanjutkannya saja. Dijamin kita dapat menyelesaikannya sebelum jadwal perlombaan."
"Wah... Julia memang luar biasa," puji Nisa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε