
Marjorie menjelaskan semua yang terjadi pada Tn. Flors dan Tn. Cershom. Dari awal sampai Julius berakhir di ruang operasi tanpa ada yang terlewat satupun. Yusra membenarkan apa yang dijelaskan Marjorie. Setelahnya tidak ada percakapan lain yang terjadi. Karna hari sudah semakin larut, Adelio tidak bisa menahan kantuknya lagi. Ia tertidur dipangkuan Ducan. Tak berselang lama Adelia juga ikut terlelap namun ia lebih memilih tidur di pangkuan Marjorie.
"Bagaimana keadaannya, kucing kecil?" tanya Daniel begitu Lina keluar dari ruang operasi.
"Operasinya berjalan sukses. Kondisinya stabil dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kita tinggal menunggu Julius sadar, mungkin besok pagi," jelas Lina. Ia tampak lelah setelah melakukan operasi.
"Syukurlah kalau cucuku baik-baik saja. Aku sungguh takut terjadi sesuatu padanya," ujar Ducan.
"Putraku sangat kuat. Sudah pasti ia dapat bertahan."
"Apa lagi kalau kau ada disini. Aku sangat yakin Julius akan selamat. Kau merupakan dokter bedah terhebat di ibu kota," puji Daniel pada istrinya.
Krrrriiiing......
Marjorie sedikit dibuat terkejut dengan suara dan getar hp yang ada di sakunya. Ia baru ingat kalau hp Julius masih ada padanya. Ia mengeluarkan hp tersebut dan melihat siapa yang menelpon.
"Julia telpon," katanya memberitahu yang lain.
"Coba diangkat dan beritahu dia tentang kondisi kakaknya saat ini. Dia akan mengamuk jika tidak diberitahu," pinta Lina pada Marjorie.
"Baik," Marjorie mengangkat telpon tersebut. "Julia, ada sesuatu yang..."
"Julius, syukurlah kau cepat..."
Kata Marjorie dan Rica bersamaan. Namun kalimat mereka langsung terhenti begitu tahu suara dibalik telpon tersebut bukanlah suara dari pemilik hp. Orang-orang disekitar mereka dibuat ikut bingung.
"Siapa ini?" tanya mereka bersamaan lagi. Harus ada salah satu yang mengalah diantara keduanya.
__ADS_1
"Ini aku, Marjorie."
"Marjorie? Kenapa hp Julius ada padamu? Dimana Julius sekarang?" tanya Rica.
"Dia... Untuk sekarang dia tidak bisa menjawab telponnya. Julius baru saja selesai di operasi..."
"Apa?! Operasi? Jadi dia yang dimaksud dokter remaja laki-laki yang di operasi itu."
"Dokter? Dimana kau sekarang? Jangan bilang kalau Julia juga..."
"Iya. Julia saat ini terluka dan dalam masa kritis. Sudah setengah jam yang lalu ia di ruang operasi," jelas Rica.
"Hah?!" Marjorie sangat kaget mendengarnya. Ia menutup mulutnya agas suaranya tidak keluar karna tidak mau membangunkan Adelia dan Adelio.
"Ada apa Marjorie? Apa yang terjadi pada Julia?" tanya Daniel.
"Bagaimana bisa kedua cucuku terluka di waktu bersamaan?"
"Ini juga bukan kali pertama mereka berdua terluka secara bersamaan. Tapi apa yang terjadi pada Julia sampai ia terluka parah? Walaupun Julia ceroboh tapi ia sangat jarang terluka," ujar Daniel.
"Masa kritis ya. Dimana ruangan Julia di operasi? Aku harus menyelamatkan satu anakku lagi. Tak akan kubiarkan terjadi apa-apa padanya. Yang satu selamat, yang lainnya juga harus selamat."
Lina terlihat paling tegar setelah mendapatkan cobaan ini. Putra dan putrinya sekarang sedang terluka dan sebagai dokter serta ibu mereka, Lina harus menjalankan tugasnya. Biarpun Lina tidak mampu mencegah dan melindungi setiap anggota keluarganya namun setidaknya ia dapat menyelamatkan mereka. Marjorie menunjukan letak ruang operasi tersebut pada Daniel dan Lina setelah diberitahu Rica. Sedangkan Ducan dan Yusra membopong Adelia dan Adelio menuju kamar inap dimana Julius berada saat ini. Tidak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai diruang operasi itu karna memang terletak tidak berjauhan. Sampai disana mereka bertemu dengan Rica dan Nisa. Sama seperti sebelumnya, Lina menerobos begitu saja ruang operasi tersebut. Namun kali ini para perawat sama sekali tidak mencegat Lina. Mereka malah segera membantu Luna untuk bersiap-siap.
"Kami memang bermaksud memanggil anda, dokter Veliana. Kondisi pasien semakin kritis. Terdapat racun mematikan yang telah menyebar ke aliran darahnya," jelas salah satu perawat begitu melihat Lina masuk.
"Racun itu tidak akan membahayakan nyawanya. Jelaskan keseluruhan situasi pasien saat ini."
__ADS_1
"Baik. Terdapat luka sedalam 7 sentimeter dengan lebar 3 sentimeter dibagian perut pasien yang melukai organ liver. Tiga dari organ vital pasien dalam kondisi normal, otak, liver dan ginjal. Detak jantung pasien tidak stabil dan sistem pernapasnya melemah," jelas perawat tersebut.
"Baiklah. Semuanya ikuti arahanku tanpa ada yang membantah sedikitpun. Dia tidak akan pergi selama aku masih ada disini. Mama akan menjemputmu pulang sayang."
Dengan segenap kemampuannya Lina mengambil alih operasi tersebut. Ia mengarahkan semua perawat yang ada di ruangan itu. Mereka mengikuti semua perintah Lina walau ada beberapa dari arahan tersebut yang membuat mereka sedikit ragu-ragu. Namun ketegasan Lina membuat mereka percaya kalau Lina pasti bisa menyelamatkan nyawa pasien.
Sementara itu, di luar. Daniel bertanya pada Nisa dan Rica apa yang terjadi sebenarnya. Nisa tentunya masih tidak mau berbicara. Mendengar pertanyaan yang membuatnya kembali mengingat kejadian tersebut saja ia malah meneteskan air mata. Bagaimana mau bercerita? Rica menceritakan semua yang terjadi, dari rencana ia menculik Nisa untuk memancing Julia ke vila tua itu, Delfa yang ternyata penyamaran dari Lady Blue dan merupakan teman lama Julia, Marjorie cukup kaget begitu mengetahui hal ini. Ia membenarkan kalau umur Ledy Blue memang tidak berjauhan dengan umurnya. Rica melanjutkan ceritanya kalau sebenarnya Lady Blue ikut jadi korban. Pelaku yang sesungguhnya dari masalah ini adalah pengurus Hans atau lebih tepannya pangeran luar kerajaan Denmark.
"Oh, ternyata dia pelaku sebenarnya. Dia sungguh berani mencelakai putriku sampai seperti ini! Dia mana dia sekarang?!! Aku mau membunuh dia dengan tanganku sendiri!" geram Daniel dengan aura membunuh yang kuat. Amarahnya benar-benar meluap-luap saat mendengar cerita tersebut.
"Harap tenangkan dirimu, Tn. Flors. Pangeran Hans sudah mati. Nisa sudah membunuhnya untuk membalaskan dendam putri anda," kata Rica mencoba menenangkan Tn. Flors.
"Nisa?"
Daniel dan Marjorie cukup dibuat terkejut mendengarnya. Mereka menoleh ke arah Nisa yang masih tertunduk lesuh itu. Walau ada keraguan dalam benak mereka kalau gadis pemalu seperti Nisa dapat dengan berani membunuh seseorang, tapi apa yang aneh dengan itu? Daniel sudah sering melihat orang yang memiliki kepribadian pemalu malah bisa berbuat lebih kejam dari pada orang yang tampak pemberani.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε