
"Ternyata selain saudara ibu, masih banyak lagi yang mengincar rumah lelang ini," Lina tertunduk lesu sambil menatapi liontinnya.
"Jangan takut. Tidak akan kubiarkan mereka berhasil mendapatkan Token itu, dan juga melukaimu. Aku pasti melindungi mu dengan nyawa ku."
"Iya, iya, kau akan menlindungiku. Tapi untuk sekarang aku ingin makan."
"Aku harap itu bukan es krim."
"Tidak. Sekarang ini aku ingin makan Omelet."
"Omelet? Apa itu?"
"Ka, kau tidak tahu?"
"Tidak."
"Omelet itu sejenis olahan telur dan kentang. Ramona dulu sering membuat Omelet untuk sarapan. Rasanya enak sekali. Aku sangat menyukainya," Lina sedikit murung begitu teringat Ramona.
Daniel mengelus pelan rambut Lina. "Baiklah, aku akan memanggil koki ahli untuk mebuatkan Omelet kesukaanmu itu. Kau bisa makan sepuas hatimu."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Sore hari, Ducan mampir ke rumah Daniel. Ia ingin meminta obat penawar untuk Violet. Ia datang sendirian, bahkan tanpa seorang sopir.
"Selamat sore Tn. Cershom," sambut Emma begitu membuka pintu.
"Apa Lina ada?"
"Ada. Silakan masuk Tn. Cershom. Saya akan panggilkan nona Lina."
Emma mempersilakan Ducan masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Ia berlalu pergi memanggil Lina. Sampai di tangga, bukannya naik ke atas, Emma mala berteriak memanggil Lina.
"Nona Lina, ayahmu datang!"
"Iya, aku segera turun sekarang!" balas Lina dengan teriakan juga.
Ducan sedikit terkejut. Ia hanya melirik Emma yang berlalu menuju dapur. "Pelayan di rumah Daniel sungguh unik. Sangat berbeda dari para pelayan yang sering aku jumpai di rumah-rumah mewah lainnya."
Tak berselang lama Lina turun. Dan tepat di tangga ia berpapasan dengan Emma yang membawakan teh panas dan kue jahe untuk mereka.
"Asik, ada kue jahe," Lina mengambil sepotong kue itu lalu memakannya sambil berjalan menuju sofa. "Selamat sore ayah," sapa Lina. Ia mengambil tempat duduk disamping ayahnya.
"Sore."
"Silakan minum Tn. Cershom," ujar Emma setelah menyajikan teh dan kue jahe itu. Kemudian ia berlalu pergi.
"Ada perlu apa ayah menyempatkan datang sore ini?" tanya Lina.
__ADS_1
"Ini soal Violet. Kau tahukan, sudah sebulan," kata Ducan dengan nada isyarat.
"Ah... Iya. Lalu dimana dia? Violet tidak datang bersama ayah?" tanya Lina yang celingak-celinguk.
"Dia ada di rumah, merengek seharian karna sakit perut. Aku datang sendirian untuk meminta obat penawar itu untuknya."
"Ayah cukup baik padanya sampai ayah sendiri yang mau memintakan obat untuknya."
"Ada dua alasan. Yang pertama, aku tidak tahan mendengar rengekannya. Dan yang kedua, aku memang ingin berkunjung kemari."
"Hm, padahal aku ingin mendengar ia memohon lagi padaku untuk mendapatkan obat pernawar itu."
"Tidak untuk saat ini. Kau tidak bisa mengancamnya," kata Ducan setelah menyerumput tehnya.
"Eh? Kenapa?"
"Karna ini hukumanmu. Siapa suruh kalian membuatku basa kuyup di malam perjamuan itu."
"Hah?! I, itu bukan aku. Semuanya ide Via."
"Sama saja toh. Tidak perlu mengelak"
"Hah... Baiklah. Aku minta maaf. Akan repot juga kalau Violet sakit. Aku ambil obatnya dulu di kamar."
Lina berdiri dan melangkah pergi menuju kamar. Baru lima langkah dari sofa, Qazi datang dan langsung bertanya pada Lina seperti biasa.
"Lina, dimana tuan muda?"
"Apa, ayahmu?!" Qazi baru sadar kalau disana ada Ducan. "Matilah aku. Aku tidak tahu kalau Tn. Cershom ada disini. Apa yang dia pikirkan kalau aku terbiasa memanggil langsung nama putrinya?"
"Kenapa wajahmu tegang begitu, Qazi? Ayahku tidak menggigit."
"Oh, tentu saja tidak," kata Ducan sambil menyeringai begitu melirik Qazi.
"Memang tidak menggigit tapi senyumnya mengerikan," gumang Qazi pelan.
"Mari duduk Tn. Qazi. Apa perlu saya tuangkan teh untukmu?"
"I, itu tidak perlu Tn. Cershom. Anda jangan merendah."
"Sudah, duduk saja disana. Tidak seperti biasanya sikapmu berubah anieh begini."
Lina mendorong Qazi mendekati ayahnya, setelah itu ia berlalu pergi. Dengan tubuh sedikit gugup, Qazi mengambil tempat duduk di sofa ruang tamu itu. Suasana ini membuat Qazi menjadi canggung.
"Namamu Qazi, kan? Kau merupakan salah satu orang kepercayaan Daniel," kata Ducan memulai percakapan.
"Iya."
__ADS_1
"Sudah berapa lama kau mengikuti Daniel?"
"Sejak saya masih kecil. Kami khusus dilatih dan dibesarkan untuk melindungi tuan muda."
"Bagaimana menurutmu perlakuan Daniel terhadap kalian?"
"Tuan muda memperlakukan kami dengan baik, dia peduli terhadap bawahannya, walau itu tidak perna ditunjukan secara langsung pada kami. Tapi kami tahu itu. Serta tuan muda merupakan orang yang tegas dan cuman bersikap kejam terhadap musuh-musuhnya saja."
Suasana perlahan-lahan berubah santai.
"Kalian sudah diperlakukannya layaknya keluarga. Kehangatan di rumah ini sungguh terasa."
"Em... Sebenarnya semua ini berkat putri anda. Dulu kami sangat segan terhadap tuan muda dan menghormati dia. Setiap bertemu dengan tuan muda kami akan bersikap formal dan takut jika berbuat kesalahan sedikitpun. Tapi, sejak putri anda masuk dalam kehidupan tuan muda, suasana dalam rumah ini menjadi ceria. Raut wajah dingin tuan muda jarang terlihat lagi. Hal itu membuat sikap kami perlahan-lahan berubah santai disaat berhadapan dengannya. Interaksi bersama tuan muda kini menjadi seperti layaknya seorang teman dari pada antara atasan dan bawahan. Kehadiran Li... Em... Nona Lina membawa perubahan besar bagi kami."
"Sepertinya kau lebih terbiasa memanggil nama putriku secara langsung."
"Maaf Tn. Cershom. Saya memang terbiasa memanggil namanya secara langsung kecuali di depan tuan muda, dan nona Lina sendiri tidak keberatan soal itu. Ia mala merasa aneh kalau saya memanggilnya dengan sebutan nona."
"Dia sama seperti ibunya. Ariana juga tidak suka terlalu dihormati bawahannya. Ia bahkan lebih suka melakukan pekerjaan rumah tanganya sendiri dari pada duduk diam dan memerintahkan puluhan pelayan untuk melakukannya. Aku perna bertanya padanya, kenapa ia lebih suka melakukan itu? Ia hanya menjawab, karna ia suka saja melakukannya."
"Hei, hei. Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru," kata Lina begitu menghampiri mereka.
"Tidak ada," jawab Ducan.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita. Ini obat penawarnya. Ada dua dosis di botol ini, tapi Violet cukup makan satu dan untuk yang satunya dimakan jika kambuh lagi. Biasanya dua atau tiga hari lagi akan kambuh," jelas Lina. Ia memberikan botol putih kecil itu pada ayahnya.
Ducan menerima botol tersebut. "Terima kasih."
"Kau memang sangat ahli dalam hal ini," ujar Qazi.
"Bukan apa-apa. Aku tumbuh di desa sejak kecil. Jadi aku mengenal banyak tumbuhan racun dan obat."
"Ayah sungguh minta maaf. Kau pasti sudah sangat menderita selama ini," Ducan meraih tangan Lina dan digenggamnya erat tangan mungil itu.
"Semua nya sudah berlalu, sekarang mari hadapi masa depan. Aku minta ayah jangan merasa bersalah lagi tentang masa lalu itu. Kita cukup mengambil hikmahnya dan belajar dari itu."
"Kalimat yang indah," kata Daniel yang tiba-tiba memeluk Lina dari belakang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε