Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tantangan


__ADS_3

"Sebenarnya kami mau mengajak berkerja sama dengan tante Joe. Aku ingin membalaskan dendam ibuku, tapi kami tidak tahu siapa mereka. Karna itu kami menemui mu untuk menyatakan pemindahan kepemilikan rumah lelang ke Violet," jelas Lina.


"Apa?! Tidak! Aku sudah bersumpah dengan nyawaku untuk tidak menyerahkan kepemilikan rumah lelang pada siapapun kecuali pada pemilik Token yang sah. Sebaiknya beri aku alasan yang memuaskan, kalau tidak lupakan saja."


"Joe, aku tahu kesetiaanmu, tapi ini demi Ariana. Untuk mengetahui siapa yang telah membunuhnya hanya ini satu-satunya cara. Aku mengadopsi Violet memang untuk memancing mereka keluar namun itu belum cukup. Sepertinya mereka menunggu penggantian kepemilikan barulah melancarkan aksinya. Awalnya aku juga tidak menyetujui hal ini, menyerahkan Token kepemilikan pada gadis manja itu walaupun dalam kepura-puraan," Ducan menggeleng pelan. "Tapi ini demi keselamatan putriku. Aku tidak mau kehilangan dia lagi."


"Hah... Baiklah. Ikut aku."


Joe berdiri dan mengajak mereka ke suatu ruangan rahasia di gedung itu. Ruangan itu terletak di bagian inti gedung, tersembunyi diantara ruang-ruang lainnya. Penjagaan disana super ketat. Terdapat belasan anggota bersenjata yang berjaga di setiap pintu. Setelah melewati beberapa pintu sampailah mereka di pintu terakhir yang kuncinya adalah sidik jari dan mata Joe. Itu memungkinkan tidak ada satupun orang yang dapat masuk ke ruangan tersebut selain dia. Ternyata ruangan yang mereka masuki saat ini adalah ruangan tempat penyimpanan harta. Lina tercengang melihat tumpukan emas batangan disisi kiri dan kanannya. Tapi bukan ruangan ini tujuan mereka.


"Ini merupakan sebagian kekayaan dari gedung ini. Sebagian lagi tersimpan dalam bentuk batu permata dan uang tunai. Dari pertama bagunan ini berdiri, sebagian besar penghasilan yang di dapat memang di simpan sendiri. Tapi jangan khawatir. Pengamanan di ruangan ini sangat aman terjaga. Selai CCTV yang tersebar di setiap sudut, terdapat sistem pengaman robotik yang tersembunyi. Sistem ini secara otomatis menembak mati siapapun yang mencoba menerobos masuk. Dinding yang melapisi ruangan ini tahan terhadap ledakan, biarpun ledakan tersebut menghancurkan seluruh gedung ini sekalipun," jelas Joe sambil melewati ruangan tersebut.


Sampai di ujung ruangan. Muncul sensor kunci yang muncul di dinding kosong iti begitu Joe meletakan tangannya disana. Tiba-tiba sebuah pintu rahasia terbuka. Ruangan yang beisi layar monitor besar berserta perangkat komputer menyambut mereka. Pintu perlahan menutup secara otomatis disaat mereka masuk ke ruangan tersebut. Joe segera menyalakan perangkat itu dan jari-jarinya mulai aktif menari di atas keyboard.


"Berdirilah di dalam lingkaran Lina," pinta Joe tampa melirik Lina. Tangannya masih sibuk di atas keyboard.


"Baiklah," Lina segera mengikuti apa yang dikatakan Joe.


"Letakan seluruh jarimu disini," tunjuk Joe pada layar kecil di depan Lina.


Walau tidak tahu apa maksud semua ini, tapi Lina tetap mengikuti semua yang dipinta Joe. Setelah layar itu berubah menjadi hijau barulah Lina menurunkan tangannya. Tidak sampai disitu, mata, wajah sampai sempel darahnya pun ikut di masukan ke dalam data komputer itu. Semenit kemudian Joe selesai dengan apa yang dikerjakannya.

__ADS_1


"Aku sudah memasukan seluruh data mu dan juga telah mengganti kepemilikan dari rumah lelang Red Krisan. Sekarang kau secara resmi telah menjadi pemilik sah dari tempat ini. Selagi kau masih hidup, tidak akan ada yang bisa menggatikanmu sampai kau mewariskan liontin itu ke anak perempuanmu. Dan tentunya sekarang kau bebas keluar masuk ke ruangan ini," Joe berdiri lalu sedikit membungkuk badannya dengan tangan kanan berada berada di atas dada kiri. "Selamat datang bos. Sebagai wakilmu aku akan mendampingmu mengurus perusahan dan akan selalu setia padamu."


"E... Ini... Aku sungguh belum siap akan hal ini. Semuanya berlalu terlalu cepat."


"Perlahan-lahan kau akan terbiasa. Aku akan membimbing mu, dimulai dari melihat pembukuan keuangan perusahaan."


"Baiklah. Mohon kerja samanya di masa depan."


"Dengan begini aku baru merasa lega. Apa rencana kalian agar bisa membalaskan dendam Ariana?" tanya Joe sambil melangkah keluar dari tempat itu, di ikuti Lina dan Ducan.


Ducan segera menjelaskan susunan rencana mereka pada Joe sambil berjalan keluar.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Keluar kau Samuel!!!" teriak Daniel sambil menedang pintu. "Aku tahu kau ada disini! Keluarlah kau! Jangan terus bersembunyi seperti pengecut!!"


Daniel terus mencari ke setiap ruangan ke ruangan tapi ia tidak menemukan orang yang ia cari. Namum hal itu tidak membuat ia menyerah. Ia percaya kalau Samuel ada di gedung itu. Ia terus mencari sampai naik ke atap bangunan tersebut. Disana ada seorang pria berdiri dalam kegelapan malam membelakangi Daniel. Dengan penerangan mini Daniel masih bisa mengenali siapa dia. Rambut pirang berponi yang hampir menutupi mata itu berterbangan ditiup angin begitu ia berbalik.


"Daniel, teman lama ku. Apa maksudnya semua ini? Kenapa kau tiba-tiba menyerang markasku?" tanya Samuel dengan senyum licik diwajahnya.


Dengan pistol yang Daniel acungkan pada Samuel. Ia berjalan mendekatinya. "Kau yang lebih tahu Samuel. Jangan berpura-pura lagi. Kau kan yang menyusukan orang ke anggota ku, agar mereka bisa memberitahumu jadwal pengiriman barang, dan juga kau yang telah melaporkannya ke polisi sehingga aku mengalami kerugian lebih dari ratusan juta dolar!"

__ADS_1


"Tuduhan yang mengerikan. Tapi apa kau punya butik aku yang melakukannya?"


Daniel melemparkan belati yang ia dapat dari penyusup siang tadi. "Salah satu bawahanku mengenali ukiran di belati itu. Ukiran tersebut sama persis dengan belati milik salah satu anggotamu yang hadir di pesta itu. Oh, iya. Aku belum menagih hutang mu atas penyerangan di malam pesta tersebut. Menurutmu kau mau membayarnya dengan apa?"


"Hahaha... Aku tidak menyangka kalau aku akan ketahuan hanya karna ukiran disebuah sarum belati."


"Aktingmu terlalu buruk Samuel. Dengan sikap tenang mu itu kau pasti sudah tahu tentang penyerangan ini. Apa yang telah kau rencanakan?"


"Tidak ada. Aku memancingmu ke atas sini hanya ingin berduel denganmu, tampa senjata dan cuman menggunakan tangan kosong saja, bagaimana? Apa kau menerima tantangan ini?"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2