Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Teman sekamar


__ADS_3

Julia dan Nisa merapikan barang bawaan mereka ke dalam lemari yang tersedia. Ruang kamar luas yang terdiri dari empat tempat tidur berada di atas dengan meja belajar tepat dibawahnya, masing-masing lemari pakaian, satu set sofa berserta meja dan ruang kamar mandi. Julia memilih tempat tidur yang berada paling ujung dekat dengan pintu balkon, sebelahnya Nisa, dihadapannya Wendy dan didekat pintu masuk iyalah Febby.


Selesai membereskan semua barang-barangnya, Julia berjalan keluar menuju balkon. Dari atas lantai tiga tempatnya sekarang, ia bisa melihat hampir keseluruhan kawasan sekolah. Dua bangunan terpisah dihadapannya merupakan gedung sekolah, bangunan sebelah kiri dari asrama perempuan adalah asrama laki-laki, satu bangunan paling depan dan memiliki menara adalah perpustakaan. Ada satu bangunan bergaya eropa klasik dengan taman yang luas mengelilinginya, tepat di depan bangunan itu ada sebuah air mancur. Bangunan itu terletak bersebelahan dengan danau yang ada disamping kii gedung sekolah. Itu pasti asrama khusus.


"Hei, bagaimana kalau kita berkeliling sebentar sambil menunggu jam makan siang?" saran Wendy yang sudah berada disamping Julia.


"Boleh juga."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Berbeda halnya dengan Julius. Disaat ia baru mengetuk pintu, ia sudah disambut dengan orang yang seketika membuat ia jengkel. Seorang pria berambut coklat dan bermata hazel dengan tingkah bodohnya menyapa Julius.


"Selamat pagi. Kau pasti salah satu murid yang satu kamar dengan kami. Perkenalkan namaku Jeffri, orang pang tampan dan akan membuat semua gadis disekolah ini jatuh hati padaku..." Jeffri terus mengoceh membanggakan dirinya sendiri.


"Sebaiknya aku minta kamar lain saja," kata Julius dengan raut wajah datar.


"Et... Tunggu, tunggu. Jangan pergi. Aku..."


Jeffri hendak mencegat Julius agar tidak pergi, namun ia dikagetkan dengan kemuculan ular putih yang melingkar di krah baju Julius. Ular itu mendesisi memperlihatkan taringnya dari mulutnya yang terbuka lebar. Jeffri sampai termundur cukup jauh sangking kaget nya.


"A, ada ular di pundakmu," tunjuk Jeffri dengan tangan gemetar.


"Ini peliharaan ku, namanya Pieper. Kalau kau tidak ingin digigit olehnya, sebaiknya jangan menyetuhku sembarangan karna ia paling tidak suka hal itu."


"Micropechis ikaheka, merupakan jenis ular paling berbisa dan dapat membunuh seseorang dalam hitungan menit. Familia dari jenis ular elapidae seperti weling, king kobra, black mamba dan taipan. Ular jenis ini biasanya memiliki racun Neurotoksin (menyerang saraf), Hemotoksin (menyerang darah), Kardiotoksin (menyerang jantung) dan Sitotoksin (menyerang sel). Benar, kan?" ujar seorang pria yang sendiri tadi duduk di depan meja belajarnya.


"Iya. Dari mana kau tahu?" pengetahuan pria itu sedikit membuat Julius tertarik.


"Dulu aku punya satu tapi tidak seputih milikmu itu. Umumnya Micropechis ikaheka memiliki tubuhnya agak gemuk dengan ekor yang ralatif pendek. Kepala kecil tetapi dapat dibedakan dari lehernya. Matanya kecil dengan biji mata yang bulat. Kepala berwarna terang sampai kelabu gelap. Bibir, leher dan dagunya kekuning-kuningan. Lehernya berwarna kuning atau krem, kadang kala ujung sisik-sisiknya berpigmen gelap. Pada bagian tengah badannya berwarna coklat kemerah-merahan dengan belang-belang sisik berwarna gelap atau kehitam-hitaman. Belang tersebut ke bagian posterior semakin gelap dan lebar hingga ujung ekornya. Bagian perutnya berwarna kuning krem dengan tepi sisik yang berwarna hitam atau coklat," jelas pria tersebut sambil beranjak dari kursinya dan menghampiri Julius.


"Bukan hal mudah bagiku untuk mendapatkannya. Pieper adalah hewan kesayanganku," Julius mengelus kepala Pierpe yang terlihat bermanja padanya.

__ADS_1


Pria itu melepaskan kaca matanya lalu mengulurkan tangan. "Namaku Carl. Salam kenal dari pencinta hewan eksotis."


"Julius," ia membalas jabatan tangan dari Carl sambil menyebutkan namanya.


"Apa?! Bagaimana bisa ular itu tidak menyerang Carl? Bukankah tadi kau bilang ia akan menyerang siapa saja yang berani menyentuh mu?" protes Jeffri. Saat ini ia ada disisi lain dari kamar tersebut.


"Karna kau sangat menjengkelkan," jawab Julius spontan.


"Jeffri memang terkadang seperti itu. Aku saja sering kesal melihat tingkahnya."


"Tega sekali kau, Carl. Padahal kita sudah berteman sejak lama, tapi kau malahan berkata seperti itu di depan teman sekamar kita yang baru," lakon Jeffri semakin membuat orang jengkel.


"Berhentilah menggunakan ekspresi seperti itu atau aku akan membuat Tras mengambil alih tempat tidurmu!" ancam Carl dengan kesal.


"Siapa itu Tras? Apa ia salah satu dari teman sekamar kita," tanya Julius.


"Bukan. Tras adalah Tarantula peliharaan ku."


"Kau juga bawa hewan peliharaan?"


Carl menghampiri meja belajarnya. Tepat disamping buku yang dibacanya tadi ada sebuah akuarium kecil dimana ia menyimpan peliharaannya. Seekor Tarantula berwarna hitam sebesar telapak tangan kini merayap menaiki tangan Carl. Julius mulai menyukai teman sekamarnya yang satu ini. Sepertinya ia tidak perlu meminta pindah kamar. Mereka perlahan-lahan akrab disaat membahas tentang peliharaan masing-masing dan kegemaran mengoleksi hewan eksotis. Kecuali Jeffri yang kini bersembunyi di atas tempat tidur. Ia terlihat begitu ketakutan.


"AAH! Kenapa kalian menyukai binatang berbahaya seperti itu?!! Apa tidak ada peliharaan lain yang lebih imut dan enak di pandang?!!"


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Julia, Febby, Wendy dan Nisa saat ini sedang berjalan-jalan santai berkeliling taman di dekat danau. Selain mereka berempat, banyak juga siswa siswi lainnya yang sedang bersantai atau sekedar berkeliling sambil menikmati pemandangan yang disuguhkan. Danau membentang cukup luas dengan airnya yang jernih. Terdapat pondok terapung di pinggiran danau dan beberapa perahu-perahu tertambang disana. Julia bertanya-tanya dalam hati, apa mereka boleh menaiki perahu tersebut? Jika boleh, ia sangat teringin mencobanya. Tapi tidak ada satupun orang yang berada disana membuat Julia merasa kalau para siswa maupun siswi dilarang menaiki perahu tersebut.


"Julia, kau mau masuk ekskul apa nanti?" tanya Wendy memulai percakapan.


"Em... Mungkin aku akan masuk klub musik, sebab aku bawa suling."

__ADS_1


"Benarkah? Aku juga akan masuk klub musik, jadi kita bisa pergi berlatih bersama," kata Febby.


"Klub musik ya. Hm, tampaknya menarik. Aku juga mau masuk klub musik ah... Bagaimana denganmu, Nisa? Apa kau juga mau ikut bergabung masuk ke klub musik?"


"Boleh juga. Tapi aku tidak membawa alat musik sama sekali."


"Jangan pusingkan soal itu. Sekolah kan pasti menyediakan banyak alat musik. Aku juga tidak membawa alat musik ku," ujar Wendy


"Oh, kalau aku bawa klarinet. Tapi mungkin aku akan belajar alat musik lain, contohnya akordion atau cello."


"Kalau aku mau belajar bermain drum saja."


"Apa kau mau menyajikan pertunjukan, Wendy?" ada sedikit nada ejekan pada kalimat Julia.


"Mungkin kalau kita membentuk band akan lebih bagus," saran Febby.


"Aku tidak terlalu tertarik ikut dalam band apapun. Aku bermain musik cuman untuk menghibur diriku."


"Em, aku juga. Aku gugup kalau harus tampil di depan penonton."


"Sangat disayangkan, Julia dan Nisa tidak bisa ikut," kata Febby yang tampak kecewa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2