
"Permainan bagus nak, untuk pemula," kata seorang pria tiba-tiba datang menghampiri Julius, Carl dan Jeffri.
"Oho... Kalau boleh tahu, apa maksud perkataan dari tuan ini?" tanya Jeffri yang sebenarnya sangat mengerti apa yang pria itu maksud.
"Yang aku maksud adalah tuan muda Hamers, aku ingin menantang temanmu bermain Roulette."
Roulette didefinisikan dalam istilah Prancis, Roulette yang berarti 'roda' atau 'roda kecil', Roulette adalah permainan peluang Casino yang khas atau roda keberuntungan yang terkenal. Roulette merupakan permainan meja roda berputar yang terdiri dari angka mulai dari 0 hingga 36. Dealer memutar bola dan menunggus untuk berhenti di salah satu kotak nomor. Bola mendarat di nomor berwarna dan semua taruhan yang cocok dengan nomor itu, dia lah pemenangnya. Tujuan utama dari permainan ini adalah untuk mempertaruhkan uang yang ditukar dengan chip, dan mencoba menebak di nomor, warna atau area mana bola akan mendarat.
"Saya tidak tertarik untuk bertaruh dengan anda," ujar Julius.
"Kalau begitu aku anggap kau itu penakut atau pecundang. Hahaha....." ejek pria tersebut sambil tertawa bersama rekan-rekannya.
Jeffri yang tersulut emosinya merasa tidak terima temannya diejek seperti itu. "Julius, ini tidak bisa dibiarkan."
"Mereka sengaja mengatakan itu agar aku menerima tantangan mereka. Aku bukanlah tipe yang mudah tergoda dengan ucapan tidak berarti itu. Ayok pergi."
"Aku pikir dengan sifatmu ini kau akan langsung menerima tantangannya. Ternyata kau itu penyabar juga ya," kata Carl sambil menepuk bahu Julius.
"Tapi sabar ku juga ada batasnya," Julius berdiri dan melangkah pergi diikuti Jeffri dan Carl.
"Hahaha... Lihatlah semuanya. Anak baru ini mencoba memperlihatkan kehebatannya di hari pertama, namun ia langsung menyerah disaat aku menantangnya!" kata pria itu dengan lantang dan diikuti oleh derup tawa dari pengunjung Casino yang lain.
"Setidaknya ia masih tahu tempatnya berada!" teriak seorang pria yang duduk bersama gadis-gadis penghibur disudut Casino.
"Iya. Aku akui keberanian mu, sebagai pecundang!"
"Hahaha..."
"Julius, kita bisa membiarkan mereka terus berbuat seperti ini. Mereka harus diberi pelajaran!" Carl yang tadinya tenang sekarang ikut terpancing emosi.
"Aku tuan muda dari pemilik tempat ini. Aku tidak bisa membiarkan kalian berkata seperti itu pada temanku!" bentak Jeffri yang sudah tidak tahan lagi.
"Memangnya kenapa kalau kau tuan muda dari keluarga Hamers? Tn. Hamers saja masih harus memberi hormat pada kami."
"Hah... Aku datang kesini bukan untuk meladeni orang bodoh. Kenapa keadaan malah jadi runyam begini?" Julius masih tenang menghadapi hal itu semua. Namun langkanya tiba-tiba terhenti disaat ia mendengar...
"Kami adalah anggota mafia Dragon. Salah satu mafia yang paling ditakuti di kota ini. Orang kecil seperti kalian hanyalah keset bagi kami."
__ADS_1
"Anggota mafia Dragon?! Kalau tidak salah itu adalah anggota mafia yang dibawah kendali keluarga Arlo. Ini baru keberuntungan," senyum seketika mengembang di wajah Julius. Ia berbalik menghadap pria yang menantangnya tadi. "Aku terima tantanganmu."
Semua orang yang tadinya saling berbisik dan ketakutan mendengar nama mafia Dragon kini dibuat terdiam, termasuk Carl dan Jeffri. Semua mata tertuju pada Julius.
"Apa?"
"Aku terima tantangan mu," ulang Julius.
Carl mendekatkan wajahnya ke telinga Julius lalu berbisik. "Julius, tadi kau bilang tidak ingin bermain, tapi kenapa malah..."
"Jeffri, butuh berapa banyak kue Lotus untuk membuat orang yang memakannya mabuk?" Julius malah bertanya pada Jeffri.
"Eh... Bagi yang tidak pandai minum, lima kue Lotus aku rasa sudah bisa membuat mereka menginggau."
"Itu berarti bisa lebih lima kue Lotus untuk membuat orang ini mabuk," pikir Julius.
"Apa kau yakin anak muda? Aku memberimu kesempatan untuk menolak," kata pria tersebut.
"Bukankah tadi kau yang bersikeras mengajakku bertaruh, kenapa sekarang kau yang malahan takut?" kini Julius balik mengejek pria itu.
"Apa?!! Berani sekali kau! Aku adalah sorang terpercaya anggota mafia Dragon. Aku tidak takut apapun!" dengan marah pria itu menggebrak meja karna tidak terima dikatakan penakut.
"Julius, sebenarnya apa yang kau rencanakan?" tanya Carl sambil berbisik.
"Makan kue? Apa kau kelaparan, nak? Hahaha...."
"Kita bermain 10 ronde," Julius meletakan chip di meja Roulette sebagai bahan taruhannya.
"Kau akan menyesali ini," pria itu juga langsung memasang taruhannya.
Permainan dimulai. Dealer Casino mulai melemparkan bola ke meja roda berputar Roulette. Semua berjalan mendekat untuk melihat pertarungan di meja judi tersebut. Siapa kah pemenangnya?
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Lumayan juga. Dress-nya pas di tubuhmu," kata Wendy.
Mereka selesai membantu Nisa berganti pakaian dengan dress brokat biru muda tak berlengan dan rok tepat di bawah lutut. Kini penampilan Nisa berbeda jauh dari sebelumnya, apa lagi rambut Nisa juga ditata ulang. Yang tadinya tersanggu rapi, sekarang dibiarkan jatuh terurai dengan hiasan jepit rambut keperakan disisi kanan rambutnya.
__ADS_1
"Rica dan ibunya pasti kaget melihat rencana mereka gagal total," kata Febby merasa puas melihat penampilan Nisa.
"Ibu dan anak itu memang keterlaluan. Padahal Nisa adalah putri sah keluarga Pinkston, tapi mereka malah setega itu pada Nisa."
"Lebih baik kita cepat turun. Aku sudah tidak sabar melihat raut wajah mereka begitu melihat penampilan Nisa."
"Aku juga tidak sabar."
"Nanti dulu. Ada satu hal lagi yang kurang," Julia berjalan mendekati Nisa lalu melepaskan kacamatanya. "Nah... Bukankah ini jauh lebih baik?"
"Kau seperti orang lain saja, Nisa," kata Wendy berpendapat.
"Tapi aku tidak bisa melihat tanpa kacamata ku. Aku bisa menabrak orang nanti," ujar Nisa.
"Jangan khawatir. Febby, kau bawa apa yang aku pinta sebelum kita berangkat, kan?"
"Benar juga, aku baru ingat," Febby mengeluarkan lensa kontak dari balik tasnya dan menyerahkan itu pada Julia.
Julia membantu memasang lensa kontak tersebut. "Bagaimana?" tanyanya pada Nisa setelah kedua lesan kontak itu terpasan di kedua mata Nisa.
"Aku bisa melihat dengan jelas, walau aku belum cukup terbiasa memakai lensa kontak ini."
"Lama-kelamaan nanti kau akan terbiasa. Ayok turun."
Julia, Wendy, Febby dan Nisa turun ke lantai dasar, tepat dimana pesta berlangsung. Terlihat acaranya sudah dimulai. Mereka menghampiri meja yang paling besar diantara semua meja makan yang ada dan cuman dimeja itu yang masih menyediakan kursi kosong. Disana sudah ada Tn. Pinkston, Ny. Pinkston, Rica, Zack, Norman dan Yusra. Keraguan seketika menyelimuti Julia. Ia berpikir, bagaimana bisa orang luar seperti mereka duduk dan makan bersama bersama tuan rumah? Satu keraguan yang Julia kesampingkan dulu untuk sekarang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε