Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pembebasan


__ADS_3

Lina tersenyum. Ia berbalik lalu kembali mendekati ketiga pria itu. "Jika informasi kalian memuaskan makan aku akan bebaskan kalian."


"Kalimat yang tidak bisa dipercaya."


"Mungkin kalian bisa mempercayainya kali ini."


Pria itu menarik nafas panjang sebelum memulai berbicara. "Baiklah, tuan kami adalah Lady Blue."


"Sudah ku duga."


"Tapi kenapa Lady Blue menginginkan rancangan robot kelompok Julia?" tanya Daniel.


"Dia mengatakan kalau robot tersebut cukup berguna dalam menjalankan misi. Tinggal ditambah fitur serangan dan senjata maka akan lebih bagus lagi."


"Menarik. Lanjutkan. Apa kalian tahu tentang rencana mereka yang ingin menyerang keluarga tersembunyi?"


"Kalau soal itu kami sedikit kurang tahu. Tapi memang Lady Blue sedang bersiap menyerang ibu kota setelah mendapatkan robot tersebut. Karna kami gagal kemungkinan dia akan bergerak lebih awal."


"Sepertinya kita harus memperingatkan paman George soal ini," saran Lina pada Daniel dengan suara pelan.


"Ide bagus. Lalu, apa kau tahu dimana kediaman Lady Blue?" kali ini Daniel yang bertanya.


"Vila lavender di kota sebrang. Tapi kalian tidak akan menemukan apa-apa disana. Aku sarankan lebih baik pergi ke bagian selatan kota sebrang, jauh di dalam kepadatan hutan pinus. Kalian akan menemukan hal menarik disana tapi berhati-hatilah karna penjagaan disana cukup ketat."


"Oh, ternyata disana tempat rahasia mereka. Pantas saja Norman dan Qazi tidak kunjung mendapatkan apapun," batin Julius.


"Aku rasa sudah cukup. Terima kasih atas kerja sama nya."


Daniel kembali mengeluarkan pistol nya lalu menarik pelatuk dari pistol tersebut. Tiga tembakan diluncurkan ke arah pria-pria itu. Mereka bertiga cuman menutup mata begitu suara tembakan terdengar. Apa ini akhir bagi mereka? Namun sepertinya tidak. Setelah suara tembakan berakhir, mereka sama sekali tidak merasakan apapun selain ikatan pada tangan mereka terlepas.

__ADS_1


"Ikut kami," perintah Daniel sambil menyimpan senjatanya. Ia berjalan pelan menyusul istrinya yang duluan keluar dari penjara bawah tanah.


Ketiga pria itu masih terdiam ditempat dan tak percaya atas apa yang mereka alami. Apa sungguh mereka dibebaskan? Ini bukan jebakan yang begitu mereka melangkah keluar lalu tiba-tiba di tembakan mati?


"Apa kalian betah tinggal disini sampai mematung disana? Cepatlah keluar sebelum aku berubah pikiran dan mengurung kalian selamanya disini!" bentak Daniel di depan pintu jeruji.


Tatapan tajam dari Daniel membuat ketiganya sadar dari lamunan. Mereka bertiga bergegas keluar sebelum mereka benar-benar dikunci di sel tersebut. Daniel dan Lin menuntun ketiganya keluar dari pintu belakang. Cahaya matahari yang menyilaukan membuat mata mereka belum terbiasa karna hampir 24 jam berada di penjara dengan pencahayaan minim. Butuh beberapa saat untuk mata mereka menyesuaikan diri dan bisa melihat dengan baik.


"Ambilah kartu ini. Ada sejumlah uang di dalamnya yang cukup untuk kalian pergi sejauh mungkin dan ingat jangan perna kembali lagi. Nomor pin nya Mi Re Si Fa Mi Do. Mengerti?" kata Lisa sambil menyerahkan sebuah kartu.


Awalnya mereka tidak mau menerima kartu tersebut. Dibebaskan dan dibiarkan hidup saja sudah cukup bagi mereka. Ini sungguh sangat jarah sekali terjadi. Tapi Lina memaksa agar mereka mau menerima kartu itu. Dengan ragu-ragu mereka menerimanya.


"Mengerti. Te, terima kasih."


Mereka bertiga melangkah pelan keluar dari halaman vila. Dengan tubuh gemetar, sesekali mereka melirik ke belakang atau ke kanan dan ke kiri. Kalau-kalau ada penembak jitu yang bersembunyi dan siap menembak mereka namun tidak ditemukan satupun orang. Mereka masih hidup sampai di pinggir jalan raya. Salah satu dari mereka menghentikan taksi lalu mereka semua masuk ke taksi tersebut. Taksi mulai melaju dan berbaur dengan kendaran lain di jalanan. Masih tidak ada satupun pergerakan yang terlihat mengancam nyawa mereka. Semakin jauh taksi itu menikankan vila, semakin mereka bisa menarik nafas lega.


"Apa tidak apa membiarkan mereka pergi tanpa pengawasan seperti ini, kucing kecil?" tanya Daniel begitu ketiga pria tadi hilang dari pandangan.


"Aku mungkin akan berpikiran begitu. Istriku memang cerdas," puji Daniel sambil mengacak-acak rambut Lina.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Dikediaman Arlo, Tn dan Ny. Arlo dibuat pusing dengan menghilangnya putra mereka. Sejak dari pagi hp Yusra tidak bisa dihubungi, begitu juga dengan hp Marjorie. Tn. Arlo sudah bengerahkan sejumlah bawahannya untuk mencari putranya itu namun tidak kunjung ditemukan baik di sekolah maupun di tempat-tempat dimana Yusra sering berada. Biarpun ini bukan pertama kalinya Yusra menghilang selama ini tapi entah mengapa Ny. Arlo merasa risau dan tidak tenang hatinya. Firasat buruk terus menyelimuti hatinya dan semakin tebal. Ia takut terjadi sesuatu pada putra mereka.


"AAAH ! ! Di mana sebenarnya dia berada?!!" geram Tn. Arlo dengan marahnya.


"Tenangkan dirimu. Sebaiknya kita berdoa saja kalau Yusra dalam keadaan baik-baik saja. Entah mengapa aku benar-benar mengkhawatirkannya kali ini."


"Dasar anak itu selalu saja berkeluyuran tanpa memberitahu kita dan ini lagi, percuma kita mempekerjakan pengawal pribadi yang tak bisa diandalkan sama sekali. Disaat penting begini dia juga tidak dapat dihubungi! Dari awal aku memang sudah meragukan gadis itu. Lihat saja nanti, aku akan memecatnya!"

__ADS_1


Tn. Arlo sungguh dibuat marah. Seluruh bawahan yang dikerahkan untuk mencari Yusra belum kunjung membuahkan hasil. Sampai tiba-tiba Tn. Arlo mendapat telpon dari orang yang tidak dikenal. Awalnya ia ragu mengangkat telpon tersebut dan henda mematikannya tapi Ny. Arlo menyakitkan suaminya untuk mengangkat telpon tersebut. Mungkin saja itu dari Yusra.


"Halo. Siapa ini?" tanya Tn. Arlo setelah mengangkat telponnya.


"Selamat siang Tn. Arlo," sambut orang yang menelpon tersebut menggunakan suara samaran. "Apa kau sedang mencari putramu saat ini?"


"Siapa ini? Dimana putraku?!!" tanya Tn. Arlo dengan nada meninggi.


"Tenang Tn. Arlo, putramu aman bersamaku. Dua sedang tertidur pulas disini."


"Apa yang kau mau? Jangan coba-coba menyakiti putraku!"


"Aku tidak berniat menyakitinya. Aku malah mau membantumu. Aku merupakan bawahan keluarga tersembunyi yang diperintahkan menculik putramu. Tapi aku memberimu satu kesempatan Tn. Arlo. Beri aku uang tebusan, maka aku akan dengan senang hati membebaskan putramu dan menganggap misiku gagal, bagaimana menurutmu?"


"Memang berapa banyak yang kau mau?"


Tidak banyak, cuman 1 juta saja, maka putramu akan bebas. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, nanti kuhubungi mu lagi."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2