Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Pergi yang satu, datang yang lain


__ADS_3

Kelima preman beranjak pergi dari kedai milik Laura. Sebagian yang masih kuat berjalan membantu teman mereka yang pingsan atau tidak mampu berdiri lagi. Harap maklum, Julia dan Marjorietidak menahan diri saat melawan mereka. Masih hidup saja sudah beruntung.


"Oh, aku sangat berterima kasih pada kalian. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan kalian ini."


"Kakak Laura tidak perlu pikirkan soal itu. Sudah seharusnya kami membantu," kata Julia.


"Apa mereka memang sering datang seperti tadi dan meminta uang?" tanya Nisa.


"Hah... Mereka memang selalu datang setiap minggu, merampok seperti itu dengan alasan membayar uang keamanan. Jika tidak memberi mereka uang, mereka akan menghancurkan toko kami dan meminta uang dua kali lipat dari biasanya," jelas Laura sedikit murung saat ia mengingat semua itu.


"Sekarang kak Laura tidak perlu khawatir lagi mereka datang untuk meminta uang," Julia mengelus punggung Laura untuk menyemangatinya. "Kakak bisa menjalankan kedai ini dengan tenang."


"Jika itu sampai terjadi segera beritahu kami. Aku paling benci orang-orang seperti mereka," sambung Marjorie tanpa melirik pada yang lain.


"Aku rasa mereka tidak akan berani datang untuk kedepannya. Sekali lagi terima kasih telah menolong ku. Sebagai hadiah, aku akan buatkan es krim buah segar ukuran jumbo untuk kalian bertiga."


"Tidak. Terima kasih kak Laura. Aku sudah cukup makan makanan manis hari ini," tolak Nisa.


"Aku juga," begitu juga dengan Marjorie.


"Benarkah, kak Laura? Apa boleh aku melihat cara pembuatannya?" tapi tidak bagi Julia. Ia malah bersemangat begitu mendengar kata es krim.


"Tentu saja boleh."


"Hore!" teriak Julia kegirangan sambil menyusul Laura ke dapur.


"Hah... Kalau urusan makan, dia yang paling cepat."


"Hihi... Begitulah Julia."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Saat ini Julius sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya sambil memperhatikan layar hpnya. Bukan melihat-lihat sosial media, bermain game ataupun chattingan dengan seseorang. Ia mendapatkan notifikasi dari sistem yang ada pada jam tangan Julia. Bukan sesuatu yang gawat tapi cukup membuatnya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Detak jantung Julia memikat lebih cepat untuk beberapa menit, tapi data dari kondisi tubuhnya dalam keadaan baik. Apa yang sedang dilakukannya saat ini? Apa dia sedang bermain? Lokasi yang ditujukkan juga ada di pinggiran kota. Hah... Apa peduli ku soal itu. Adikku bukanlah gadis kecil yang mudah diganggu sembarang orang dan juga ditempat-tempat seperti itu paling cuman ada preman-preman kecil. Lagi pula aku dengar-dengar dia juga mengajak Marjorie. Hehe... Hari ini pasti adalah hari tersial siapapun yang menjadi lawan mereka."


"Julius! Apa kau ada kegiatan sore ini?" panggil Carl yang baru kembali entah dari mana.


"Tidak ada. Memangnya kenapa?"


"Maukah kau temani aku ke kota? Ada barang yang mau aku ambil di bar."


"Baiklah."


Tanpa mempertanyakan barang apa itu, Julius beranjak dari kursinya. Ia meraih jaketnya lalu melangkah keluar bersama Carl. Karna tidak memungkinkan pergi ke kota menggunakan motor milik Carl, mereka memutuskan untuk naik mobil saja. Julius juga dipinjamkan mobil oleh paman nya Samuel dengan syarat yang sama.


Butuh kurang lebih sejam bagi mereka untuk sampai di bar yang dimaksud Carl. Julius memarkirkan mobilnya di tempat yang telah disediakan. Mereka melangkah masuk ke bar tersebut. Ruangan yang lumayan luas dan terdapat beberapa kursi disana layaknya bar pada umumnya. Pada jam segini keadaan bar masih sepi dari pengunjung. Walaupun begitu ada saja satu atau dua orang yang terlihat mengunjungi bar ini. Julius mengambil tempat duduk di kursi yang terbaris meja di depan barista.


"Mau pesan sesuatu?" tanya barista tersebut disela-sela ia membersikan gelas.


"Tidak. Terima kasih."


"Silakan."


Carl melangkah pergi menuju pintu yang mengarah ke ruangan belakang dari ruang utama bar tersebut. Julius kembali mengeluarkan hpnya hanya sekedar untuk menghibur diri sambil menunggu temannya mendapatkan barang yang dikirimkan padanya.


"Keju," barista itu tiba-tiba meletakan sepiring kecil keju yang sudah dipotong seukuran dadu di hadapan Julius.


"Saya tidak memesan sesuatu."


"Setiap pengunjung datang akan mendapatkan keju secara gratis. Biasanya keju ini akan mereka campurkan pada wine mereka."


"Terima kasih."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Selesai menikmati hidangan manis ukuran jumbonya, Julia mengucapkan terima kasih pada Laura karna sudah mentraktirnya. Hidangan manis yang dibuat Laura sungguh membuat Julia ingin makan lagi dan lagi dan tentunya ia tidak bisa makan secara gratis untuk hidangan yang sangat nikmat ini. Julia menyumbangkan sedikit dana namun tanpa sepengetahuan Laura kalau dana itu darinya. Julia menggunakan akun misteriusnya untuk mengirimkan sejumlah uang ke rekening Laura. Julia, Nisa dan Marjorie pamit pada Laura. Sambil melambaikan tangannya mereka berjanji akan kembali suatu hari nanti dan menikmati lagi Steak Hamburger itu bersama teman-teman mereka yang lain.

__ADS_1


"Fiuhh... Akhirnya hari ini aku bisa makan sepuasnya," ujar Julia yang menyandarkan tubuhnya di kursi belakang. Kali ini Marjorie yang gantian berada di depan stir kemudi. "Ngomong-ngomong, apa menu kita untuk malam ini, ya? Aku harap selezat masakan kak Laura."


"Yang benar saja isi kepalamu itu masih memikirkan makanan. Kau bisa sakit perut, Julia," ejek Marjorie.


"Aku cukup bertanya-tanya, apa kau memang selalu seperti ini jika di rumah?" tanya Nisa. Ia yang duduk di kursi depan sampai berbalik untuk berbicara lebih leluasa.


"Kau bertanya? Aku jawab, tidak. Kenapa? Karna aku bosan masakan koki di rumah. Aku lebih suka masakan mamaku, tapi mama cukup disibukkan dengan pekerjaannya. Paling aku bisa memcicipinya disaat mama sedang libur berkerja."


Tidak ada percakapan lagi untuk beberapa saat. Nisa sudah membetulkan posisi duduknya kembali menghadap ke depan. Saat ini mobil mereka baru saja memasuki kawasan perbukitan. Hutan hijau menghiasi seisi jalur sebelah kanan yang mereka lewati dan sisi kiri merupakan curang yang terjal sedalam dua meter. Diperempatan di depan Marjorie menghentikan laju mobilnya karna lampu merah. Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna kuning bergaris merah berhenti disebelah mobil mereka. Awalnya Marjorie, Nisa dan Julia tidak memperdulikan itu. Mereka dengan santainya menunggu lampu berubah hijau sampai pengemudi mobil disebelah mereka menurunkan kaca mobilnya. Seorang gadis yang mengenakan kacamata hitam dan menyunyah permen karet meminta Marjorie menurunkan kaca mobilnya. Marjorie menuruti itu karna penasaran apa mau gadi tersebut.


"Apa?" tanya Marjorie sedikit tidak ramah.


"Mobil yang bagus," kata gadis itu sambil melepaskan kacamatanya.


"Bukan mobilku."


"Kau sungguh menjengkelkan tapi untungnya aku bukan mencarimu."


"Jika cuman itu yang mau kau bicara. Kami harus pergi dulu," dengan dinginnya Marjorie menancap gas meninggalkan gadis tersebut yang nampak kesal.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2