
"Malam ini kita akan bertemu dengan saudara dari ibumu, paman-pamanmu."
"Mereka bukan pamanku tapi musuh. Mereka tidak pantas dianggap keluarga jika tega membunuh saudara sendiri demi kekayaan."
"Aku sudah mencari informasi dari masing-masing mereka, tapi tidak banyak yang bisa aku dapat tentang keluarga tersembunyi maupun kelompok yang mereka pimpin."
"Kita akan mencari tahunya malam ini."
"Kakak, kau juga harus menggadengku. Tidak enak rasanya berjalan sendiri diantara orang-orang ini," kata Via yang segera merangkul tangan Daniel.
"Makanya cari pacar, agar ada yang menemanimu ke pesta. Jangan selalu menggandeng tangan kakakmu ini."
"Alah, dulu kakak juga sama sampai-sampai dijuluki tuan muda terjomblo. Beda halnya denganku yang perna memiliki seorang pacar ini."
"Oh, Via sudah perna memiliki pacar. Lalu kenapa kalian putus?" tanya Lina sedikit ingin tahu.
"Karna baru sebulan kami berpacaran dia sudah mau mengajak aku nikah. Tentu saja aku tidak mau. Aku ini masih berumur 18 tahun. Aku masih ingin menikmati masa mudaku dulu."
"Selamat malam. Anda pasti tuan muda dari keluarga Flors. Saya Michael, tuan rumah pesta malam ini," sapa seorang pria berkumis tipis sambil mengulurkan tangan. Daniel membalas uluran tangan pria itu.
"Senang berkenalan dengan anda. Tn. Michael bisa memanggilku Daniel. Ini istriku Lina dan adik perempuanku Olivia," ujar Daniel sambil memperkenalkan diri berserta dua gadis disisi kiri dan kanannya.
"Jadi dia Michael, adik ibuku. Ia terlihat ramah dan bersahabat. Tapi aku tidak akan tertipu. Aku sama sekali tidak mau menganggap mereka sebagai keluarga," batin Lina.
"Oh, anda sudah menikah? Tidak ada kabar soal itu."
"Iya, memang belum di publikasikan ke publik," jawab Daniel dengan anggukan sekali.
"Kenapa? Apa anda ingin menyimpan si manis ini untuk diri anda sendiri?" lirik Michael pada Lina.
Lina sedikit memalingkan muka. Ia tidak mau bertatapan langsung dengan salah satu pamannya itu. "Aku harap dia tidak menyadari sesuatu."
"Tn. Michael bisa saja."
"Tapi rumor mengatakan, bukankah anda telah bertunangan dengan putri dari keluarga Cershom? Rupa-rupanya anda telah menikah dengan wanita lain. Apa Tn. Cershom sudah tahu soal ini?"
"Sebenarnya pertunangan itu keinginan dari kakek saya. Saya sudah lama menentang hal ini. Saya cuman mau menikahi wanita yang saya cintai, bukan karna alasan tertentu," toleh Daniel pada Lina.
"Anak-anak zaman sekarang, mana mau lagi di jodoh-jodohkan," kata seorang pria sambil berjalan menghampiri mereka. "Perkenalkan nama saya Stevan, kakak kedua dari Michael. Kau pasti Daniel."
Stevan memberi isyarat pada seorang pelayan yang membawa minuman. Begitu pelayan itu datang, ia mengambil segelas anggur yang sudah di tuang dan menyodorkannya pada Daniel.
Daniel menerima gelas tersebut. "Terima kasih Tn. Stevan. Senang berkenalan dengan anda."
__ADS_1
Stevan mengambil segelas anggur lagi menyerahkannya pada Lina. "Nona."
"Tidak, terima kasih Tn. Stevan. Saya tidak minum alkohol," kata Lina mencoba menolak.
"Kenapa? Apa anda gampang mabuk, nona? Atau... Ini pertama kalinya untukmu?" kata Stevan dengan nada godaan.
"Untuk pertama kalinya memang iya. Tapi aku tidak boleh minum minuman beralkohol demi kesehatan anak-anakku."
"Minum seteguk saja nona, kalau tidak saya akan merasa tersinggung," bujuk Stevan.
"Mohon maaf Tn. Stevan. Istri saya tidak bisa minum minuman beralkohol karna ia sedang hamil. Kami tidak bermaksud membuat anda tersinggung," jelas Daniel.
"Oh, kalian sudah mau memiliki seorang bayi. Ini kesalahanku tidak memperhatikan," lirik sekilas Stevan pada perut Lina.
Lina berusaha menghalangi pandangan Stevan dari perutnya menggunakan tas tangannya. "Kenapa kau memberi tahu dia?" tanya Lina pada Daniel sambil berbisik.
"Kalau aku tidak memberi tahunya, dia akan terus memaksamu untuk minum."
"Adik, kau tentunya menyiapkan minuman tak beralkohol, kan?" tanya Stevan pada Michael.
"Tentu saja. Kami juga menyediakan beraneka macam sari buah yang didatangkan langsung dari perkebuanan terbaik diluar kota. Itu akan sangat cocok untuk ibu hamil sepertimu nona," Michael memanggil pelayan lainnya untuk membawakan sari buah untuk Lina.
"Bagaimana dengan nona yang satunya? Apa kau diperbolehkan minum alkohol?" kini Stevan beralih ke Via.
"Kakak, ini penghinaan bagiku. Asal kau tahu umurku sudah cukup untuk minum alkohol," bisik Via dengan wajah sedikit cemberut.
"Aku tentunya tahu itu, tapi kau itu gampang mabuk. Akan sangat merepotkan jika kau membunuh orang disini," balas Daniel sambil berbisik.
"Mereka tidak akan percaya dengan alasan itu."
"Pasti percaya karna adikku sangat imut."
"Jangan memaksanya kak jika dia masih dibawah umur. Sari buahmu nona Lina, nona Via," Michael menyodorkan segelas sari buah pada Lina kemudian menyodorkan segelas pada Via.
"Terima kasih Tn. Michael," kata Lina begitu menerima gelas itu.
"Ya sudah, baiklah. Mari bersulang untuk pertemuan pertama kita," Stevan mengangkat gelasnya sedikit tinggi, kemudian diikuti yang lain. Lina hanya meneguk sekali sari buah itu. Tapi berbeda hal nya dengan Daniel. Ia mala meneguk habis segelas anggur tersebut. Walau gelas anggur itu kecil namun cukup membuat pipi seseorang merah akibat alkohol. Tapi hal itu tidak tampak pada Daniel.
"Ini anggur yang luar biasa yang perna saya cicipi," Ia meletakan gelas kosongnya di atas nampan yang dibawah seorang pelayan. "Kalau boleh tahu, jenis anggur apa ini?"
"Daniel sungguh pandai minum," puji Michael.
"Itu hanya anggur biasa dari Spanyol tahun 1991. Saya khusus menyiapkannya untuk acara malam ini," jawab Stevan.
__ADS_1
"Saya dengar negara Spanyol memang salah satu penghasil anggur terbaik di dunia."
Disela-selah percakapan itu tiba-tiba Lina menarik lengan jas Daniel lalu berbisik. "Aku mau ke kamar kecil."
"Mau aku temani?"
"Tidak, biar Via saja yang menemaniku."
"Ya sudah. Via temani kakakmu ke kamar kecil sebentar."
"Baiklah."
"Istri mu gadis yang pemalu ya, Daniel."
"Ia memang sedikit pemalu berkenalan dengan orang baru."
Via menemani Lina pergi ke kamar kecil yang ada di sebelah timur. Et, sebenarnya mereka tidak benar-benar ke kamar kecil. Via dan Lina berpencar menyelusuri lorong untuk mengamati situasi.
"Sudah selesai?" tanya Via.
"Sudah. Pengamanan disini cukup ketat. Ada lebih dari 20 cctv di lorong yang aku lewati. Kita akan mudah ketahuan jika menyelinap seperti ini."
"Itu mudah. Lihat apa yang aku dapat," Via menujukan set pakaian pelayan. "Kita bisa menyamar menggunakan ini."
"Kerja bagus Via. Menjadi pelayan merupakan pilihan terbaik untuk menyamar. Tapi pakaian pelayan ini terlalu ketat. Aku tidak akan mungkin bisa memakainya."
"Kakak tidak perlu ikut menyamar tugas kakak nanti..." Via membisikkan rencananya pada Lina.
"Rencana yang bagus."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1