Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Melangkah lebih berani


__ADS_3

Julia melirik ke arah Marjorie berharap mendapat jawaban darinya, tapi Marjorie cuman mengangkat kedua bahunya. "Apa itu?"


"Aku cukup tertarik dengan robot ciptaan kalian. Bagaimana kalau aku mendanai pembuatan robot kalian dengan cacatan setelah lomba selesai, aku menginginkan rancangan dari robot tersebut. Kita bisa melakukan bisnis jangka panjang yang saling menguntungkan."


"Haha... Sejak kapan perusahaan Arlo bergerak dalam bisnis teknologi dan robotika? Maaf, aku menolak tawaranmu. Lagi pula kami sudah memiliki cukup dana untuk project ini. Sampai jumpa," Julia berjalan mendahului Yusra.


"Sebaiknya kau pertimbangkan sekali lagi. Ini adalah kesempatan bagus dan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Hadiah dari perlombaan itu tidaklah terlalu menggiurkan. Kau akan menyesali ini, Julia!" teriak Yusra mencoba menyakinkan Julia.


"Jika kau bersikeras sangat, maka temui lah perusahan Flors. Karna mereka juga tertarik pada project sains kami."


"Perusahan Flors? Bagaimana bisa mereka memiliki hubungan dengan salah satu perusahaan teknologi dan robotika terbesar di ibu kota itu?" ujar Marjorie sambil melirik Julia yang semakin menjauh.


"Itu mana mungkin. Dia cuman mencari alasan untuk menolak ku. Biarpun benar perusahaan Flors tertarik pada rancangan robot mereka tapi itu tidaklah seberapa, yang menginginkan rancangan robot itu adalah Lady Blue."


"Lady Blue?! Untuk apa Lady Blue rancangan robot tersebut?" pikir Marjorie, tapi ia tidak terlalu memperdulikannya karna yang ia tahu mana mungkin Lady Blue mau menyakiti temannya sendiri.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Beberapa hari berlalu. Rancangan robot mereka sudah hampir selesai, tinggal melakukan penyusuaian disana sini maka robot mereka siap dilakukan uji coba secara keseluruhan kalau-kalau ada bermasalah. Perlombaan diadakan seminggu lagi, tepatnya di hari kedua festival kebudayaan.


"Hei, Sean! Mau kemana?" panggil Alwen sebelum Sean keluar dari pintu.


"Seperti biasa, mau ke lab untuk melanjutkan rancangan robot yang kami buat."


"Wah... Kau terlihat semangat sekali membuat robot tersebut atau karna kau satu tim bersama Julia?"


"Iya itu juga alasannya. Namun aku tidak bisa lebih leluasa dekat dengannya karna ada Julius. Tapi tidak mengapa asalkan aku terus berinteraksi dengannya saja sudah cukup. Aku akan tunjukan kehebatan ku pada Julia. Dia pasti jatuh hati padaku dan kau kalah," tunjuk Sean pada Alwen.


"Bagaimana bisa kau berpikir demikian? Belum bisa dipastikan dia akan suka padamu."


"Kau saja jarang berbicara dengannya. Tidak mungkin dia dapat menyukai orang yang tidak dikenalnya seperti dirimu."

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti. Sebenarnya aku sudah menyiapkan hadiah spesial untuknya. Julia pasti suka."


"Memangnya hadiah apa yang kau siapkan? Jangan bilang kalau itu sebuah boneka karna aku yakin ia tidak akan menyukai itu."


"Bukan, tentu saja bukan."


"Aku sangat penasaran. Bagaimana kalau begini saja. Tepat dihari festival kebudayaan kita nyatakan perasaan kita padanya. Siapa yang diterima, maka dialah pemenangnya."


"Setuju."


Sean dan Alwen berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan mereka. Lalu mereka berdua keluar dari gedung asrama khusus. Di atas tangga Rica dan Delfa sendari tadi mendengar percakapan dari kedua pria itu.


"Julia! Julia! Julia! Selalu saja gadis rendahan itu yang mereka bicarakan. Aku benar-benar tidak mengerti, apa yang bisa mereka sukai dari gadis itu? Bahkan Yusra pun ikut-ikutan," gerutu Rica.


"Aku juga tidak mengerti. Julia itu cuman seorang gadis penipu! Tidak ada satupun yang bisa dipercaya darinya."


"Tapi mereka sampai bertaruh untuk mendapatkannya."


"Apa jadinya jika julia tahu hal ini?" senyum jahat perlahan terlukis di wajah Delfa.


"Iya, kita tahu kalau Sean, Alwen dan Yusra saat ini sedang bertaruh untuk mendapatkan hati Julia. Bahkan taruhan mereka tidak main-main, masing-masing mobil kesayangan mereka. Sebab itu mereka melakukan banyak cara untuk menarik perhatian Julia. Dan mereka sepertinya sudah mulai melangkah lebih maju lagi. Untuk sekarang Julia mungkin belum memiliki perasaan pada salah satu dari mereka tapi tidak tahu di hari festival kebudayaan nanti."


"Jujur saja aku masih tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Ayoklah Rica. Pikirkan baik-baik. Ini menyangkut perasaan seorang perempuan. Jika Julia tahu kalau ia cuman menjadi bahan taruhan, bayangkan betapa sakitnya hati Julia nanti. Biarpun mereka sungguh mencintai Julia namun tetap saja sakit. Hati perempuan mana yang mau dipermainkan seperti itu."


"Ooh... Kau benar-benar pintar Delfa. Kau memang teman terbaik ku. Tepat di hari festival kebudayaan nanti kita ungkapkan segalanya pada Julia. Kita lihat bagaimana hancurnya hati gadis rendahan itu."


"Tapi festival kebudayaan masih seminggu lagi. Aku mau membalas gadis itu sekarang."


"Bagaimana kalau kita rusak saja project sainsnya?dengan begitu dia tidak akan bisa mengikuti lomba tersebut. Hatinya akan semakin hancur lagi."

__ADS_1


"Caranya? Apa kau mau mencuri cetak biru dari rancangan robot mereka? Tanpa cetak biru tersebut tentu saja mereka tidak akan bisa melanjutkan membuat robotnya."


"Aku bingung, kau itu bertanya atau malah memberi saran. Tapi aku suka ide itu. Disaat mereka sudah kembali, kita menyusup ke lab mereka dan curi cetak biru itu."


Siang berganti malam. Julius, Julia, Nisa dan Sean baru saja kembali dari lab. Mereka sengaja berlama-lama disana hanya sekedar untuk bersantai sejenak. Pintu ruangan tersebut dikunci dan mereka berempat melangkah pergi kembali ke asrama masing-masing. Tepat jam 21.19 Delfa dan Rica melancarkan aksi mereka. Dengan kunci yang berhasil Rica dapat dari Sean setelah menabraknya, mereka dengan lancar menyusup masuk ke ruangan tersebut. Tepat di atas meja ada sebuah komputer. Delfa menyalakan komputer tersebut dan mulai mencari cetak biru dari rancangan robot itu. Baru sesaat mengutak-atik layar komputer, tiba-tiba muncul tanda peringatan dan kemudian diiringi dengan tulisan 'Error' berulang kali sampai memenuhi layar komputer. Delfa sangat terkejut atas apa yang terjadi. Ia berusaha memperbaikinya namun tetap saja tidak bisa.


"Apa yang terjadi Delfa?"


"Tidak tahu. Tiba-tiba komputernya error begini. Sepertinya Julia menempatkan semacam virus komputer untuk melindungi cetak biru tersebut."


"Ya sudah tinggalkan saja. Lebih baik kita pergi dari sini."


Baru hendak keluar. Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan kedatangan tiga pria berpakaian serba hitam dan mengenakan kacamata. Dua diantara ketiga pria itu segera menahan Rica dan Delfa.


"Hei! Apa-apa ini?!! Lepaskan kami," bentak Rica sambil memberontak melepaskan diri, begitu juga dengan Delfa.


"Bos, kami sudah menangkap penyusupnya," ujar pria yang ada di depan Rica dan Delfa memberitahu bosnya melalui Handsfree.


"Sebenarnya siapa kalian ini?!!" tanya Delfa dengan nada tinggi.


"Lepaskan kami! Aku adalah putri dari keluarga Pinkston. Kalian akan menyesali ini!" oceh Rica yang terus berteriak.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2