
Julia terdiam sesaat melihat Nisa yang begitu bersedih karna mengkhawatirkan dirinya. Ia seperti melihat bayangannya sendiri disaat Gerda meninggal. Mungkin inilah yang dirasakan Gerda. Julia mengerahkan sisa tenaganya untuk mengusap air mata Nisa. Sentuhan dari telapak tangan Julia yang mulai dingin membuat Nisa menatap Julia.
"Jangan menangis," kata Julia sambil tersenyum. "Aku tidak yakin bisa bertahan. Sampaikan permintaan maaf ku, pada Wendy dan Febby, karna aku tidak menepati janjiku pada mereka. Aku ingin bersama Gerda."
Nisa hanya terdiam mendengar kalimat tersebut. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Ia merasa kalau dunianya berhenti berputar. Perasaan ini persis sama seperti saat kepergian ibunya. Semuanya menjadi dingin dan gelap. Tidak ada setitikpun cahaya yang meneranginya untuk melihat warna-warna indah kehidupan. Hanya ada kegelapan yang menyelimuti, mendekapnya tanpa ampun sampai ia kesulitan bernafas. Apa mulai dari malam ini Nisa harus merasakan kesunyian abadi yang kemungkinan akan abadi selamanya?
"Tidak akan kubiarkan kau pergi!! Biarpun kau ada di alam baka sekalipun, aku akan menarikmu kembali! Bukankah kau teringin sekali balapan denganku? Aku sangat menantikannya. Aku ingin sekali tahu seberapa hebatnya dirimu itu. Apa kau sanggup bisa mengalahkanku? Aku menatangmu, Julia!! Jika kau tidak datang, berarti kau kalah. Kau seorang pengecut. Hiks... Hiks... Maka aku lah pemenangnya," teriak Rica dalam tangisnya yang tidak perna terlihat oleh siapapun.
Saat ini mereka telah memasuki jalan utama yang menuju kawasan perkotaan. Rica sama sekali tidak menurunkan kecepatan mobilnya di jalanan yang mulai di isi kendaraan lain. Berbagai manuper ia lakukan untuk menghindari kendaraan-kendaraan tersebut. Sesekali dia akan berteriak marah pada kendaraan yang mencoba menghalangi jalannya, tidak peduli kendaraan apa saja itu.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di rumah sakit umum Balvana. Marjorie terlihat mondar-mandir di depan pintu dimana Julius baru saja dibawa masuk. Ia sangat khawatir terjadi apa-apa pada Julius. Ia tidak mempedulikan kalau sebenarnya dia juga terluka. Yang paling jelas, ada darah yang mengalir dibalik telinganya sebelah kanan. Warna merah itu telah mengotori rambut pirang nya. Yusra sudah berkali-kali membujuk Marjorie untuk mengobati lukanya terlebih dahulu, namun Merjorie menolak dengan tegas kalau ia ingin menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut. Ia ingin segera tahu bagaimana kondisi Julius saat ini. Beberapa saat kemudian dokter keluar. Marjorie segera menghampirinya dan bertanya mengenai keadaan Julius.
"Kami harus mengambil tindakan operasi sesegera mungkin. Temanmu mengalami cedera serius. Tiga tulang rusuknya mengalami keretakan dan salah satunya patah. Itu menyebabkan jantungnya terluka," jelas dokter tersebut.
"Aku mohon lakukan apa saja agar bisa menyelamatkan nyawanya, dok," pinta Marjorie dengan sangat pada dokter itu.
"Nona jangan khawatir. Selama operasinya berjalan sukses, teman nona akan baik-baik saja. Saya permisi dulu untuk bersiap-siap melakukan operasi," dokter itu melangkah pergi.
"Dia akan baik-baik saja Marjorie. Julius dibesarkan dalam lingkup keluarga yang tanggu. Bukankan dia bilang sendiri padamu kalau ia tidak akan dengan mudah. Sebaiknya mintalah dokter atau perawat untuk mengobati lukamu. Disaat Julius sadar nanti ia pasti tidak mau melihat keadaanmu seperti ini," bujuk Yusra untuk sekian kalinya.
"Baiklah. Tapi, dia sungguh akan baik-baik saja, kan?"
"Percayalah padaku."
__ADS_1
Yusra mengantar Marjorie ke ruangan lain untuk mendapat pengobatan. Akibat perkelahiannya dengan Big Man, Marjorie mendapat beberapa luka goresan dan memar di sebagian tubuhnya, satu luka dibagian kepala yang diharuskan mendapat jahitan dan tulang bahunya sebelah kirinya bergeser. Untuk beberapa minggu ke depan Marjorie tidak diperbolehkan menggerakkan tangannya. Setelah mendapat perawatan, Marjorie memutuskan untuk mengabari orang tua Julius tentang kondisi putra mereka saat ini. Mereka harus segera tahu.
Marjorie menggunakan hp Julius untuk menelpon Tn atau Ny. Flors. Ia mendapatkannya dari salah satu perawat yang mengantarkan barang-barang pribadi milik Julius. Saat ini Julius telah dipindahkan ke ruang operasi. Begitu baru mengaktifkan hp Julius, Marjorie cukup dibuat bingung dengan banyaknya pemberitahuan bahaya di layar utama hp tersebut. Belum sempat membaca salah satunya, hp itu kembali memberi notifikasi bahaya lainnya.
..."Peringatan! Detak jantung pengguna semakin melemah."...
"Apa maksudnya semua ini? Pengguna siapa? Apa itu Julius? Sebaiknya aku cepat-cepat memberitahu orang tuanya soal ini," pikir Marjorie.
Marjorie bergegas menghubungi papa atau mama Julius tapi tidak ada satupun yang bisa dihubungi. Ia terus mencoba beberapa kali lagi dan lagi namun tetap saja tidak bisa dihubungi.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Helikopter yang ditumpangi Daniel dan Lina mendarat tepat di landasan yang tersedia di atas gedung sekolah Anthony. Setelah turun dari helikopter, Lina mengeluarkan hpnya dan bermaksud menghubungi Julius dan Julia. Lina cukup dikagetkan dengan banyaknya jumlah panggilan masuk dari Julius. Merasa firasat buruk semakin kuat, Lina bergegas menghubungi nomor hp Julius balik. Tak membutuhkan waktu lama untuk telpon diangkat namun bukan suara Julius yang menyambut telpon tersebut.
"Siapa ini?" potong Lina. "Bagaimana bisa hp putra saya ada padamu? Itu merupakan benda pribadinya yang sangat dibenci disentuh oleh siapapun."
"Maafkan saya. Nama saya Marjorie, teman sekelasnya Julius. Saya tidak bermaksud menyentuh barang-barang pribadinya tanpa izin. Tapi ada sesuatu yang harus anda tahu. Saat ini Julius sedang berada di rumah sakit dan harus segera di operasi," jelas Marjorie.
"Apa?! Rumah sakit mana? Saya ada di sekolah Anthony sekarang," tanya Lina seketika panik.
"Baguslah kalau begitu. Anda bisa cepat datang kesini. Kami ada di rumah sakit umum Balvana. Saya akan menjelaskan semuanya setelah anda tiba."
"Baiklah. Saya segera kesana sekarang."
"Ada apa kucing kucing?" tanya Daniel yang ikut panik.
__ADS_1
"Temannya tadi telpon. Katanya Julius sekarang ada di rumah sakit," kata Lina memberitahu yang lain.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, kita ke rumah sakit sekarang."
Daniel, Lina dan Ducan kembali dibuat naik helikopter lagi setelah mendapat kabar tersebut. Tidak ada cara lain untuk sampai di rumah sakit lebih cepat selain menggunakan transportasi udara. Tidak sampai lima menit helikopter tersebut mendarat di landas yang terdapat di atas rumah sakit setelah mendapat izin mendarat. Daniel, Lina, Ducan, Adelia dan Adelio bergegas menuju ruang operasi dimana Julius berada. Tepat di depan pintu ruangan mereka bertemu dengan Marjorie dan Yusra.
"Bagaimana keadaan Julius?" tanya Lina begitu menghampiri.
"Dia masih di ruang operasi," jawab Marjorie.
Tanpa pikir panjang lagi Lina menerobos masuk begitu saja ke ruang operasi tersebut. Aksinya ini tidak dicegat Daniel ataupun Ducan karna mereka tahu betul apa yang akan Lina lakukan. Di dalam Lina dihadang oleh sejumlah perawat namun tidak ada yang bisa menghentikannya untuk terus masuk sampai di depan pintu dimana dilaksanakannya operasi tersebut.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1