
"Kau lah yang akan menyesal Rica karna telah berani menyusup dan mencoba mengutak-atik komputer ku," kata seorang gadis yang melangkah masuk ke ruangan itu.
"Julia?!" Rica tersentak begitu tahu siapa gadis itu. "Ckh! Memangnya kenapa kalau kami mengutak-atik komputer mu? Toh, kau juga tidak bisa berbuat apa-apa pada kami."
"Siapa bilang?"
Tanpa peringatan lagi Julia menyemprotkan semacam gas tidur pada Rica dan Delfa. Mereka berdua langsung tidak sadarkan diri setelah menghirup gas tersebut.
"Bawa mereka ke aula utama dan ikat tangan serta kaki mereka lalu... Coreti wajah mereka menggunakan spidol. Aku akan menyebarkan pengumuman di media sosial yang berisi 'Pertunjukan badut di pagi hari yang dilakukan oleh dua putri keluarga ternama', akan kubuat mereka malu."
"Itu rencana yang sangat bagus sekali. Untuk pertama kalinya kami bisa mengerjai gadis-gadis dari kalangan atas seperti mereka."
Pria yang berdiri disamping Julia melepaskan kacamata hitamnya. Dan ternyata pria itu adalah bos preman sekolah yang dulu pernah dihajar Julia di hari pertama masuk sekolah. Mereka bertiga kini telah menjadi bawahannya Julia.
"Mereka berdua bukanlah apa-apa selain serangga pengganggu. Ayok bawa mereka pergi."
"Sesuai perintahmu bos."
Mereka menjalankan sesuai perintah Julia. Tangan serta kaki Rica dan Delfa diikat lalu tubuh mereka disandarkan di dinding. Tak lupa wajah dari keduanya dicoret habis-habisan menggunakan spidol. Maha karyapun tercipta di wajah cantik mereka bedua. Tidak hanya itu, tangan dan kaki merekapun tidak luput dari coretan. Selesai melukis dan Julia juga sudah selesai menyebarkan pengumuman, Rica dan Delfa ditinggalkan begitu saja di ruang aula tersebut.
Paginya, seperti yang Julia harapkan. Begitu Rica dan Delfa terbangun, mereka dikagetkan dengan puluhan orang mengerumuni mereka sambil merekam dan tertawa dengan lucunya. Karna masih sedikit dalam pengaruh obat bius, butuh waktu lebih dari semenit bagi mereka untuk tersadar sepenuhnya. Rica dan dan Delfa benar-benar dibuat mengamuk atas kejadian tersebut. Mereka membentak seluruh orang yang ada disana untuk menghapus rekaman yang mereka ambil dan mengusir mereka pergi. Sementara itu Julia dan teman-temannya cuman memperhatikan kejadian tersebut dari jauh sambil cekikikan. Beruntung bagi Rica dan Delfa, diantara kerumunan itu ada beberapa teman mereka yang segera membantu mereka melepaskan tali yang melilit tangan dan kaki mereka berdua.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Sudah aku duga Yusra sama sekali tidak bisa diharapkan! Sungguh tidak berguna! Sial!" gurutu Lady Blue marah-marah. Saat ini ia sedang melakukan panggilan video dengan pengurus Hans.
"Tenangkan dirimu, nona. Pasti ada cara agar kau bisa mendapatkan cetak biru robot tersebut."
__ADS_1
"Tidak bisa. Julia meletakan virus komputer untuk melindungi data tersebut. Bagaimana caranya aku bisa menyalin data itu?"
"Kenapa tidak meminta Marjorie untuk melakukannya? Dengan keahlian yang ia miliki dijamin berhasil mendapatkan cetak biru tersebut," kata pengurus Hans memberi saran.
"Jika aku meminta Marjorie melakukannya, dia pasti bertanya-tanya untuk apa aku cetak biru robot itu. Bisa-bisa ia langsung mencurigaiku. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi."
"Lalu bagaimana? Apa nona mau merebut paksa saja robot tersebut?"
"Rebut paksa? Benar juga. Pengurus Hans, kirimkan tiga bawahan mu untuk menjalankan misi menyerang panggung pertunjukan lomba sains. Selain merebut robot itu aku juga ingin memberi rasa ketakutan yang tak terlupakan pada Julia."
"Baik nona."
"Bersiap saja Julia, kau akan mendapatkan pertunjukan yang sangat menarik dan mendebarkan."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Sehari sebelum festival kebudayaan, malam harinya. Julia, Nisa, Febby dan Wendy sudah merasa tidak sabar lagi ingin cepat-cepat hari berganti. Besok pagi merupakan pembukaan festival kebudayaan yang sudah lama mereka tunggu-tunggu. Festival kebudayaan yang berlangsung selama tiga hari itu memang sudah sangat dinantikan sebagian besar siswa dan siswi sekolah Anthony. Persiapan yang dilakukan siang tadi saja sudah disemangati oleh mereka. Walau terkendala cuaca mendung tapi hal itu tidak membuat mereka takut kalau-kalau badai datang dan menghancurkan semua tenda-tenda yang telah dibangun.
Krrrriiiing...
Hp Julia tiba-tiba berbunyi membual lamunan Julia memudar. Ia meraih hpnya dan segera mengangkat telpon tersebut begitu tahu kalau telpon tersebut berasal dari mamanya.
"Halo. Iya ma, ada apa?"
"Em... Begini Julia... Aduh, mama merasa tidak enak mengatakannya."
"Tidak apa ma, katakan saja. Memangnya ada apa?" perasaan Julia sudah mulai tidak enak.
__ADS_1
"Mama minta maaf dulu sebelumnya. Begini Julia, kami kemungkinan tidak bisa datang besok."
"Apa?! Tapi kenapa? Papa dan mama kan sudah janji," Julia benar-benar tak percaya atas apa yang baru saja didengarnya.
"Iya. Tapi papa mu tiba-tiba ada keperluan mendesak di luar kota yang tidak bisa diundur apalagi dibatalkan dan mama juga harus ikut kesana. Adelia dan Adelio saja mama titipkan pada kakek dan nenek mu. Sekali lagi maaf ya sayang," jelas Lina dengan nada begitu sedih tapi ia malah memberi senyum pada Daniel yang berdiri disebelahnya.
"Ya sudah kalau memang seperti itu. Tidak hadir juga tidak apa-apa," terdengar jelas dari telpon kalau Julia sangat kecewa namun ia berusaha menutupi itu.
"Apa kau marah?"
"Tidak. Aku sama sekali tidak marah. Aku memaklumi kesibukan papa dan mama. Ya mau bagaimana lagi. Jika memang itu sangat mendesak, tentu aku tidak bisa memaksan kalian untuk datang."
"Putri mama memang pengertian. Terima kasih sayang. Selamat malam. Kami mencintaimu."
"Aku juga mencintai kalian. Selamat malam."
Julia mematikan telponnya. Ia menarik nafas panjang dan menghenbuskannya perlahan sambil menatap kosong langit-langit kamarnya. Kekecewaan benar-benar menyelimutinya kali ini. Sesuatu yang diharapkannya ternyata tidak berjalan dengan baik. Padahal ia sudah sangat merindukan kedua orang tuanya tapi malah jadi seperti ini. Lama-kelamaan Julia mulai tertidur. Sementara itu Lina dan Daniel menebar senyum antara satu sama lain. Sebenarnya mereka dan dua anak mereka sudah berada di vila milik Samuel sejak tadi siang. Mereka berencana memberi kejutan pada Julia tepat di hari perlombaan. Sedikit tidak tega juga membuat Julia kecewa seperti tadi dan takut Julia akan marah namun mereka percaya kalau kejutan ini akan berjalan lancar.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε