
Semua yang mendengar itu terdiam sesaat menatap Lina. Mereka semua sangat terkejut begitu tahu kalau ternyata Master ahli racun Oleander yang mereka bicarakan ada di depan mereka selama ini.
"Apa.....?! Tidak mungkin wanita kasar sepertimu ini adalah Master ahli racun," tunjuk Samuel pada Lina tidak percaya.
"Beraninya kau mengataiku wanita kasar, apa kau mau aku pukul lagi!" Lina mengepalkan tinjunya ke arah Samuel.
"Jika tidak disebut kasar, lalu apa? Kau itu seperti kucing kecil yang imut tapi suka mecakar."
Raut wajah Lina seketika berubah. "Ku-cing ke-cil. Eghm..."
Lina mencengkram kuat kepalanya menggunakan sebelah tangan disaat tiba-tiba ia merasakan rasa sakit yang menusuk tajam ke kepalanya. Ia memejamkan mata menahan sakit tersebut. Semua orang disana seketika panik terutama Samuel. Ia menarik tubuh Lina menyandarkannya dalam pelukannya.
"Hei, Velia. Kau, kau bisa mendengar ku? Kau kenapa?" teriak Samuel panik sambil membelai rambut yang menutupi wajah Lina.
"Haa... Haa..."
Nafas Lina terdengar sesak dan lemah. Dengan mata setengah terbuka, dia hendak membelai wajah Samuel yang dalam bayangannya adalah wajah suaminya.
"Da... Da-ni-el."
Samuel tersentak. Matanya melebar menatap Lina yang telah tidak sadarkan diri dipangkuannya. Dokter Pram bergegas menyiapkan selang oksigen yang memang tersedia disana sebelumnya. Dengan cepatnya tersadar, Samuel segera membaringkan tubuh Lina. Selang oksigen dipasang di hidung Lina untuk membantunya bernafas. Dokter Pram langsung melakukan pemeriksaan medis.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Sementara itu di kediaman, Violet mondar-mandir seperti setrikaan sambil menatap layar hpnya dan beberapa kali berusaha menelpon seseorang.
"Kenapa para preman yang aku suruh menculik Julius dan Julia tidak dapat dihubungi?!! Apa mereka berhasil atau tidak melaksanakan perintahku? Aah...! Jika mereka gagal aku akan memotong mereka satu persatu!!"
Geram Violet. Karna lelah mondar-mandir, ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan keadaan kepala menatap langit-langit.
"Hah... Kau harus tenang Violet. Berpikir positif. Mungkin saja para preman rendahan itu telah berhasil membunuh dua bocah nakal tersebut. Toh, aku juga tidak mendengar kabar dari mereka lagi sampai sekarang. Dengan matinya kedua bocah nakal itu, maka hidupku akan menjadi tentram. Damai-damailah disana bersama mama kalian, Julius dan Julia."
Violet mengeluarkan suatu benda dari saku celananya. Ia mengangkat tinggi-tinggi benda bundar tersebut lalu menerawangnya pada cahaya lampu gantung yang ada tepat berada di atas kepalanya.
"Token rumah lelang Red Krisan. Bagian yang hilang darimu pasti diwariskan pada Julia. Gadis kecil itu mungkin menyembunyikannya di kamarnya."
Violet tiba-tiba menegakkan tubuhnya disaat telinganya menangkap suara mobil berhenti dari luar. Ia dengan cepat mengantongi kembali Token rumah lelang tersebut.
__ADS_1
"Itu pasti Daniel. Aku harus terlihat sedih."
"Dani..."
Mulut Violet seketika tertutup begitu melihat Daniel masuk bersama Julius dan Julia dalam keadaan baik-baik saja.
"Ba, bagaimana bisa? Me, mereka masih hidup dan bersama Daniel pula. Lalu, dimana para preman itu? Tidak. Aku harus tampak khawatir agar Daniel tidak curiga kalau aku sengaja meninggalkan anak-anaknya di taman," batin Violet.
Violet mencubit dirinya sendiri sampai ia mengeluarkan air mata. Ia berlari menghampiri mereka dengan raut wajah pura-pura sedih.
"Julius, Julia, kalian kemana saja? Mama mencari kalian kemana-mana di seluruh taman itu. Kalian membuat mama sangat khawatir," Violet menyekat air mata palsu nya.
"Kenapa? Apa mereka sempat hilang?" tanya Daniel pura-pura tidak tahu.
"Em... Begini Daniel. Hari ini aku mengajak mereka berjalan-jalan. Aku bermaksud menghabiskan waktu bersama mereka. Di taman aku meninggalkan mereka sebentar untuk membeli minuman tapi begitu aku kembali aku tidak menemukan mereka. Aku berusaha mencari mereka di seluruh taman itu dan sebenarnya aku baru kembali. Maaf, maafkan mama sayang. Hiks... Hiks..." bohong Violet.
"Kucingku tidak akan mungkin seceroboh itu," kata Daniel dalam hati. "Kenapa kau tidak menelponku?"
"Maaf, aku terlalu panik. Aku takut terjadi sesuatu pada mereka."
"Seharusnya kau tidak perlu takut terjadi sesuatu pada mereka. Apa kau lupa, Julius dan Julia sudah dilatih secara pribadi olehku. Mereka tidak bisa disamakan dengan anak-anak yang seumuran dengan mereka."
"Ma, maksud kalian? Ka, kalian tadi diserang para preman?"
"Bukan diserang, lebih tepatnya bermain," Julius menyeringai jahat. Ia memainkan belati kecilnya di tangannya.
"Ka, kalian bersenjata?! Lalu, bagaimana dengan para preman itu?" tubuh Violet sedikit gemetar melihat Julius dan Julia.
"Kenapa mama masih bertanya. Tentu saja mereka semua mati," ujar Julia dengan senyum lebar.
"Apa?!" Violet sangat terkejut mendengarnya. "Sial! Tidak aku sangkah ternyata preman rendahan tidak cukup untuk menyingkirkan dua bocah ini. Seharusnya aku memerintahkan bawahanku saja untuk membunuh mereka."
"Anak papa memang hebat. Lebih baik kalian berdua pergi mandi. Kalian bau anyir darah."
"Baiklah," jawab mereka serempak. Julius dan Julia berlari menaiki tangga.
"Ada apa? Kau terlihat tanpa terkejut melihat mereka membunuh seseorang. Ini juga bukan yang pertama kali bagi mereka," Daniel berjalan mendekati Violet.
__ADS_1
"Em... Aku... Aku mungkin terlalu kelelahan dan bercampur panik sampai lupa kalau putra-putri ku merupakan anak-anak yang hebat," dengan cepat Violet mencari alasan.
"Jika lelah, sebaiknya kau segera istirahat. Aku tidak menemani. Aku masih harus ke ruang kerjaku untuk mengurus sesuatu."
"Kau selalu sibuk setiap harinya bahkan diakhir pekan. Kau tidak ada waktu untukku."
"Maafkan aku. Kau pasti kesepian. Aku memang sangat sibuk belakangan ini. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Masalah selalu datang silih berganti."
"Bahkan untuk satu jam saja kau tidak ada untukku?" tangan Violet mulai nakal membelai jas Daniel.
"Maaf. Kita lanjutkan lain kali saja. Sepertinya file yang aku minta Qazi kirimkan sudah masuk. Aku harus segera memeriksanya," dengan cepat Daniel menghindar dan bergegas pergi menuju ruang kerjanya.
"Ada apa dengannya? Ia selalu saja menghindar dariku."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Daniel... Daniel... Daniel!!!" teriak Lina sampai terduduk. Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia mengatur nafasnya menenangkan diri. "Haa... Haa... Huh..."
"Kau sudah bangun?" sapa Samuel yang bersandar di depan pintu kamar Lina.
"Samuel."
"Kau siapa nya Daniel?"
Samuel berjalan mendekat. Ia naik ke tempat tidur, merangkak ke atas tubuh Lina dan mendekatkan wajahnya ke wajah Lina. Ia membetulkan helaian rambut yang menempel di wajah Lina sambil menatap lurus mata wanita yang kini terpaku diam, tidak bisa melarikan diri.
"Ku perhatikan pagi ini kau terus saja menyebutkan namanya. Apa kau itu wanita simpanan Daniel? Dan anak dalam kandunganmu ini adalah anaknya."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε