Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menyelesaikan misi


__ADS_3

Sementara itu di dalam. Dengan santai nya Marjorie mengambil tempat duduk di sofa yang tersedia dalam kamar hotel tersebut. Ia menyilangkan kakinya sambil memainkan rambut pirang emasnya menggunakan telunjuknya.


"Dimana Lady Blue? Kenapa dia mengirimkan gadis kecil seperti dirimu kemari? Bagaimana aku bisa keluar dari pulau ini? Padahal ia sudah berjanji padaku," tanya Dinzo dengan nada cukup tinggi.


"Apa kau menentang keputusan Lady Blue? Seharusnya kau berterima kasih, setelah kegagalan yang kau lakukan, dia masih memintaku untuk membantumu keluar dari pulau ini."


"Tapi apa yang dia pikirkan? Bagaimana bisa aku keluar dari pulau ini tanpa tertangkap dengan mengandalkan dirimu? Apa kau tidak lihat seluruh polisi di pulau ini sedang mencari keberadaanku? Menyusup dan menyamar juga percuma saja."


"Kau harus percaya pada padaku. Lady Blue saja percaya bahwa aku bisa membantumu. Lantas kenapa kau tidak?"


"Aku ingin tahu bagaimana caranya kau membebaskan aku dari sini gadis kecil?" dari raut waja Dinzo jelas ia meremehkan Marjorie.


"Mudah."


Marjorie berdiri dan berjalan mendekati Dinzo. Tiba-tiba, tanpa peringatan Marjorie menusukan sebila pisau tepat ke perut Dinzo. Kaget karna hal itu Dinzo tidak sempat menghindari serangan tiba-tiba tersebut.


"Argh!" Dinzo terkapar di lantai sambil memengangi perutnya yang terluka. "Ke... Kenapa?"


"Ah, maafkan aku. Cuman ada satu cara untuk dapat membantumu yaitu... Membunuhmu," tatapan tajam dan aura membunuh yang ketal seketika terpancar dari diri Marjorie. "Perintah langsung dari Lady Blue. Selesai."


"Sialan. Uhuk! Setelah apa yang aku lakukan, ini balasan yang aku terima!"


"Kau tidak berguna lagi bagi kami. Jadi Lady Blue memutuskan untuk melenyapkanmu dari muka bumi. Bukankah dengan begini aku sudah membantumu bebas dari pulau ini, Tn Dinzo?"


Dengan senyum manis diwajahnya, Marjoret melangkah keluar dari kamar tersebut meninggalkan tubuh Dinzo yang sudah meregang nyawa. Baru membuka pintu dan hendak melangkah keluar, Marjorie tidak menyadari kehadiran Julius di depan pintu masuk. Begitu juga dengan Julius. Ia tidak tahu kalau pertemuan Marjorie dan pria itu berlangsung sangat singkat. Hal hasil tabrakanpun tidak terelakan. Sangking kerasnya tabrakan itu sampai membuat mereka bedua terguling di lantai dengan posisi Marjorie tepat berada di atas Julius.


"Aduuhh.... Sepertinya luka di kepalaku semakin parah," rinti Julius kesakitan.


Marjorie yang juga mengalami rasa sakit di beberapa bagian tubunya berusaha mengangkat wajahnya. Namun ia seketika mematung begitu tahu siapa yang barusan ia tabrak. Wajah lembut yang begitu dekat dan sedikit tertutup helaian rambut pirang nya membuat Marjorie ingin terus menatap wajah tersebut berlama-lama.

__ADS_1


"Hei, mau berapa lama kau terus berbaring di atas tubuhku? Berat tahu!" kata Julius membuat Marjorie tersadar.


"Hah?!" mendengar itu sontak Marorie langsung berdiri. "A, apa yang kau lakukan disini?" tanya Marjorie tergagap-gagap.


"Itu dia! Tangkap mereka."


Belum cukup terkejut dengan kehadiran Julius, Marjorie dibuat bingung dengan dua orang pria yang tiba-tiba datang dan hendak menangkapnya. Marjorie sempat melirik ke dalam kamar. Di dalam kamar yang lumayan minim pencahayaan terlihat hp Dinzo memancarkan sinar. Sebelum meregang nyawa ternyata Dinzo masih menyempatkan diri menghubungi seseorang.


"Kurang ajar! Ternyata ia masih memiliki anak buah disini. Ayok cepat pergi dari sini."


Marjorie seketika menarik tangan Julius, kemudian mengajaknya pergi dari hotel tersebut. Mereka berlari menuju tangga yang berada berlawanan dengan lif. Bukan tanpa alasan mereka terpaksa menggunakan tangga, arah lif itu terlalu jauh dan tepat berada di arah datangnya dua orang tadi. Sampai di lantai 3 kedua orang itu masih mengejar mereka dan terlihat semakin mendekat.


Merasa kemungkinan akan tertangkap semakin besar, Julius mengajak Marjorie untuk bersembunyi. Mereka bersembunyi di gudang penyimpanan yang kebetulan tidak dikunci. Ruangan yang lumayan sempit itu membuat Julius harus mendekap Marjorie dalam pelukannya agar mereka bisa bersembunyi disana. Detak jantung Marjorie seketika meningkat drastis. Mereka bedua sangat dekat sampai-sampai Marjorie bisa mendengar suara detak jantung Julius dengan sangat jelas dan merasakan gerakan setiap kali Julius menarik serta menghembuskan nafasnya.


Rasa hangat dari tubuh Julius membuat Marjore tanpa sadar merangkulkan kedua tangannya di pinggang Julius. Menyadari kalau gadis dihadapannya ini mempererat pelukannya, membuat Julius tersenyum begitu melirik Marjorie yang memejamkan mata. Ia kembali mengalihkan pandangnya ke celah pintu yang sedikit terbuka untuk memantau dua orang yang tadi mengejar mereka. Dari celah pintu tersebut Julius melihat kedua orang pria itu telah pergi ke sisi lain hotel.


"A, aku takut ruangan sempit. I, itu membuatku sesak nafas."


"Tapi kau tidak terdengar seperti mengalami sesak nafas sama sekali," batin Julius. "Kau bisa melepaskan pelukanmu sekarang agar kita bisa keluar dari ruang sempit ini. Aku sungguh tidak bisa bergerak karnamu."


Perlahan Marjorie melepaskan pelukannya namun dengan keadaan mata masih terpejam. Julius memperlebar celah pintu lalu melirik kesana kemari untuk memastikan semuanya aman. Serasa sudah benar-benar aman, Julius menarik Marjorie keluar dari ruang penyimpanan itu. Tidak ada percakapan diantara mereka begitu mengendap-endap keluar dari hotel Tiffany. Pikiran Marjorie terlalu disibukkan dengan kejadian di dalam ruang penyimpanan tadi. Untuk pertama kalinya ia merasa tenang berada di dalam ruangan sempit. Kenyamanan dan kehangatan tubuh Julius membuat rasa takut yang biasa menghantuinya di ruangan sempit menjadi hilang seketika.


"Sudah cukup. Sampai disini saja," dengan berat hati Marjorie menarik tangannya dari genggaman Julius.


"Kau tidak ingin aku mengatarmu kembali ke asrama sekolah? Aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis sendirian di larut malam begini."


"Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Benarkah? Bagaimana kalau kau bertemu dengan dua pria seperti tadi? Kelihatannya mereka mengincar dirimu. Dan lagi, apa yang kau lakukan di dalam kamar hotel tadi bersama seorang pria..."

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!" potong Marjorie. "Lagi pula, apa yang kau lakukan disana? Apa kau membuntutiku?"


"Kalau iya, kenapa? Aku cukup penasaran melihat seorang gadis datang ke hotel malam-malam begini. Apa mungkin..."


"Kau... Jangan berpikir sembarangan!"


"Berpikir sembarangan? Memangnya aku berpikir apa?" dengan nada menggoda Julius mendekatkan wajahnya ke wajah Marjorie.


Di pencahayaan taman yang redup Julius masih bisa melihat dengan jelas kalau wajah di depannya ini memerah.


"Aah...! Seharusnya aku marah padamu karna telah sembarangan ikut campur urusan orang lain!" bentak Marjorie kesal kepada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya.


"Beginikah caramu berterima kasih? Hei, nona. Kalau bukan karna aku, kau pasti sudah ditangkap oleh dua pria tadi yang entah ada masalah apa denganmu."


"Tunggu, kenapa aku melarikan diri tadi?" pikir Marjorie baru sadar atas apa yang ia lakukan. "Aku kan bisa saja menghajar mereka disana tanpa harus repot-repot kabur seperti tadi. Ini semua gara-gara Julius!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2