Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Bantai mereka!


__ADS_3

Lif perlahan naik ke lantai dasar. Gas racun yang tersisa dalam lif ikut terbawa naik dan terlihat masih tersisa di udara begitu pintu lif terbuka. Daniel, Rayner, Lina dan yang lainnya hendak melangkah masuk sebelum Ducan tiba-tiba mencegat mereka.


"Tunggu! Kalian tidak pakai masker anti racun? Gas beracun itu masih berterbangan di udara. Tidak lucu jika kalian merasakan senjata kalian sendiri," kata Ducan yang telah menggunakan maskernya.


"Ups, hampir lupa," Lina berjalan mendekati ayahnya dan memberinya pil berwarna merah gelap. "Minumlah pil ini ayah. Pil itu merupakan penangkal semua jenis racun."


"Luar biasa. Putriku sungguh luar biasa bisa menciptakan pil seperti ini," Ducan menerima pil itu lalu langsung menelannya.


"Dengan begitu ayah bisa dengan bebas bergerak di dalam asap beracun itu."


"Apa semua anggota mendapatkan pil yang sama?"


"Tidak. Aku tidak bisa membuat banyak karna bahan-bahannya yang langkah."


Kelompok Jony yang dipimpin oleh Rayner turun terlebih dahulu. Mereka siap siaga mengacungkan senjata kalau-kalau ada seseorang di depan pintu lif dan segera menembaknya. Mereka mulai menyelusuri sisi bagian kanan bangunan. Bermodal bom asap beracun, pekerjaan mereka menjadi lebih mudah dalam melumpuhkan lawan.


Ducan berserta anak buahnya kemudian turun setelah pintu lif terbuka. Mereka akan menyerang sisi bagian kiri bangunan. Menyebarkan asap beracun terlebih dahulu juga menjadi senjata mereka sebelum masuk ke ruang satu ke ruangan lainnya.


Dan yang terakhir turun adalah Daniel dan Lina berserta anggota Qazi. Mereka pergi ke pusat markas yang dimana Violet disekap. Tapi untuk sampai disana mereka harus melewati beberapa ruangan dengan penjagaan yang ketat. Satu bom asap dilempar ke antara para penjaga bersenjata itu. Asap beracun yang dihasilkan mulai memenuhi ruangan.


"Uhuk! Uhuk! Apa-apaan ini?!!"


"Asap dari mana ini?"


"Ada serangan!" teriak salah satu dari mereka begitu melihat anggota Qazi yang mulai menembak.


"Semuanya serang mereka!!" perintah yang lain.


Dor! Dor! Dor!


Suara tembakan terdengar saling membalas mengisi ruangan tersebut. Akibat asap beracun yang dihirup lawan membuat daya serangan mereka perlahan melemah. Mereka bahkan tidak memiliki cukup tenaga menahan senjata mereka agar bisa menembak tepat sasaran. Tidak sampai persekian menit, para penjaga itu dengan mudah dilumpuhkan.


Mendengar ada suara tembakan memancing para pengawal yang lain berbondong-bondong mendekat dan meluncurkan tembakan. Mereka yang baru datang belum terpengaruh oleh gas beracun. Kekuatan serangan mereka belum melemah sama sekali. Tapi hal itu cukup menunggu saja, karna gas beracun yang menyebar di udara bertahan lebih lama. Sampai gas beracun itu mengisi paru-paru para penjaga itu maka mereka akan tidak berdaya.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


Walaupun begitu, jumlah dari lawan lebih tinggi dari jumlah mereka. Mereka sedikit kewalahan menghadapi para penjaga itu yang terus berdatangan.


"Kucing kecil tetaplah bersembunyi di belakang ku," kata Daniel sambil sesekali membalas tembakan. Saat ini mereka sedang berlindung dibalik tembok.


"Kau pikir aku mau diam saja dan duduk santai melihatmu? Itu tidak akan mungkin terjadi!" dengan mengandalkan pistol di tangga nya, Lina ikut meluncurkan tembakan.


"Kucing kecil, jangan keras kepala!" teriak Daniel yang khawatir dengan keselamatan Lina.


"Aku sudah lama menantikan hari ini. Saatnya menunjukan hasil latihan ku selama ini."


Lina mala melangkah maju lebih dekat sambil terus membalas serangan dari para penjaga itu diselah-selah menghindari tembakan. Dibantu Judy dan Emma, mereka bertiga menyerang dengan kekuatan penuh. Satu persatu para penjaga tersebut tumbang seketika.


"Oo, astaga. Ini sangat menyenangkan!" teriak Lina dengan riang nya. "Bagaimana dengan kalian, Emma, Judy?"


"Sudah lama kami tidak merasakan perasaan ini."


"Iya. Ini membuatku sangat bergairah. Aku jadi ingat dengan misi kami membantai satu keluarga Mbiyen," ujar Emma.


"Kalian berdua pasti sangat senang dapat membantai lagi seperti dulu."


"Aku menyukai perkerjaanku," Judy semakin bersemangat apa lagi efek racun telah berkerja pada para penjaga.


Daniel, Qazi dan seluruh anggotanya terperangak melihat ketiga wanita itu yang begitu bersemangat menyerang para penjaga tersebut. Tidak tampak raut wajah ketakuatan di wajah manis mereka. Mereka mala begitu mengerikan dan sadis. Mereka tanpa ampun membunuh puluhan orang dan masih bisa sempat-sempatnya mengobrol di selah-selah suara tembakan. Senyum di wajah mereka tidak memudar sama sekali.


"Apa mereka masih ketiga gadis yang kita kenal?" setidaknya itu lah pertanyaan yang muncul disaat mereka melihat Lina, Judy dan Emma yang kini memimpin di depan.


"Hah... Dia menggila," Daniel bergegas menyusul istrinya itu.


Disisi lain Rayner dan Ducan berserta kelompok mereka juga dalam keadaan sengit baku tembak dengan para penjaga. Namun mereka tidak mendapat kesulitan sama sekali. Benar apa kata Lina, ini seperti sebuah permainan dalam video geme. Kelompok Ducan berhasil membantai seluruh para penjaga yang ada disetiap ruangan di sisi kiri bangunan tersebut. Kini tinggal ruangan terakhir yang belum ditelusuri. Sebuah pintu besar telah menanti untuk dibuka.


"Oho... Lihat semua senjata ini," kata Ducan begitu tahu kalau ruangan tersebut merupakan gudang senjata api. "Mereka sungguh memiliki persediaan yang lengkap."

__ADS_1


"Saya mengenali beberapa jenis senjata ini," ujar Tony, tangan kanan Ducan. "Dari bentuk dan bahannya, ini merupakan salah satu jenis senjata yang baru dikembangkan di benua Eropa," jelasnya begitu menenteng senjata tersebut.


"Sejauh yang aku tahu keluarga tersembunyi memang berkerja sama dengan salah satu perusahaan pembuatan senjata rahasia di benua Eropa. Senjata-senjata ini pasti produk-produk terbaru mereka."


"Kalian sepertinya akan tertarik untuk melihat ini," kata Rayner melalui Handsfree.


"Apa yang kau temukan Tn. Flors?" tanya Ducan sambil mencoba salah satu senjata yang ada.


"Pemiliki tempat ini sepertinya sedang mengembangkan Nanoteknologi," Rayner hendak membuka kotak kaca yang menyelimuti proyek penelitian tersebut namun dengan cepat dicegat istrinya.


"Jangan menyentuhnya sayang!"


"Ada apa?"


"Proyek penelitian itu dilindungi bom radiasi. Hanya ilmuwan yang diperbolehkan menyentuhnya. Jika orang lain mencoba membuka paksa kotak kaca tersebut maka bom itu akan aktif," jelas Briety.


"Apa tidak ada cara agar bom itu dinonaktif?"


"Sayangnya tidak ada. Tapi kami menemukan kalau Nanoteknologi merupakan proyek penelitian yang gagal. Tidak ditemukan catatan bahwa mereka berhasil mengembangkannya, dan juga tidak ditemukan tujuan mereka mengembangkan Nanoteknologi tersebut. Sepertinya itu merupakan penelitian yang masih baru."


"Jika mereka berhasil, ini pasti akan menjadi penemuan yang hebat."


"Tidak heran dia menginginkan kekayaan rumah lelang. Untuk mewujudkan proyek penelitian itu pasti memerlukan biaya yang sangat besar," kata Ducan menyimpulkan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2