
Mereka pergi mencari Wendy dan Nisa di tempat-tempat yang mungkin mereka datangi seperti ruang musik, toilet, kamar asrama mereka, ruang kelas, kantin, bazar dan dimanapun. Mereka juga bertanya pada siswa atau siswi yang lain namun masih belum kunjung menemukan kedua teman mereka itu.
"Julia, Febby, apa yang kalian lakukan disini?" sapa Via begitu berjumpa dengan mereka.
"Bibi Via, kami sedang mencari Nisa dan Wendy berserta kakak sekalian. Apa bibi melihat mereka?" tanya Julia.
"Tidak. Bukankah tadi mereka bersama kalian? Kalau Julius, dari pagi ini aku tidak melihatnya."
"Hah... Kemana mereka bertiga pergi? Padahal pertunjukan sebentar lagi mau dimulai," Febby terlihat sudah lelah berkeliling.
"Sudah telpon mereka?"
"Sudah, tapi tidak ada satupun yang diangkat."
"Ya sudah, bibi akan bantu kalian mencarinya. Mereka pasti ada di suatu tempat di sekolah ini."
"Mohon bantuannya ya bibi Via."
Dibantu Via, mereka kini kembali mencari Nisa, Wendy dan Julius. Agar lebih cepat mereka berpencar dan memeriksa setiap ruangan di sekolah tersebut yang belum mereka periksa.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
"Aduuh... Kurang ajar kau Rica! Orang tidak nganggu dia juga, kenapa tiba-tiba menyerang kami."
Rintih Wendy yang baru sadar dari pingsannya. Ia mengusap bagian belakang lehernya yang masih sakit akibat pukulan dari Rica yang menyebabkannya tidak sadarkan diri. Sambil bangkit dari dinginnya lantai yang berdebu, Wendy baru menyadari kalau ia sekarang berada di gudang sekolah, sendirian.
"Bagaimana bisa aku ada disini? Dimana Nisa."
Wendy berusaha membuka pintu gudang tersebut namun pintu itu terkunci. Ia mencoba mendobraknya beberapa kali tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk membuat pintu itu bergerak. Berteriak minta tolong rasanya percuma saja. Cuman sedikit orang yang melewati area di dekat gudang. Tapi Wendy tidak ada pilihan lain, berharap-harap saja ada seseorang yang lewat dan mendengar teriakan nya. Hampir seperempat jam Wendy berteriak minta tolong dan sesekali mengedit pintu namun tidak kunjung ada orang yang datang. Suaranya sudah hampir hilang dengan tubuh yang lelah, Wendy mulai putus asa sampai ia mendengar suara derap langkah kaki berlari semakin mendekat. Semangat Wendy kembali. Ia mengerahkan sisa tenaganya untuk menggedur pintu gudang itu sambil berteriak minta tolong.
"Tolong!! Siapapun yang ada diluar, tolong aku! Aku terkunci di gudang!"
"Wendy! Apa itu kau?!!" balas orang yang ada diluar.
Wendy segera tahu siapa mereka. "Julia, Febby. Iya, ini aku. Aku mohon buka pintunya."
"Bertahanlah! Kami akan coba mengeluarkan mu," teriak Febby. "Bagaimana ini Julia? Pintunya di kunci."
"Wendy! Bisa kau menyingkir sejauh mungkin dari pintu?" pinta Julia.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Wendy.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Febby.
"Apa lagi selain mendobraknya," Julia mulai mengambil ancang-ancang mendobrak pintu tersebut.
Bruk!!
Dalam sekali tendangan pintu tersebut terbuka seketika dengan bagian kunci terpental entah kemana. Febby teperangak melihat aksi temannya satu ini yang sanggup mendobrak pintu dalam sekali tendangan. Apa semua putri dari keluarga ternama memiliki kekuatan yang luar biasa? Tidak mau dipusingkan dengan soal itu, Julia dan Febby segera masuk ke gudang untuk menemui Wendy.
"Julia, Febby, aku senang kalian datang. Hiks... Hiks..." Wendy memeluk dua temannya itu sambil menangis. "Aku sempat berpikir tidak akan bisa keluar dari tempat ini. Terima kasih telah menyelamatkan ku."
"Sudahlah Wendy, jangan menangis lagi," kata Febby menenangkan Wendy.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau terkunci di gudang dan dimana Nisa?"
"Aku tidak tahu Nisa ada dimana. Yang jelas setelah kembali dari toilet Rica tiba-tiba menyerang kami. Aku mencoba melawan tapi dia memukulku sampai pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Begitu aku bangun aku sudah ada disini," jelas Wendy panjang lebar.
"Rica? Untuk apa dia menyerang kalian dan apa mungkin Nisa sekarang bersamanya?" tanya Febby menebak-nebak.
"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya, yaitu bertanya langsung ke si pelaku," dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang kuat, Julia berbalik pergi.
"Tidak. Kalian tetaplah disini. Katakan pada bu Feli kalau kami mungkin terlambat atau bahkan tidak akan ikut pertunjukan musik."
"Bagaimana cara kau mencari Nisa sementara kita tidak tahu dimana dia berada?" tanya Wendy.
"Aku cuman perlu kembali ke vila paman Samuel. Disana ada perlengkapan yang bisa berguna untuk melacak hp Nisa atau Rica."
"Tapi, Julia. Apa kau yakin mau pergi sendiri?" raut wajah Febby terlihat engan membiarkan Julia pergi.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan membawa Nisa kembali."
Julia mencoba menyakinkan temannya itu. Ia menepuk bahu Febby sambil tersenyum sebelum melangkah pergi. Febby tidak bisa menahan temannya lagi. Ia cuman mantap punggung Julia yang semakin menjauh dan kemudian menghilang.
"Percaya pada Julia, Febby. Tidak akan ada yang bisa menyakiti gadis itu."
"Aku tahu. Cuman... Entah mengapa aku merasa kalau itu adalah senyum terakhir yang kulihat dari wajahnya."
"Itu cuman perasaanmu saja. Kau terlalu menghawatirkan dirinya."
__ADS_1
"Mungkin kau benar."
"Oh, iya. Bagaimana kalian tahu aku ada disini?"
"Disaat melewati lorong ini untuk mencari kalian, tiba-tiba ia berlari ke arah sini. Aku bergegas mengikutinya. Semakin mendekati gudang barulah aku tahu apa yang menyebabkan Julia tiba-tiba berlari. Ternyata ia mendengar suara teriankanmu yang minta tolong. Sungguh pendengaran yang luar biasa."
"Iya. Kau benar. Aku mungkin masih terjebak di gudang itu kalau bukan karna dia. Aku harap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi pada mereka."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Setelah pencarian yang cukup lama akhirnya Via berhasil menemukan Julius di atap gedung sekolah. Betapa terkejutnya Via disaat ia melihat Julius terbaring tidak sadarkan diri di bawah langit yang mendung.
"Julius, Julius, bangun Julius!" panggil Via mencoba membangunkan Julius.
Perlahan Julius membuka matanya sambil mencengkram kepalanya yang sedikit pusing. "Aduh... Apa yang terjadi?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa yang terjadi padamu? Bagaimana bisa kau pingsan disini?"
Via membantu Julius duduk. Julius masih merasakan sedikit efek samping dari obat bius yang Marjorie gunakan padanya. Setelah mulai membaik Julius baru sadar kalau ia mengengam sebuah anting-anting.
"Anting-anting lama ku? Aku pikir sudah hilang, bagaimana bisa ada disini? Apa jangan-jangan Death knell yang menyimpannya selama ini, sama seperti aku menyimpan lonceng miliknya?" pikir Julius. Ia memasang anting-anting tersebut di daun telinganya.
"Sudah lama aku tidak melihatmu mengenakan anting-anting itu. Kalau tidak salah, itu pemberian dari adikmu di hari ulang tahun kalian, kan?"
"Iya. Dulu sempat hilang, jadi aku tidak memakainya."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1