
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Ny. Arlo pada seorang dokter begitu selesai memeriksa kondisi Yusra.
Yusra sekarang ini sedang berada di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Bersin-bersin yang tiada henti membuat dia harus menjalankan beberapa tes kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti sakitnya. Gejala yang dialami Yusra kurang lebih hampir sama dengan terserang flu. Hal itu ditandai dengan bersin-bersin, hidung berair, mata merah, suhu tubuh meningkat, pusing disertai demam dan sesak nafas. Tapi dokter dibuat sedikit kebingungan. Walau gejala yang dialami Yusra sama dengan flu, namun dokter yakin kalau dia tidak terserang flu sama sekali. Kalau begitu apa?
"Keadaannya mulai membaik setelah minum obat. Suhu tubuhnya juga sudah kembali normal, hanya saja masih sering bersin. Saya berspekulasi kalau tuan muda saat ini sedang menderita alergi tertentu atau semacamnya," jelas dokter itu.
"Alergi? Yusra tidak memiliki alergi terhadap apapun. Apa anda yakin, dok?"
"Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut nanti untuk memastikan. Anda tidak perlu khawatir. Saya permisi," kata dokter tersebut kemudian melangkah keluar.
Ny. Arlo mengambil tempat duduk disamping ranjang putranya. Dielusnya sekali rambut putranya sambil menatap sedih kondisi Yusra yang saat ini terbaring di tempat tidur rumah sakit.
"Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa masih ada yang sakit?" tanya Ny. Arlo pada putranya.
"Aku baik ibu. Jangan mengangapku seperti anak kecil."
"Aku mengkhawatirkan mu. Hal wajar bagi seorang ibu khawatir melihat putranya yang jatuh sakit. Memangnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kau berakhir seperti ini? Ibu tahu betul kau tidak memiliki riwayat alergi apapun."
"Memangnya ibu pikir aku tahu? Sejak..." Yusra tiba-tiba teringat disaat Julius mengibarkan sedikit debu di seragamnya. Sejak saat itulah ia mulai bersin-bersin.
"Sejak... Apa Yusra? Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya ibunya dengan ekspresi bingung.
"Tidak, tidak. Hachii! Aku cuman sedikit merasa janggal dengan seorang siswa yang aku temui siang ini. Ia sempat mengibaskan debu di pundak ku dan sejak itulah aku mulai bersin-bersin," jelas Yusra pelan.
"Apa?! Kenapa kau tidak bilang dari awal? Aku akan menelpon ayahmu untuk menangkap bocah itu. Dia pasti meletakan serbuk racun yang membuatmu sampai seperti ini," Ny. Arlo bergegas mengeluarkan hpnya dan hendak menelpon suaminya.
__ADS_1
"Eett... Tunggu, tunggu, ibu. Itu cuman tebakkanku saja. Hachii! Bagaimana mungkin ada seorang siswa membawa serbuk racun ke dalam lingkungan sekolah?" kata Yusra mencengat ibunya menelpon ayahnya.
"Mungkin ia bukanlah siswa biasa? Mungkin dia adalah oknum yang menyamar untuk kepentingan tertentu? Pokoknya ibu akan menyelidiki ini. Dimana seragam yang kau pakai siang tadi? Ibu mau membawanya ke laboratorium untuk pengujian, apa benar ada sebuk racun yang menempel disana atau tidak."
"Fiuhh... Tidak seharusnya aku mengatakan itu. Untung ibu tidak melaporkanya pada ayah. Jika itu sampai terjadi, bagaimana bisa aku mendekati Julia. Dia akan membenciku jika kakaknya ditangkap. Tapi aku sedikit penasaran juga dengan debu di jas seragam ku. Apa benar itu serbuk racun atau bukan? Ya sudah. Aku akan tahu setelah ibu meminta seseorang untuk melakukan pengujian," batin Yusra.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Malam harinya, Julia menelpon Qazi untuk memastikan apa yang dikatakan Julius benar kalau Qazi memang memberikan mereka hadiah tersebut. Karna masih ada keraguan dalam benak Julia sebab Qazi atau Judy tidak memberitahu ia sebelumnya kalau ingin memberi hadiah. Sambil menunggu telpon diangkat, Julia memperhatikan jam tangan berwarna hitam yang sedikit kebesaran dipergelangan tangannya. Walaupun begitu entah mengapa ia menyukai jam tangan tersebut.
"Selamat malam paman Qazi," sapa Julia begitu telpon diangkat.
"Malam. Ada yang bisa saya bantu, nona Julia?" tanya Qazi.
"Oh, iya. Maaf, saya lupa memberitahukannya padamu. Semua ini ide Judy. Ia ingin memberikan hadiah selamat atas diterimanya kalian di sekolah Anthony. Apa kalian menyukainya?"
"Ternyata benar. Paman Qazi tidak mungkin bohong," batin Julia. "Sangat suka. Terima kasih paman, bibi."
"Sekali maaf tidak memberitahu mu lebih dulu."
"Tidak apa-apa. Aku tahu paman dan bibi cukup disibukkan mengasuh Arya. Kalau tidak salah dia sudah masuk kelas tiga sekolah dasar tahun ini. Bagaimana kabarnya?"
"Baik. Dia baru tidur. Kami memang sedikit kerepotan meladeni kemauannya. Dia benar-benar nakal."
"Hahaha... Tapi aku suka perilakunya itu. Arya bocah yang ceria dan sangat ingin tahu segala hal. Sampaikan salamku padanya."
__ADS_1
"Baiklah. Selamat malam nona Julia."
"Selamat malam paman Qazi," Julia kemudian menutup telponnya lalu menarik selimut dan mulai tertidur.
Arya adalah putra pertama dari Qazi dan Judy setelah sekian lama mereka belum dikarunia keturunan. Semua ini berkat obat tradisional yang Lina dapat dari desa, tempat tinggalnya dulu. Sekarang ini umur Arya sudah menginjak 8 tahun dan mengenyam dibangku sekolah dasar. Berkepribadian yang ceria dan berkingintahuan tinggi membuat Qazi dan Judy cukup dibuat kewalahan meladeni setiap pertanyaan yang diajukan putra mereka. Arya bersekolah di sekolah yang sama dengan Adelia dan Adelio yang membuat mereka menjadi teman baik di sekolah. Tapi Arya terlihat lebih akrab bermain dengan Adelia karna watak dan perilaku mereka yang sepermikiran. Apalagi soal menjahili teman-teman mereka yang lain.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Jam 22.43 disaat semua orang sudah tidur, Marjorie malah terjaga di depan laptopnya. Dalam kamar yang gelap dan cuman bercahaya kan sinar laptopnya saja serta ditemani secangkir kopi, Marjorie memasangkan flashdisk ke laptop miliknya. Ia menyerumput kopi manis yang baru diseduhnya sebelum melihat isi data dalam flashdisk tersebut. Sebenarnya itu adalah flashdisk yang sama yang ia gunakan untuk melacak akun Julia pagi tadi. Namun bukan untuk digunakan melacak kembali akun tersebut, flashdisk itu berisi seluruh data sekolah yang diam-diam Marjorie saling tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Yusra.
Marjorie sengaja melakukan hal tersebut karna untuk urusan pribadi. Disisi lain ia menjalankan tugasnya melindungi Yusra, Marjorie ingin mengetahui tentang keberadaan kakaknya. Iya, kakak. Walau bukan kakak kandung tapi sosok yang ia panggil kakak ini adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya dan satu-satunya orang yang ia anggap sebagai keluarga. Namanya Kety, salah satu gadis yang dulu juga menjadi buruh kerja paksa di pabrik roti. Umurnya lima tahun lebih tua dari Marjorie. Dialah yang selalu membantu dan melindungi Marjorie dari keusilan rekan seniornya. Kety memiliki watak yang selalu ceria dalam kondisi apapun dan sering memberi semangat pada Marjorie untuk terus menjalani hidup. Karna motifasi dan semangat yang diberikan Kety lah yang membuat Marjorie bisa bertahan sampai sekarang.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1