Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kesimpulan dari penyelidikan kemarin


__ADS_3

Keesokannya, di ruang bersantai. Julius dan Julia sedang membahas hasil penyelidikan mereka kemarin. Kebetulan Lina (Violet) sedang pergi, jadi mereka bebas bercerita tanpa diketahui Lina (Violet).


"Tidak ada yang mencurigakan dari papa. Ia seperti biasa sibuk dengan pekerjaannya, cuman... Disaat jam pulang, papa terlihat enggan untuk pulang. Ia beberapa kali mengajakku mengunjungi berbagai tempat sampai akhirnya aku tertidur. Aku tidak tahu kami pulang jam berapa semalam," jelas Julia.


"Keanehan juga terlihat pada mama. Sebelum kakek datang, aku melihat mama berbicara dengan seseorang di telpon. Mama terlihat marah pada orang tersebut."


"Apa kakak mendengar percakapan mama?"


"Tidak. Mama menelpon di balkon. Aku tidak berani terlalu dekat. Takut ketahuan."


"Apa hanya itu saja?"


"Banyak lagi."


"Banyak?!"


"Mama tiba-tiba tidak suka kue jahe yang di bawakan kakek dan juga mama seperti baru pertama kali datang ke rumah ini. Ia terlihat berkeliling, melihat-lihat setiap ruangan dan juga sempat bertanya padaku mengenai... Rumah lelang Red Krisan. Bukankah itu sangat aneh?"


"Apa mungkin mama hilang ingatan setelah kecelakaan itu?"


"Lalu bagaimana bisa mama mengendarai mobil sampai ke depan rumah jika mama hilang ingatan? Siapa yang di telponnya kemarin? Dan kenapa sikap papa berubah?"


Julia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tahu." katanya tiba-tiba membuat Julius bingung.


"Tahu apa?"


Julia tidak menjawab. Ia berlari keluar dari ruang santai itu menuju ruang bermain. Julius segera mengejarnya. Sampai disana, Julius mendapati Julia membongkar seluruh mainannya yang tersimpan rapi di dalam laci.


"Apa yang kau cari?"


Julia tidak segera menjawab sampai ia menemukan apa yang dicarinya. "Ketemu!" sebuah kepala robot berbentuk oval berwarna silver dengan bagian wajah berwarna hitam kina ada di tangan Julia.


"Bukankah itu kepala dari robot dance yang dulu paman Qazi, paman Norman, paman Rey dan paman Jony berikan waktu kita lahir?" tanya Julius memastikan.

__ADS_1


"Iya."


"Untuk apa itu? Bukankah itu sudah rusak. Ngomong-ngomong dimana bagian tubuhnya yang lain?"


"Aku dan papa memperbaikinya dan mengubahnya sedikit."


Julia menekan tombol kecil yang tepat berada di atas kepala robot tersebut. Robot tersebut manyala, dua sepasang mata bundar berwarna hijau muncul di layar yang berwarna hitam.


"Apa fungsi robot ini sekarang? Tanpa tangan dan tubuh tentunya dia tidak bisa melakukan dance lagi."


"Siapa yang butuh gerakan kaku itu jika kau bisa menginput data komputer."


"Maksudmu?" tanya Julius dengan senyum diwajahnya. Ia mengerti apa yang sedang dipikirkan adiknya itu.


"Dengan mengunakan robot ini, kita bisa menyalin seluruh data yang ada di hp mama. Kita bisa tahu siapa yang mama telpon kemarin dan mungkin alasan dibalik berubahnya sikap mama. Yang jadi masalah, bagaimana caranya kita bisa menyambungkan robot ini ke hp mama tanpa ketahuan?"


"Serahkan saja semua itu padaku."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Bagaimana Qazi? Apa yang kau dapat?"


"Hasil pemeriksaan cctv di rumah sakit Ramona. Jam 19.23 terlihat keluar dari rumah sakit bersama Emma. Tepat di depan pintu nona Lina menyadari kalau hpnya ketinggalan. Emma mengajukan diri untuk mengambilkan hp tersebut. Ia kembali masuk ke dalam rumah sakit. Sedangkan nona Lina berjalan menuju mobilnya yang terparkir di parkiran belakang rumah sakit."


"Lalu, apa yang ditunjukan cctv yang mengarah ke parkiran tersebut? Kenapa tiba-tiba kucing kecil pergi meninggalkan Emma begitu saja?"


"Cctv yang mengarah ke parkiran itu dirusak dengan sengaja. Ada bekas tembakan yang membuat cctv itu hancur. Kami tidak tahu apa yang terjadi di parkiran belakang. Namun berselang 20 menit, kamera cctv yang mengarah ke pintu keluar menangkap mobil hitam yang melaju cepat meninggalkan area rumah sakit. Tidak jauh dari di belakang mobil tersebut, mobil nona Lina mengejarnya."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Daniel menegakan kepalanya begitu mendengarnya. "Lanjutkan."


"Kami melakukan pemeriksaan disetiap cctv jalan raya dan mengikuti aksi kejar-kejaran tersebut sampai kedua mobil itu terlihat mengarah keluar dari kota. Karna rekaman cctv cuman sampai disitu, Kami memutuskan untuk mengikuti kemana perginya kedua mobil tersebut. Disaat melalui jembatan tua, kami menemukan bekas ereman ban mobil di aspal. Kami menduga bahwa nona Lina sengaja menabrakkan mobilnya ke mobil yang dikejarnya itu. Ada beberapa serpihan mobil di pinggiran jalan," Qazi tidak melanjutkan.


"Kenapa kau berhenti? Apa cuman sampai disitu penyelidikan mu?"

__ADS_1


Qazi menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia melangkah mendekati meja Daniel dan meletakan ikat rambut berwarna biru tepat di hadapan Daniel. Daniel menatap bingung ikat rambut tersebut namun di dalam hati Daniel tahu betul kalau itu milik Lina.


"A, apa maksudnya ini?"


"Saya menemukan ikat rambut tersebut tersangkut di ranting pohon yang menjuntai menyentuh aliran sungai."


"Tidak!" Daniel mencengkram kuat rambutnya mencoba menghalau pikiran buruk yang muncul di kepalanya. "Jangan, jangan katakan apa yang aku pikirkan! Ini tidak mungkin!"


"Tenang tuan muda. Masih belum bisa dipastikan. Kami akan berusaha menemukan nona Lina. Ia pasti baik-baik saja."


"Kau benar. Kucingku tidak selemah itu. Aku percaya di pasti selamat. Aku minta kau untuk mencarinya! Bila perlu kerahkan seluruh anggota yang ada!"


"Baik tuan muda."


Qazi segera keluar dari ruangan tersebut. Tidak berlangsung lama, tiba-tiba Daniel melemparkan sebotol anggur ke tembok untuk melampiaskan emosinya. Hal hasil botol anggur tersebut hancur tak bersisa meninggalkan noda merah di dinding.


"Hiks... Sayang, dimana kau? Aku sungguh bisa gila kalau seperti ini. Aku mohon kembali lah, sayangku."


Daniel menutup wajah mengunakan kedua tangan. Dalam kesedihannya terlintas sosok wanita yang telah menggantikan Lina. Aura disekitar Daniel berubah gelap. Tatapan tajam terlihat dari selah-selah jarinya. Kesedihan itu kini berubah menjadi amarah yang meluap-luap.


"Kau. Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kucingku. Akan kubuat kau menderita!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2