Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Ajakan jalan-jalan


__ADS_3

"Menurut hasil penyelidikan terakhir mereka. Kesebelas anggotanya itu pergi ke Casino Lotus untuk bersenang-senang, tapi tidak ada satupun yang kembali setelahnya. Tn. Arlo juga bingung dengan kejadian ini."


"Memecahkan masalah kecil begitu saja dia tidak bisa. Aku jadi merasa sia-sia merekrutnya. Kalau bukan karna ia merupakan umpan yang cocok untuk memancing ikan besar, aku sama sekali tidak sudi berkerja sama dengannya."


"Umpan? Apa sebab itu anda menempatkan nona Marjorie disisi putra Tn. Arlo?"


"Itu benar," setelah menghabiskan kue blueberrynya, gadis itu berdiri lalu diregangkannya tubuhnya. "Aku mau ke atas dulu. Jangan ada yang menggaguku."


"Baik. Selamat beristirahat nona."


Gadis itu naik ke atas menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar tersebut kemudian melangkah masuk. Ia melepaskan satu persatu sepatunya sembelum membaringkan seluruh tubuhnya yang lelah di tempat tidur.


"Hah... Enaknya melakukan apa ya hari ini? Rasanya tubuhku butuh dimanja sepenuhnya. Berendam air panas, lulur, pijatan, sepertinya menjadi pilihan terbaik."


Disaat sedang enak-enaknya mikir mau melakukan apa, entah mengapa ia tiba-tiba terpikiran sama Julia. Apalagi sewaktu pertarungan Julia melawan Rica. Sambil menatap langit-langit kamarnya, ia terus melamun.


"Kemampuan Julia terlihat semakin bertambah saat melawan Rica. Ia berkembang pesat sejak terakhir kali kami bertemu. Tapi kenapa waktu itu wajahnya pucat sekali? Apa dia sakit?"


Raut wajah gadis itu perlahan berubah sedih memikirkan kondisi kesehatan teman lamanya itu. Biar mau bagaimanapun mereka sudah berteman sejak lama. Semua kenangan manis persahabatan mereka tidak akan bisa dilupakan begitu saja. Walau gadis tersebut mengangapnya sebagai tipuan semata. Tiba-tiba ia tersadar dan langsung mengelengkan kepalanya dengan cepat untuk menghalau pikiran dan perasaan simpati tersebut.


"Tunggu, tunggu. Apa yang aku pikirkan? Biarkan saja ia sedang sakit atau tidak. Itu bukan urusanku. Kenapa aku harus peduli padanya? Dia bukan temanku lagi dan aku adalah Lady Blue sekarang, wanita muda yang disegani di dunia bawah tanah."


Mau sekeras apapun gadis itu menghalau perasaannya, namun tetap saja ia tidak bisa menghilangkannya begitu saja. Itu seperti sesuatu yang menganjal dan sedikit membuat tidak nyaman di hati kecilnya. Sejak mengetahui teman lamanya itu sakit, entah mengapa ia terus memikirkannya. Inilah salah satu alasan kenapa ia memutuskan untuk mengambil liburan akhir pekan ini jauh dari pulau Balvana. Berulang kali ia mencari kesibukan, melakukan kegiatan ini itu atau mengikuti rencananya memanjakan dirinya dan merilekskan tubuh serta pikirannya di kolam pemandian air panas. Itu cukup membantu sedikit menghilangkan beban pikirannya yang menumpuk.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Keesokan harinya. Rencana jalan-jalan yang ingin mereka lakukan batal sudah karna kedua teman mereka terpaksa pulang untuk urusan mendesak. Seharian di kamar kemarin saja sudah membosankan, Julia tidak mau hari ini menjadi lebih membosankan lagi. Jadi ia memutuskan mengajak Nisa dan Marjorie pergi ke kota hari ini. Pergi kemana saja, ke tempat-tempat yang bisa mencuci mata.


"Nisa, bagaimana kalau hari ini kita pergi ke kota?" ajak Julia seketika merangkul leher temannya itu.

__ADS_1


"Ke kota?" ulang Nisa.


"Iya. Aku bosan jika harus di kamar seharian lagi seperti kemarin. Hari ini kita bisa jalan-jalan, berkeliling atau singgah sebentar di tempat-tempat menarik. Untuk Wendy dan Febby, kita bisa pergi lagi munggu depan. Sejujurnya aku teringin sekali menjelajahi semua tempat di pulau ini."


"Butuh waktu lebih dari sehari jika kau ingin menjelajahi semua tempat di pulau ini. Walau kota cuman mencangkup ⅔ dari luas pulau, tapi tetap saja ini kota yang luas."


"Kalau begitu kenapa tidak kita mulai dari sekarang. Kau sangat mengenal pulau ini, kan? Karna kau memang lahir di sini. Kenapa kau tidak menjadi pemanduku? Aku mohon Nisa," pinta Julia memohon.


"Tidak perlu sampai seperti ini, nona Flors. Suatu kehormatan dapat menjadi pemandumu dalam tur eksklusif di pulau Balvana. Saya, Nisa Pinkston akan menjadi pemandu pribadimu hari ini," Nisa membungkukkan badannya di depan Julia.


Julia sedikit terkejut melihat temannya yang pemalu ini bisa bertingkah anggun layaknya seorang pelayan yang manis yang profesional.


"Hahaha.... Kau sangat lucu Nisa, tapi aku suka. Mohon kerja samanya. Berikan aku pengalaman yang menyenangkan dan tidak terlupakan," Julia ikut memerankan perannya sebagai turis dari luar kota.


"Dengan senang hati."


Mereka berdua tertawa karna ulah mereka sendiri. Selesai bersiap-siap, mereka berajak keluar dari kamar dan tak lupa mengunci pintu. Sebelum pergi mereka menjenguk Marjorie untuk mengajaknya ikut bersama. Kebetulan mereka bertemu di taman belakang saat Nisa dan Julia hendak pergi ke asrama khusus. Julia menjelaskan rencana mereka untuk jalan-jalan ke kota hari ini dan mau mengaja Marjorie ikut bersama mereka. Namun Marjorie menolak. Ia sebenarnya ingin sekali ikut tapi perkerjaannya menutut Marjorie tidak bisa berbuat sesuka hatinya.


"Hah... Sangat disayangkan. Mana Wendy dan Febby sedang tidak ada lagi minggu ini, sekarang Marjorie juga tidak bisa ikut," kata Julia nampak kecewa.


"Memangnya Wendy dan Febby pergi kemana?"


"Mereka pulang untuk suatu urusan masing-masing dan malam ini baru kembali," jelas Julia dengan nada sedih. "Kalau boleh tahu, perkerjaan apa yang sebenarnya kau lakukan diakhir pekan ini? Apa kau memiliki perkerjaan paru waktu?" tanya Julia penasaran.


"Eh... Itu..."


Krrrriiiiing.......


Suara hp Marjorie tiba-tiba berbunyi tepat sesaat ia dibuat kebingungan harus menjawab apa pertanyaan Julia. Ia minta izin sebentar untuk mengangkat telpon. Marjorie berjalan sedikit menjauh dari Nisa dan Julia setelah tahu siapa yang menelponnya.

__ADS_1


"Halo. Iya, Lady Blue. Apa ada tugas atau misi untuk saya hari ini?" tanya Marjorie berbisik. Ia takut Julia dan Nisa mendengar percakapan mereka.


"Tidak ada. Aku menelpon cuman mau mengatakan, ambilah liburan hari ini. Bersenang-senanglah bersama teman-temanmu."


"Liburan?"


"Iya. Aku tahu kau cukup lelah mengikuti perintah dari tuan muda Arlo yang banyak maunya itu, benar kan?"


"Benar. Em... Dari mana Lady Blue tahu hal ini?"


"Banyak cara bagiku untuk mengetahuinya, begitu juga sekarang. Saat ini dua temanmu itu ingin mengajakmu pergi ke kota, bukan?"


"Hah?!" Marjorie tersentak ketika Lady Blue bisa menebak pasti kalau dua temannya memang berencana mengajaknya jalan-jalan.


"Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, tapi kau jangan takut. Aku tidak akan menghukummu karna telah melanggar peraturan seorang prajurit dilarang memiliki seorang teman. Aku membuat pengecualian untukmu. Kau masih muda dan aku memaklumi itu. Bersenang-senanglah untuk hari ini."


"Te, terima kasih banyak Lady Blue. Anda terlalu baik pada saya."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2