Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Sedikit kenakalan kucing kecil


__ADS_3

Dengan tubuh kini penuh darah bahkan sampai menciprat ke wajahnya, Lina meletakan potongan tangan tersebut di lantai. Ia mulai membuat sayatan besar tepat dimana ia memukul sebelumnya. Terlihat jelas tulang yang patah begitu Lina memisahkan tulang dari daging itu. Tn. Geraldo dibuat tak bisa berkata-kata melihat tangannya sendiri diperlakukan seperti potongan daging tak berharga.


"Nah... Kita bisa lihat disini, dagingmu sudah membusuk disekitaran tulangmu yang retak. Itu menandakan racunnya berkerja disaat tubuhmu terluka. Eh? Aku baru tahu ini," Lina tersadar atas apa yang baru saja ia katakan. "Wah... Sepertinya racun buatan putraku semakin berkembang. Ini benar-benar menarik. Kalau begitu..." senyum menyeringai terlukis di wajah Lina.


"Apa arti dari senyuman mu itu?" tanya Tn. Geraldo dengan lemah karna kehabisan banyak darah.


"Oho... Aku cuman berpikir kalau putraku itu baik sekali pada mamanya ini," Lina kembali meneteng tongkat baseball. "Ia tahu betul caranya membuatku bersenang-senang. Seperti apa yang aku katakan tadi, untuk mengaktifkan racun dalam tubuhmu, aku harus melukaimu dan luka dalam seperti jauh lebih efektif lagi dari pada luka luar."


Lina mengayunkan tongkat baseball secara betubi-tubi memukul tubuh Tn. Geraldo. Suara teriakan dari Tn. Geraldo tidak terdengar menggema lagi. Ia sudah lelah berteriak. Sekujur tubuhnya terlalu sakit akibat pukulan dari wanita yang sangat bersemangat memukulnya. Ingin rasanya Tn. Geraldo cepat-cepat mati saja dari pada harus menahan rasa sakit yang kini meremukkan tubuhnya.


"Hah... Aku lelah. Aku rasa itu cukup untukmu," ujar Lina setelah beberapa menit kemudian.


Lina melemparkan tongkat baseball nya kesembarang arah. Suara yang ditimbulkan benar-benar nyaring begitu menghantam lantai. Keadaan Tn. Geraldo sangat kacau. Tubuhnya penuh lebam dan darah.


"Bagaimana perasaanmu? Lumayan baik?" tanya Lina setelah meneguk sebotol air mineral ukuran kecil. Ia sepertinya haus sekali.


"Kau wanita gangguan jiwa. Kau masih bisa minum tanpa mencuci tanganmu," kata Tn. Geraldo yang melihat Lina dengan santai nya meneguk air mineral dari botol yang bernoda darah itu.


"Aku tidak menyentuh langsung airnya dengan tanganku. Jadi darahmu tidak akan mengkontaminasi air yang aku minum. Apa kau mau minum juga?" Lina malah menyodorkan sebotol air pada Tn. Geraldo.


"Dasar wanita gila."


"Oh, maafkan aku. Kau tidak bisa minum karna salah satu tanganmu terpotong dan yang satu lagi masih terikat. Sangat disayangkan."


"Kucing kecil, apa kau sudah selesai?" panggil Daniel sambil melangkah turun ke ruang bawah tanah tempat dimana Lina bermain.


"Daniel!" panggil Lina dengan riang begitu melihat Daniel datang. Ia berlari menghampiri suaminya itu lalu melompat ke arahnya.


"Hati-hati," untung Daniel dengan sigap menangkap istri kecilnya itu karna memang Lina sering melompat ke arahnya secara tiba-tiba. "Astaga, kau kotor sekali."

__ADS_1


"Apa tugasmu sudah selesai?"


"Sudah. Kesepuluh orang itu sudah dibereskan," Daniel mengeluarkan sapu tangannya dan membantu membersihkan sisa darah di wajah Lina.


"Kau pasti Tn. Flosr. Bagaimana bisa kau menghadapi wanita gila seperti dia?" kata Tn. Geraldo sambil berusaha melirik pasangan suami istri itu.


"Siapa yang kau sebut gila?!! Belum cukupkah rasa sakit yang kau rasakan? Apa kau mau aku menambahkannya untukmu?!!" bentak Daniel tidak terima.


"Sudah, jangan marah sayang. Hal biasa semua teman mainku berkata kasar seperti itu. Abaikan saja," Lina mencoba meredahkan amarah suaminya.


"Tapi dia..."


"Ssutt... Jika kau membunuhnya maka penderitaannya akan berakhir."


"Oh... Kali ini apa yang kau berikan padanya?"


"Bukan aku tapi putramu. Julius telah memberikan racun yang menyebabkan darah pria itu berubah menjadi bumerang bagi tubuhnya sendiri. Dia akan mati secara perlahan-lahan," jelas Lina.


"Baiklah. Aku akan menuruti semua perkataan suamiku."


Daniel mengadeng tangan Lina naik meninggalkan Tn. Geraldo sendirian di ruang bawah tanah itu. Tn. Geraldo tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pasrah menunggu ajal menjemput. Rasa sakit di sekujur tubuhnya semakin menjadi disaat perlahan-lahan darahnya sendiri membusukkan daging serta tulang tulangnya. Rasanya seperti ribuan serangga atau belatung pemakan daging menggerogoti tubuhnya. Tn. Geraldo ditemukan sudah tidak bernyawa lagi keesokan harinya dengan keadaan 75% tubuhnya sudah membusuk.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Kembali ke pulau Balvana. Pada hari minggu itu, Marjorie dibuat lupa waktu karna Julia. Mereka berdua begitu asiknya menjelajahi sistem jaringan komputer, saling bertukar ilmu dan pengetahuan yang ada. Sedangkan Wendy dan Febby menjadi penonton dan sesekali bertanya disana sini. Cuman satu orang yang dibuat tidak senang hatinya sepanjang minggu ini. Julius terus tidak mendapat kesempatan bersama Marjorie, berdua saja.


Niat hati hari ini Julius ingin mengajak Marjorie menyelam sambil menikmati pemandangan bawah laut atau sekedar bermain jetski. Namun tawaran tersebut ditolak karna mengingat kepala Julius masih terluka. Ia dilarang keras mendekati air laut. Namun sorenya Julia malah mengajak bermain di pantai dan itu setujui oleh mereka. Julius hanya bisa pasrah melihat mereka dari kejauhan.


"Waktu aku mengajaknya ia tidak mau, tapi saat Julia yang mengajaknya ia lansung menginyakan. Dasar plinplan!" gerutu Julius.

__ADS_1


"Jangan menyalahkannya. Ia menolak ajakkanmu juga demi dirimu sendiri. Bagaimana keadaan lukamu?" tanya Samuel.


"Sudah lebih baik."


"Kau sepertinya sangat menyukai gadis itu. Apa yang membuatmu sangat tertarik padanya?"


"Aku... Tik... Jangan mengatakan hal yang aneh-aneh!" Julius terlihat ragu-ragu mengatakan kalau ia tidak menyukai Marjorie. Sebenarnya ia juga tidak mengerti tentang perasaannya sendiri.


"Tidak perlu menipu dirimu sendiri. Kau tidak seperti ayahmu yang memang benar-benar kulkas berjalan sebelum bertemu dengan ibumu," Samuel berhenti sebentar untuk menghirup kopinya. "Matamu sama seperti Velia, tidak mampu menyembunyikan segalanya."


"Hah... Aku bahkat tak mengerti tentang semua ini. Sejak pertemuan pertama ku dengannya di pulau itu, sampai sekarang aku tidak bisa melupakan wajahnya," Julius mengeluarkan sebuah lonceng kecil yang sepertinya berasal dari potongan suatu perhiasan. Ia menatap lonceng itu penuh kerinduan. "Tatapan tajam dengan aura yang kuat, untuk pertama kalinya aku begitu menikmati sebuah pertarungan. Setiap menit dan detiknya terasa sangat luar biasa."


"Pertarungan? Pulau? Sebenarnya kapan kalian bertemu?"


"Di salah satu misiku. Saat itu sedang heboh-hebohnya rumor tentang Death knell yang misterius."


"Death knell?" Samuel berusaha mengingat-ingat sebentar. "Aku perna mendengar rumor tentangnya. Rumor ini beredar di dunia bawah tanah beberapa tahun lalu. Death knell merupakan julukan yang diberikan pada seorang wanita muda yang misterius. Seperti namanya, setiap kali kehadirannya selalu diiringi dengan suara lonceng. Bagi orang yang mendengar suara lonceng tersebut biasanya akan meregang nyawa."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2