
"Mama... Jangan dihadapan semua orang. Aku malu."
Bukan seperti kebanyakan orang yang jika tidak ingin dipeluk akan segera menolak dan memaksa melepaskan pelukannya. Adelio tidak. Ia malah lebih menyembunyikan wajahnya dalam pelukan mamanya. Terkadang karna alasan inilah Lina iseng-iseng suka memeluk Adelio di depan orang banyak.
"Jangan menolak begitu sayang. Kau tadi sungguh sangat mengemaskan. Aku seperti melihat bayangan ayahmu ketika masih kecil."
"Kau memanggil kelompok Tasmania Devil untuk membereskan kekacauan disini?" tanya Daniel pada Adelio.
"Iya," jawab Adelio tanpa mengangkat wajahnya.
Daniel menanyakan informasi lebih detailnya pada Osbert dari awal kejadian sampai berakhir seperti ini. Berapa banyak yang menyerang? Dimana mereka sekarang? Siapa dibalik penyerangan ini? Dan beberapa pertanyaan lainnya. Tidak disangkah semua pertanyaan itu telah dikerjakan dengan rapi dan tidak ada yang terlewat. Daniel cukup mengagumi kerja cepat dari anggota Tasmania Devil. Semua ini juga berkat arahan dari Adelio yang sigap tanggap mengatur anak buahnya.
"Bagaimana sekarang? Kita pulang?" tanya Daniel pada Lina.
"Tidak," jawab Lina sambil menggeleng. "Aku tidak mau pulang?"
"Kenapa? Apa kau masih ada disini?"
"Aku mau ke pulau Balvana."
"Baiklah. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat kesana."
"Tidak. Aku maunya sekarang. Aku merasakan firasat buruk kalau Julius dan Julia dalam bahaya," raut wajah Lina benar-benar mencemaskan Julius dan Julia.
"Baiklah. Aku akan meminta pesawat pribadi yang siap terbang malam ini."
Mereka semua keluar dari Casino tersebut. Daniel mengeluarkan hpnya dan hendak meminta seseorang menyediakan persawat yang siap terbang malam ini, namun begitu mereka keluar, mereka disambut sebuah helikopter yang telah mendarat di halaman depan Casino. Ada seorang pria yang turun dari helikopter tersebut.
"Selamat malam sayangku," sapa pria itu.
"Ayah."
"Kakek!" teriak Adelia dan Adelio sambil berlari menghampiri kakek mereka, Ducan.
"Oh... Cucu-cucu kesayanganku. Kalian sudah tubuh besar," Ducan membalas pelukan dari kedua cucunya.
"Bukannya ayah ada di luar kota, kapan kembali?" tanya Lina.
"Ayah baru pulang malam ini tapi tiba-tiba ayah mendapat kabar kalau Adelio mengirim sebagian anggota ke mari. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ducan. Ia memang tidak diberitahu tenang masalah penyerangan ini.
"Tidak ada apa-apa. Cuman ada orang-orang bodoh yang berani mengacau di Casino. Semuanya sudah teratasi berkat mereka. Aku dan Daniel saja baru sampai disini dan melihat semuanya sudah dibereskan," jelas Lina.
__ADS_1
"Oh... Syukurlah kalau tidak ada apa-apa."
"Hei, kucing kecil. Bagaimana kalau meminta ayahmu saja yang mengantar kita ke pulau Balvana?" tunjuk Daniel pada helikopter yang ada di depan mereka.
"Benar juga. Ayah bisa antar kami ke pulau Balvana sekarang?" pinta Lina pada ayahnya.
"Tentu, tentu saja bisa. Apa yang tidak untuk putri tercintaku. Tapi kenapa kalian buru-buru?" tanya Ducan yang penasaran.
"Kucing kecil terindu ingin bertemu Julius dan Julia," kata Daniel mencari alasan.
Mereka berangkat menggunakan helikopter tersebut. Semua tanggung jawab di rumah lelang diserahkan pada Judy dan Emma untuk sementara. Baling-baling helikopter mulai berputar. Helikopter itu perlahan terbang meninggalkan halaman rumah lelang. Dengan hati semakin dipenuh kegelisahan, Lina berharap ia bisa segera sampai di pulau Balvana.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Krrrriiiing..........
Tiba-tiba Hans mendapat panggilan telpon. Awalnya ia mengabaikan suara telpon tersebut tapi karna terus mengganggu akhirnya Hans mengangkatnya.
"Ada apa terus menelponku?!! Aku sedang sibuk saat ini!!" bentak Hans pada si penelpon.
"Maafkan saya, Yang mulia. Tapi..." terdengar suara kepanikan dari si penelpon begitu ada suara tembakan yang diarahkan padanya.
"Markas utama yang ada di bagian selatan diserang anggota dari Black Mamba!"
"Apa?! Bagaimana bisa?" sontak Hans kagit begitu mendengarnya.
"Saya juga tidak tahu. Sepertinya mereka memang telah menyelidiki kita sejak lama."
"Pertahankan markas sebisa mungkin! Seluruh harta karunku ada disana!"
"Kami sudah berusaha tapi mereka terlalu banyak. Sebagian besar anggota kita berada di ibu kota sekarang. Argh!"
"Halo! Halo! Halo!"
Mau beberapa kali Hans berteriak memanggil namun tetap saja tidak ada jawaban lagi dari salah satu anak buahnya itu.
"AAAAH ! ! ! Sialan kau Balck Mamba!!!"
Teriakan Hans menggemah di sepenjuru bangunan. Namun semua itu belum cukup. Ia kembali mendapat telpon dari salah satu bawahannya yang ikut menyerang rumah lelang.
"Maafkan kami, Yang mulia. Kami gagal merebut rumah lelang."
__ADS_1
"Seberapa payah kalian ini. Menyerang bangunan yang sama sekali tidak dijaga saja tidak bisa!!"
"Terjadi hal yang tidak diduga. Anggota dari Tasmania Devil tiba-tiba datang dan menyerang kami. Mereka telah menangkap seluruh orang-orang kita dan mungkin cuman saya yang berhasil meloloskan diri."
"Tasmanian Devil? Salah satu dari ketiga kelompok mafia misterius di ibu kota. Bagaimana bisa mereka membantu keluarga tersembunyi? Bukankah mereka tidak memiliki hubungan sama sekali dan malah ada rumor yang mengatakan kalau hubungan mereka tidak baik antara satu sama lain."
"Kami juga tidak menduga..."
"Oh... Ternyata masih ada satu tikus yang tersisa."
Kalimat dari anak buah Hans terputus begitu ada suara orang lain muncul. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi selanjutnya kecuali kesunyian sesaat kemudian telpon terputus. Tapi Hans bisa menebak kalau anak buahnya itu berhasil tertangkap atau mungkin telah terbunuh.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa ini terjadi," Hans berusaha untuk tidak mau mempercayai kenyataan ini.
"Sudah aku bilang kan bahwa kau akan kehilangan segalanya," ujar Julia.
"Semua ini karna ada bantuan dari anggota Tasmania Devil. AAH!! Kenapa mereka mau membantu keluarga tersembunyi?!!"
"Mungkin kau tidak tahu. Pemimpin dari Tasmanian Devil adalah kakek ku dan adik laki-laki ku merupakan calon penerus Tasmanian Devil selanjutnya. Inilah yang aku katakan kalau kau telah melupakan adik-adikku. Kau tidak menyangkah bukan kalau mereka bisa menjadi kehancuran dirimu sendiri."
"Apa?! Se, sejak kapan itu terjadi?"
"Karna inilah posisi dari ketiga mafia terbesar di ibu kota tidak perna tergantikan selama bertahun-tahun. Kami sebenarnya adalah satu keluarga besar yang tidak akan bisa kau bayangkan seberapa kekuatan dan mengerikannya! Menyerah lah pangeran Hans. Kau sudah kalah telak."
Hans hanya terduduk lemas di lantai tak percaya atas apa yang terjadi. Semuanya hancur sudah. Rencana yang telah disusun selama bertahun-tahun gagal total. Ia mencengkram rambutnya dengan kesal namun tak berapa lama tiba-tiba ia mulai bertingkah aneh seperti orang gila.
"Hehe... Hahaha.... Haha.......!!! Ini sama sekali belum berakhir!!!" Hans mengeluarkan sebuah remot kontrol dengan satu tombol merah. "Aku telah menyebarkan bom disetiap bangunan ini! Sekali tekan saja, dalam 30 detik bom tersebut akan meledak. Matilah bersamaku kalian semua!!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1