Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Bermain dengan bulu babi


__ADS_3

Lina membuka kotak yang ia ambil tadi. Isi dari kotak tersebut adala beberapa tabung kaca kecil yang memiliki sumbat di atasnya untuk mencegah cairan di dalamnya tumpah. Lina terlihat memilih-milih cairan racun mana yang ingin ia gunakan. Jari-jarinya tertuju pada satu cairan racun berwarna hijau. Ia membuka sumbat di tabung kaca itu lalu menuangkan semua isinya ke dalam ember yang berisi bulu babi. Setelah didiamkan selama semenit, Lina menggapai satu bulu babi itu. Tak lupa sebelum itu Lina sudah mengenakan sarum tangan hitam untuk mencegah tangannya tertusuk duri dari si bulu babi. Tampa peringatan ia tiba-tiba melemparkan bulu babi itu ke arah pria tersebut. Duri hitam dari si bulu babi menacap tepat di dada atas sebelah kanan pria tersebut.


"AAAAHH ! ! !" teriak pria itu begitu duri-duri hewan laut tersebut menancap di kulitnya. Rasa sakit dan terbakar pria itu rasakan akibat reaksi racun yang telah menyebar ke tubuhnya. Ia menggeliat kesakitan. Rasanya seperti besi yang sangat panas ditekankan ke dadanya.


"Bagaimana rasanya? Seperti sengatan serangga, bukan?"


Lina kembali menenteng satu bulu babi lainnya, kemudian ia melemparkannya dan kali ini mendarat di dada atas sebelah kiri pria itu. Tak ayal teriakan pria tersebut kembali melengking di bawah sinar matahari.


"AARGHH ! ! ! Apa yang kau berikan tadi?!! Tidak mungkin racun bulu babi bisa begitu menyakitkan!!"


"Kau tidak perlu tahu. Nikmati saja sensasinya. Oh iya, kau tidak perlu khawatir karna rasa sakit itu tidak akan membunuh mu."


"Mama, apa boleh aku mencobanya?" pinta Julia memohon.


"Boleh, tapi pakai sarum tangan dulu. Nanti tanganmu muncul ruam merah."


"Mama, aku juga mau coba," kata Adelia sambil mengacungkan tangannya.


"Apa kau bisa?" ujar Julius dengan nada mengejek.


"Tentu saja. Itu sangat mudah. Cuman melempakan bulu babi apa susahnya?" kata Adelia sangat percaya diri.


"Benarkah? Aku tidak percaya," Julius semakin menggoda adiknya itu.


"Aah...! Kakak! Bagaimana kalau kita taruhan? Siapa yang kalah harus menuruti semua kemauan si pemenang selama satu minggu," tantang Adelia dengan berani.


Julius tersenyum karna itulah yang ingin ia dengar. "Sepakat. Kalau kalah, jangan nangis ya."


"Hm! Aku tidak akan kalah."


"Wah, sepertinya seru," ujar Julia menyetujui ide permainan tersebut.


"Hei, boleh papa ikut bergabung?"


"Jika papa ikut, sudah pasti papa yang akan jadi pemenangnya," kata Adelia.


"Belum tentu," jawab Lina.


"Apalagi mama yang ikut, tentu saja papa akan mengalah."

__ADS_1


"Begini saja, mama punya cara."


Lina menjelaskan cara bermainnya. Permainan ini sangat mudah. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing dari anggota kelompok akan melemparkan satu binatang laut ke target secara bergantian. Tentunya target tersebut adalah pria yang sedang teringat di tiang tersebut.


"Bagaimana? Apa kalian setuju?" tanya Lina.


"Iya!" jawab mereka serempak kecuali Adelio.


"Em... Mama, aku tidak mau melemparkan bulu babi itu. Mereka tidak bersalah," kata Adelio dengan ekspresi penuh belas kasihan.


Memang putra bungsu Lina ini cukup pemalu orangnya dan mudah kasihan terhadap binatang-binatang kecil. Tapi walaupun begitu tidak akan ada satu orang pun yang berani menggagunya. Kanapa? Karna Adelio bisa berbuat jauh lebih kejam dari kakak-kakaknya. Bukan itu saja, Adelio merupakan cucu kesayangan dari Ducan dan kemungkinan besar akan mewarisi kelompok Mafia Tasmanian devil suatu saat nanti. Selain mendapat pelatihan secara khusus oleh keluarga tersembunyi, Adelio juga mendapat pelatihan dari Ducan secara pribadi sejak dini.


"Baiklah, untuk Adelio bisa menggunakan pisau ini saja," Lina memberikan empat pisau berukuran kecil pada Adelio. "Tapi jangan serang titik vitalnya ya. Nanti dia mati lebih cepat."


Anggukan Adelio berikan sambil tersenyum. "Terima kasih mama."


Permainan dimulai. Yang pertama duluan adalah Lina dan Daniel. Dengan bulu babi di tangan mereka, Lina dan Daniel siap menembak sasaran setelah hitungan ketiga. Bulu babi yang Lina lempar melesat duluan, namun tiba-tiba terpental ke pasir karna berbenturan dengan bulu babi yang dilempar Daniel.


"Apa?!" Lina melirik tajam pada Daniel.


"Aku tidak akan mengalah," senyum puas terukir di wajah Daniel.


"Baiklah. Kita lihat saja nanti."


"AAAAH..........!!! Beraninya kalian menggunakan ku sebagai target permainan kalian! Lady Blue tidak akan melepaskan kalian! Dasar satu keluarga gila!" caci maki pria itu karna tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang menyebar diseluruh tubuhnya.


Ancang-ancang Lina terhenti begitu mendengar itu. "Wah... Wah, tenyata masih ada orang lain lagi di belakangmu ya."


"Katakan, siapa Lady Blue yang kau maksud itu?" ujar Daniel minta penjelasan.


"Ha! Memangnya apa yang mau kalian lakukan?! Biarpun aku memberitahukannya, kalian juga tidak akan bisa berbuat apa-apa. Lady Blue adalah wanita paling misterius yang baru-baru ini muncul di kota sebrang. Kemunculannya sangat menggemparkan kota tersebut. Saat ini ia sedang menambah kekuatan dan wilayah kekuasaannya. Kalian satu keluarga mafia kecil bukanlah tandingan untuknya."


"Keluarga mafia kecil?" ulang Daniel dengan ekspresi datar.


"Hehe... Sepertinya orang ini sepertinya baru keluar dari goa," ejek Julia.


"Hei, paman aneh! Apa kau mau tahu kalau sebenarnya papaku ini merupakan ketua dari kelompok Mafia Black Mamba," tambah Adelia ikut mengejeknya.


"Ketua Mafia Black Mamba?" ada tampak sedikit keterkejutan di wajah pria itu, namun ia tetap berusaha bersikap tenang. "Oh... Salah satu dari Mafia yang ditakuti di ibu kota. Aku dengar Lady Blue memang ingin berjumpa denganmu untuk mengajak bergabung bersamanya, tapi ia juga tidak akan segan-segan menyerangmu jika kau menolak. Target utama Lady Blue adalah keluarga tersembunyi."

__ADS_1


"Nyali anak baru itu lumayan besar juga ya. Beritahu Lady Blue mu itu, kami satu keluarga besar akan dengan senang hati menyambut kedatangannya kapanpun di ibu kota. Oh, maafkan aku. Sepertinya kau tidak bisa memberitahukannya," Lina melemparkan bulu babi ditangannya. Bulu babi itu tepat mengenai mulut pria tersebut.


"AAARRGHH ! ! !"


"Aku menang!" teriak Lina sambil mengangkat kepalan tinjunya ke atas.


"Apa?! Itu curang," protes Daniel.


"Tidak ada peraturan, jadi aku pemenangnya."


"Dasar bedebah! Kalian keluarga ter... Argh..."


Belum selesai caci maki sumpah serapah pria itu, sebilah pisau tiba-tiba sudah menembus kepalanya, tepat diantara alisnya. Ia tentunya langsung tewas dengan mata masih terbuka. Mereka cukup terkejut melihat itu dan terdiam sesaat.


"Pria itu menjengkelkan," kata Adelio dengan sorot mata membunuh. Pandangan mata yang sangat jarang sekali ditampakan oleh wajah pemalunya.


"Tuan, Nyonya. Makan siang sudah siap," ujar seorang pelayan begitu datang menghampiri. Sapaan itu membuat mereka tersadar.


"Oh, baiklah. Kami akan ke vila sekarang juga," jawab Lina.


Mereka semua kembali ke vila meninggalkan pria itu sendirian. Selesai makan siang, Daniel memerintahkan untuk mengirim mayat pria itu kembali ke tempat dimana ia tertangkap, markas kelompok yang dipimpinnya. Tak lupa Daniel meninggalkan pesan yang berbunyi...


..."Terima kasih untuk hadiahnya....


...Cukup lumayan....


...Kami sangat menyambut kedatangan mu di ibu kota."...



.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2