Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kenakalan Julia


__ADS_3

"Oh... Cucuku Julius."


Sikap Ducan seketika berubah disaat melihat cucunya. Julius yang sadar seharusnya ia tidak menyapa, sudah tidak sempat untuk melarikan diri. Dengan gemas Ducan mencubit kedua pipi Julius. Sedangkan Julius pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kau semakin lucu saja. Dimana cucuku yang satu lagi?"


"Julia ikut papanya ke kantor hari ini," kata Lina (Violet).


"Gadis kecil nan manis itu tidak akan mencoba membobol sistem keamanan lagi, kan?"


"Kakek, lepaskan aku! Sakit tahu," teriak Julius sambil memberontak melepaskan diri. Ia mengusap kedua pipinya begitu Ducan melepaskan cubitannya.


Disisi lain, kita Lihat keadaan Julia sekarang. Ia saat ini sibuk meniup selembar tisu sambil berbaring di sofa ruang kerja papanya. Ia benar-benar bosan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berbaring dan makan cemilan. Target yang di intainya cuman duduk diam, sibuk dengan leptopnya. Suara getar dari hpnya membuat Julia melihat siapa yang baru saja menelpon.


"Halo, kak. Ada apa?"


"Bagaimana keadaan disana?"


"Sangat membosankan. Papa cuman duduk seharian di kantornya. Kalau tahu seperti ini, aku bawa saja leptopku."


"Jika kau membawa leptopmu, kau pasti melupakan tugasmu disana."


"Bagaimana denganmu?"


"Akan aku beritahu kau saat kau pulang nanti. Oh, iya. Kakek berkunjung hari ini dan makan siang disini."


"Apa?! Kakek berkunjung ke rumah?"


Julia sampai terduduk begitu mengetahuinya. Daniel hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Apa kakek membawa kue jahe?" tanya Julia.


"Tentu saja. Banyak sekali kue jahe. Aaemm....."


"Aah.... Sisakan untukku! Jangan dihabiskan sendiri."


"Kalau mau, ayok kesini."


"Eee.... Kalau tahu kakek datang hari ini, aku pastinya tidak mau ikut papa ke kantor!" Julia menggeretakan giginya dengan kesal. "Pokoknya kakak harus sisakan untukku!"

__ADS_1


"Atau apa?" tanya Julius masih menikmati kue jahe tersebut.


"Atau aku akan menghajarmu!" ancam Julia.


"Astaga, mereka masih bisa bertengkar walau terpisah sangat jauh," Daniel cuman bisa menggeleng pelan.


"Bos, ruang meeting nya sudah siap dan semua peserta sedang menuju kesana," kata seorang wanita sambil melangkah masuk. Ia merupakan sekretaris baru yang diangkat tiga tahun lalu.


"Baiklah, saya akan segera kesana," Daniel membereskan berkas nya dan bersiap meeting.


"Sudah dulu ya. Aku ingin mengacau meeting papa," Julia mematikan telponnya lalu bergegas menghampiri papanya. "Papa mau kemana?"


"Papa harus meeting sebentar. Kau bermain bersama Dasya dulu ya," bujuk Daniel.


"Iya, nona Julia. Saya akan menemanimu bermain sambil menunggu papamu selesai meeting," Dasya berjongkok di depan Julia mencoba membujuknya dengan lembut.


"Tidak mau. Aku ingin selalu di dekat papa," Julia memeluk kedua kaki papanya dengan sangat erat.


"Memang mustahil membujuknya jika dia sudah bersikeras. Dasya, kau ikut saja ke ruang meeting."


"Baik bos."


"Tn. Flors, kenapa anda mengajak putri kecil anda untuk mengikuti meeting penting hari ini?" tanya salah satu rekan kerja Daniel.


"Jangan hiraukan dia."


Daniel menurunkan Julia dan membiarkan ia mendekati Dasya yang segera mengajaknya ke sisi lain ruangan agar tidak menggangu jalanya meeting.


"Kita mulai saja meeting nya."


Daniel mengambil tempat duduknya dan mempersilakan untuk memulai meeting. Lampu ruangan diredupkan. LCD proyektor dinyalakan. Meeting dimulai. Salah seorang berdiri dan mulai menerangkan tujuan meeting hari ini yaitu perancangan robot terbaru.


"Kak Dasya, buatkat pesawat kertas," pinta Julia sambil menyodorkan selembar kertas pada Dasya menggunakan kedua tangan.


"Baiklah nona Julia."


Dasya menerima kertas itu lalu mulai melipatnya menjadi pesawat kertas. Julia memperhatikan dengan seksama proses pembuatan pesawat kertas tersebut.


"Ini dia, pesawatnya sudah jadi," kata Dasya sambil memberikan pesawat kertas itu pada Julia.

__ADS_1


"Terima kasih kak Dasya," dengan riang Julia menerimanya.


Julia cuman memainkan pesawat kertas tersebut ditangannya, tidak ditembakan ke udara agar persawat kertas itu bisa terbang dan menggangu jalannya meeting. Tidak. Ia mala berlari berputar mengitari meja meeting. Dasya hendak mencegat Julia tapi Daniel mengisyaratkan untuk membiarkannya. Daniel sudah menduga kalau Julia pasti mengacau. Ia memaafkan hal itu untuk tujuan lain. Ia ingin melihat bagaimana reaksi para peserta meeting ini begitu dihadapkan dengan gangguan disekitar mereka.


Seperti yang terlihat, mereka sepertinya tidak menghiraukan Julia. Mereka fokus pada layar proyektor dan mendengarkan secara seksama apa yang dijelaskan rekannya. Bahkan disaat pesawat kertas yang diterbangkan Julia mendarat di tengah-tengah meja meeting. Julia tidak sampai untuk menggapai pesawat kertas tersebut, melirik ke atas meja saja Julia harus berjingkat. Semua orang disana masih tidak menghiraukan Julia yang terlihat kesusahan mengambil mainannya. Sampai ada satu orang yang rela berdiri dari kursinya untuk mengambilkan pesawat kertas itu kemudian memberikannya pada Julia.


"Terima kasih," kata Julia yang dibalas senyuman dari pria tersebut. Ia kembali berlari lagi dengan riangnya mengitari meja.


Pria itu kembali ke tempat duduknya semula. Semua mata sempat tertuju pada pria tersebut disaat ia tiba-tiba berdiri untuk mengambilkan mainan Julia. Bahkan orang yang menerangkan gambar di layar proyektor pun sempat terdiam sesaat lalu dengan cepat tersadar dan melanjutkan. Daniel hanya menebar senyum kecil. Namun ternyata ada juga yang kesabarannya hilang akibat gangguan dari Julia.


"Tn. Flors, tidak seharusnya ada anak-anak di ruang meeting. Kenapa tidak membiarkan dia tinggal di rumah saja?" kata seorang pria yang tubuhnya lebih berisi.


"Itu benar Tn. Flors. Konsentrasi kami sedikit terganggu karna putrimu terus saja berlari dan melemparkan pesawat kertas," ujar satu-satunya wanita yang ada di meja meeting itu.


"Menurutmu begitu? Bagaimana dengan yang lain? Apa kalian juga merasa terganggu dengan putriku?" tanya Daniel namun tidak ada jawaban dari mereka.


"Jelas pasti terganggu," kata pria gemuk itu kembali berbicara. "Ini merupakan meeting penting yang seharusnya tidak ada gangguan dari anak-anak. Mereka tidak tahu apa-apa selain bermain. Mengingat dia merupakan putrimu, kami berusaha menghiraukan..."


"Siapa bilang aku tidak tahu apa-apa?" potong Julia yang naik ke pangkuan papanya.


"Oo... Apa yang mau kau lakukan putri kecilku?" batin Daniel. Ia membiarkan Julia berbicara pada para peserta meeting.


"Aku mengerti apa yang kalian bahas disini. Kalian sedang menyatukan pikiran untuk merancang sebuah robot terbaru. Iya, kan?"


"Itu memang benar manis, tapi apa yang kau pikirkan masih dangkal dengan apa yang kami pikirkan," kata wanita itu.


"Oh, benarkah?" Julia menebar senyum manisnya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2