
"Hei, hei, kau tidak akan sungguh mau melakukan itu, bukan?"
"Karna kau berkata demikian maka akan aku lakukan. Rasakan hukumanmu, sayang!"
"AAAAH ! ! ! Tidak! Haha... Ampun sayang! Haha... Aku tidak akan mabuk lagi! Ma, maafkan aku! Haha..."
Teriakan minta ampun mengisi ruangan. Daniel beruntung kalau ruangan tersebut kedap suara. Mau seberapa kuat ia berteriak, tidak akan ada yang mendengarnya dari luar. Begitu juga dengan ruangan tempat Samuel berada namun itu bukanlah keberuntungan melainkan kesialan bertubi-tubi. Lina ingat kalau ia masih belum menghukum Samuel soal mobil yang ia pinjamkan pada Julia.
"Dimana papa dan mama?" tanya Adelia saat mereka sedang sarapan.
"Mungkin mereka masih ada di atas," kata Julia.
"Tapi tidak biasanya selama ini. Biarpun di hari libur, papa dan mama tidak perna telat bangun," ujar Adelio yang sedikit merasa aneh.
"Sudah, jangan hiraukan mereka. Mungkin ada urusan sepasang suami istri yang sebaiknya kalian anak kecil tidak perlu tahu," kata Via dengan nada yang bisa salah dimengerti bagi yang mendengarnya.
"Alah... Paling juga karna papa mabuk semalam," tebak Julius.
"Apa benar itu, kak? Berarti papa dalam masalah besar dong. Aku harap papa bisa menghadiri pertunjukan musik kita sore ini."
"Berharap saja mama tidak terlalu kejam pada papa."
Selesai sarapan, Julius, Julia dan Nisa berangkat ke sekolah diantar oleh Via. Walaupun begitu tapi tetap saja Julius yang menyetir mobil disebabkan karna Via masih sedikit dilanda pusing akibat alkohol. Mobil berwarna silver itu memasuki halaman sekolah dan berhenti di tempat parkir yang kosong. Begitu keluar dari mobil, Mereka berpencar masing-masing. Tidak jauh dari mobil mereka terpakir, Julia dan Nisa melihat salah satu teman mereka. Dia adalah Wendy yang juga baru turun dari mobil keluarganya. Wendy segera menghampiri Julia dan Nisa begitu mereka memanggil. Sedangkan Via pergi menuju gedung sekolah, atau lebih tepatnya menuju ruang guru. Dan untuk Julius, ia kembali ke kamar asramanya. Ditengah perjalan menuju kamarnya, Julius tanpa sengaja melihat Marjorie di atas gedung sekolah melalui kaca jendela. Tanpa basa basi lagi ia langsung turun dan pergi ke atas gedung tersebut. Julius semakin mempercepat langkahnya karna tidak mau kehilangan jejak Marjorie. Tepat waktu begitu Julius sampai disana, Manjorie pergi.
"Death knell," panggil Julius dengan nafas sedikit terengah-engah.
"Julius?! Kau maraton ke atas sini?"
__ADS_1
"Kau gadis yang sulit ditemui ya. Aku sudah berulang kali menelponmu kemarin begitu juga dengan malam tadi," kata Julius sambi mengatur nafasnya.
"Memangnya ada perlu apa kau denganku?"
"Wajahmu terlihat lebih pucat dari biasanya. Apa kau sering mengalami sakit kepala akhir-akhir ini?"
"Dari mana dia tahu? Aah, paling cuman tebakan yang beruntung," batin Marjorie. "Apa peduli mu? Aku cuman merasa tidak enak badan saja. Istirahat yang cukup pasti sudah sembuh."
"Apa gejala pusing itu juga diiring dengan rasa sedikit sesak di dada dan merasa lemas seperti orang yang mengalami kekurangan darah atau anemia?"
Kali ini baru membuat Marjorie sedikit tersentak. Semua tebakan Julius benar. "Dari mana kau tahu semua itu?'
"Death knell, siapa bosmu itu? Aku yakin dia telah memberikan suatu racun padamu."
"Hah? Racun? Kau bercanda? Aku akui kalau semua tebakan mu tadi benar tapi untuk yang satu ini... Maaf, aku tidak percaya sama sekali," Marjorie melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka dari Julius. "Mana mungkin tuanku itu tega memberiku racun? Aku adalah murid kesayangannya tuan dan yang paling dipercaya tidak akan mungkin berkhianat. Sembarangan kau Julius berkata seperti itu pada tuanku. Kau tidak tahu apa-apa tentang ku dan tuanku."
"Death knell, aku mohon percaya padaku. Tuanmu itu sudah memberimu racun lebih dari dua tahun yang lalu. Jika dibiarkan terus menerus, kau bisa meregang nyawa. Apa kau tidak bertanya-tanya kenapa dia selalu mintamu harus minum obat setiap bulannya?"
"Aku mengetahu semua ini dari pil yang perna aku pinta darimu. Aku mengirim pil tersebut ke mama untuk diteliti dan secara mengejutkan mama mendeteksi adanya serbuk penawar racun sementara dari racun pengekang, obat yang selalu kau minum itu."
"Racun pengekang? Tidak. Aku masih tidak bisa percaya ini. Bagaimana bisa mama mu yakin kalau itu serbuk obat sementara dari racun pengekang? Memang mama mu yang membuatnya?"
"Iya. Mama ku yang membuat racun tersebut dan melelangnya di pelelangan Red Krisan. Mama ku adalah Master ahli racun yang paling misterius di ibu kota, Oleander."
"Pelelangan Red Krisan? Oleander?" kali ini Marjoerie benar-benar tersentak begitu mengetahuinya. Ia terduduk lemas di lantai atap bangunan sekolah sambil mencengkaram rambutnya kuat-kuat.
Julius berjongkok dihadapan Marjorie. "Kau tidak perlu khawatir soal racun tersebut. Aku sudah meminta mama ku untuk membuatkan obat penawar yang sebenarnya. Dengan begitu racun itu bisa hilang seketika dari tubuhmu dan kau akan sepenuhnya bebas dari mereka yang cuman memanfaatkan mu."
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak bisa melakukan ini. Dia adalah penyelamatku, orang yang telah melatihku selama ini dan aku sudah bersumpah untuk selalu setia padanya."
"Apa?! Setelah kau tahu apa yang telah ia lakukan padamu, kau masih mau setia padanya? Dia saja tidak mempercayai mu sepenuhnya dan malah memberimu racun!"
"Kau tidak mengerti Julius..."
"Apa yang tidak aku mengerti?" potong Julius. "Aku sangat mengerti hal ini. Perasaan, tanggung jawab dan balas budimu padanya. Tapi aku tekankan padamu bahwa mama sama sekali tidak melelang obat penawar yang sebenarnya. Jika terus begini kau akan mati karna racun tersebut. Apa itu bentuk kepercayaan? Dia memang menyelamatkan mu, melatih mu tapi setelah kau tidak diinginkannya lagi maka kau akan dibuang seperti barang rongsokan. Ayoklah Death knell, kau memiliki pontensi yang besar. Apa sungguh mau cuman dimanfaatkan seperti ini? Mereka sama sekali tidak melihat pontesi dan bakatmu. Mereka malah melihat itu sebagai ancaman yang bisa membahayakan mereka."
"Aku tidak tahu apa yang aku lakukan, Julius. Hiks... Aku tidak tahu sama sekali."
Krrrriiiing.......
Baru hendak mengusap air mata Marjorie, mereka dikagetkan dengan suara hp Marjorie yang berbunyi. Marjorie segera mengeluarkan hpnya dan mengangkat telpon tersebut.
"Halo."
"Mulailah pada misi utamamu, sayang. Kita siap bergerak. Keberhasilan dari seluruh rencana ini tergantung padamu. Jami semua mengandalkanmu. Jang kecewakan kami terutama aku," perintah Lady Blue.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε