
Pesta berlanjut sampai tengah malam. Karna tidak bisa menahan kantuk, Lina tertidur sambil bersandar di bahu Daniel setelah berdansa. Daniel menggendong pengantinnya itu menuju vila yang ada di sebelah taman tempat dimana acara pernikahan diadakan. Tampa mengganti gaunnya lagi, Daniel membaringkan Lina di atas kasur. Ia juga memberikan tubuhnya di samping Lina tampa menanggalkan jas putihnya. Ditariknya tubuh Lina dalam pelukannya lalu ia mulai ikut tertidur.
Paginya. Lina membuka mata dan mendapati Daniel sudah tidak ada di sampingnya ataupun di kamar tersebut. Lina berusaha bangkit dari tempat tidur sampai terduduk. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Apa semua itu hanya mimpi? Tidak. Ia masih mengenakan gaun pengantinnya, hanya saja hiasan rambutnya sudah di lepas. Semua itu bukanlah mimpi. Ia benar-benar telah menikah, dan kini Daniel adalah suaminya. Tapi kemana hilangnya Daniel pagi ini? Tidak mungkin pergi lagi, kan? Ini hari pertama setelah pernikahan mereka. Lina baru hendak turun dari tempat tidur disaat pintu kamar terbuka. Daniel masuk dengan membawa nampan di tangannya.
"Kau sudah bangun istriku?" kata Daniel sambil berjalan mendekat.
"Apa yang kau bawah?" tanya Lina begitu melihat dua mangkuk sup kacang merah dengan potongan roti tawar kering yang di potong dadu.
"Sarapan pagi mu, sayang," Daniel meletakan nampak itu di atas meja laci di samping tempat tidur. Ia menyodorkan semangkuk sup kacang merah tersebut pada Lina.
"Sebagai tuan muda, bagaimana bisa kau turun dan mengambil sarapanmu sendiri?" kata Lina setelah menerima sup kacang merah itu lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya.
"Bukan hanya turun untuk mengambil sarapan, tapi aku juga yang telah membuat sarapan ini khusus untukmu," Daniel berjongkok di depan Lina yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Kau sendiri yang membuat ini? Kau bisa memasak?" tanya Lina yang terkejut.
"Baru belajar dari buku resep."
"Dimana para pelayanmu sampai kau harus masak sendiri, tuan muda?"
"Aku sengaja meminta mereka libur hari ini agar aku bisa berduaan saja denganmu. Aku adalah pelayan pribadi mu mulai sekarang."
"Pelayan pribadi ya. Tapi aku menikah mau mencari suami bukannya pelayan."
"Aku menikahi mu cuman sekedar ingin kau selalu ada di sisi ku, menjagamu dan menyayangimu selamanya. Jadi izinkan aku memanjakan mu hari ini," Daniel membaringkan kepalanya dipangkuan Lina. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku, karna aku tidak akan sanggup hidup tanpamu," katanya pelan.
Lina meletakkan mangkuk yang telah kosong tersebut di atas nampan. "Itu tidak akan terjadi. Aku juga tidak bisa membayangkan hari-hariku tanpa kehadiran dirimu. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya kembali padamu aku bisa pulang," kata Lina sambil mengelus lembut kepala Daniel.
__ADS_1
"Semua yang aku miliki, juga milikmu sekarang," Daniel mengangkat kepalanya menatap wajah Lina. "Sepertinya kau menyukai masakanku, bagaimana rasanya?"
"Kenapa tidak kau coba saja sendiri," Lina mengambil mangkuk yang masih berisi sup kacang merah. Kemudian ia menyuapkan satu sendok sup tersebut ke dalam mulut Daniel. "Mengingat ini masakan pertamamu, aku beri nilai delapan untuk hidanganmu ini."
"Delapan? Kenapa tidak sepuluh? Apa masakan yang aku buat tidak enak?"
"Tidak. Ini sangat enak. Tapi nilai sepuluh hanya untuk masakanku."
"Oh... Benarkah? Bagaimana kalau aku sendiri yang menilainya?"
"Silakan saja. Makan siang ini aku yang buat agar kau bisa menilainya. Aku jamin kau pasti akan ketagihan."
"Aku menantikan itu."
Seharian ini mereka jalani kesenangan bersama berdua. Tampa ada ganguan dari siapapun, bahkan hp mereka masing-masing dinonaktifkan. Berbagai kegiatan dilakukan untuk mengisi waktu luang, seperti melakukan permainan Scrabble, dart, petak umpet atau bahkan billiard dan bermain kartu. Sore harinya setelah menonton, mereka berenang di kolam berenang yang ada di atap vila. Kalom tersebut sengaja di buat disana supaya bisa menikmati pemandangan ibu kota sambil berenang. Kota yang begitu luas dengan semua gedung pencakar langitnya tampak kecil jika dilihat dari atas atap vila ini. Letak vila tersebut berada di atas bukit di pinggir ibu kota. Tidak ada satupun bangunan selain vila ini. Di sisi kiri dan kanan hanya ada pepohonan yang rindam. Selesai mengganti baju dengan pakaian renang, Lina berjalan menghampiri Daniel yang sudah merendam dirinya dalam kolam berenang sambil menikmati minuman beralkohol nya.
Disaat Daniel menoleh, ia terpesona melihat Lina yang begitu seksi dalam balutan bikini pink tersebut. Dengan pipi merona, Lina sedikit malu berpakaian seperti itu di depan Daniel.
"Oh, wow. Kau tampak seksi dengan pakaian tersebut."
"Jangan menatapku seperti itu! Aku... Malu."
"Untuk apa malu? Aku ini suami," Daniel berenang mendekati Lina. "Sini, biar aku bantu kau turun."
Sambil menopang perutnya yang buncit, Lina turun ke kolam berenang itu dibantu Daniel. Air kolam yang tidak terlalu dingin itu kini telah membasahi tubuh kecil Lina. Daniel mengajak Lina berenang ke tepi sebrang kolam berenang untuk menikmati pemandangan ibu kota sore hari. Langit jingga keemasan telah menyelimuti ibu kota yang perlahan-lahan berhiaskan cahaya lampu.
"Ini sungguh cantik."
__ADS_1
"Iya. Aku belum perna merasa sedamai ini. Sebagai tuan muda dari keluarga Flors dan perwaris ketua anggota Black Mamba berikutnya. Aku dituntut harus bisa menjadi pemimpin yang sempurna. Hari-hariku terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa menikmati keindahan yang ada di sekelilingku. Semua ini berkat dirimu aku dapat kembali menikmati semua ini. Aku sangat senang dapat menjadikanmu sebagai istriku."
Senyum di wajah Lina perlahan meredup. "Aku juga sangat senang. Tapi... Bagaimana reaksi kakekmu setelah mengetahui kalau kita sudah menikah? Mengingat tuan besar keluarga Flors bersikeras menjodohkanmu dengan putri keluarga Cershom... Aku sebenarnya tidak mau hubungan mu dengan kakekmu jadi renggang karna aku."
"Jangan pikirkan itu. Ayah dan ibu sedang berusaha menyakinkan kakek agar ia merestui hubungan kita."
"Bagaimana kalau kakekmu tetap tidak mau merestui hubungan kita dan masih ingin memaksamu menikahi Violet?"
"Itu tidak akan terjadi."
"Dari mana kau tahu?"
"Karna menurut pengamatanku Tn. Cershom sepertinya sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Rencana pernikahan ini seharusnya telah terjadi dua tahun yang lalu tapi Tn. Cershom selalu mencari alasan untuk menundah pernikahan. Aku tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu."
"Ini memang sedikit aneh. Mengetahui putrinya sangat tergila-gila padamu seharusnya ia sangat mendukung pernikahan ini. Violet dikenal sebagai gadis yang begitu dimanja ayahnya. Semua keinginannya pasti diturutin, hal itulah yang membuat ia menjadi gadis sombong."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε