Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Undangan pesta


__ADS_3

"Aku baru tahu kalau paman Samuel bisa bermain musik," ujar Julia yang untuk pertama kalinya melihat Samuel bermain musik.


"Pamanmu ternyata sama hebatnya dengan kakakmu, Julia," puji Wendy.


"Sepertinya semua keluargamu berasal dari pemusik yang handal, ya Julia?" kata Febby.


"Aku saja baru tahu hal ini. Tapi, sebenarnya keluargaku berasal dari keluarga pembunuh bukan pemusik," batin Julia.


Dengan melihat kemampuan Samuel yang piawai memainkan biola, Feli segera menyetujui Samuel membantunya mengajar hari ini. Tidak sampai disitu, Feli juga menyarankan Samuel untuk mendaftar sebagai guru musik resmi di sekolah Anthony. Entah mengapa tanpa pikir panjang lagi Samuel menyetujuinya dan bahkan hari itu juga ia menghadap kepalah sekolah untuk mengajukan diri. Julia dan Julius tentu dibuat bingung dengan sikap paman mereka satu ini. Sebagai dari keluarga tersembunyi, untuk apa Samuel mau menjadi seorang guru musik? Setidaknya pertanyaan itulah yang berputar di atas kepala mereka.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Jam makan siang dikesokan harinya. Berpikir kalau hari ini akan tenang, aku rasa tidak sama sekali. Disaat asik menikmati makan siang di kantin bersama teman-teman, meja mereka disamperin oleh orang menjengkelkan. Dengan gaya sombong dan centilnya yang dapat langsung dibedakan dari siswi lainnya. Sedangkan parfum yang mereka pakai sudah bisa tercium dari jarak ratusan meter. Rica dan Delfa, dua orang menjengkelkan yang kumaksud datang menghampiri untuk menghilangkan nafsu makan.


"Nisa! Aku cuman mau mengingatkan tentang pesta pejamuan malam minggu nanti. Kau harus hadir. Ibu sudah menyiapkan gaun spasial untukmu," kata Rica tanpa basa basi lagi.


"Tapi... Sebenarnya aku tidak mau hadir di pesta itu," tolak Nisa dengan hati-hati.


Nisa sebenarnya sudah merasa firasat tidak enak soal ini. Entah mengapa tiba-tiba perilaku ibu tirinya itu seketika berubah baik padanya, tidak seperti biasa. Hal ini membuat Nisa merasa engan menghadiri pesta tersebut. Tapi mau menolak juga tidak bisa.


"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus hadir karna ini permintaan ayah juga. Oh, ya. Apa kalian juga mau ikut?" tawar Rica pada teman Nisa yang lain.


"Mimpi apa kau semalam sampai mau mengundang kami segala?" ujar Julia dengan beraninya.


"Kau ini memang dasar tidak tahu di untung ya! Seharusnya kau bersyukur Rica masih mau mengundang orang kampungan seperti kau itu. Terlebih lagi setelah apa yang kau lakukan kemarin," Delfa tidak bisa menahan emosinya pada Julia.


"Oh, aku malahan berpikir kalau ini mungkin saja jebakan dari kalian," tebak Julia.


"Delfa...!" berbisik Rica sambil melotot geram pada Delfa. Ia sampai mencubit pinggang Delfa karna berusaha mengacaukan rencananya.


"Hampir saja aku menyetujuinya. Kan jarang-jarang bisa hadir di pesta keluarga kalangan atas. Untung Julia cepat menyadari hal itu," batin Febby sambil menarik nafas lega.


"Jangan dengarkan omongan Delfa. Aku tidak ada maksud untuk mencelakai kalian. Semua ini murni hanya sekedar mengundang kalian agar Nisa mau menghadiri pesta tersebut. Secara kalian tahu kalau Nisa ini pemalu orangnya. Mungkin dengan kehadiran teman-teman disisinya, membuat ia tidak malu lagi berinteraksi dengan seseorang," bujuk Rica dengan mulut manis.


"Baiklah kalau kau sudah ngomong seperti itu. Aku tentu tidak bisa menolak jika tuan rumahnya sendiri yang mengundang. Kami semua akan datang," kata Julia.


"Aku sempat berpikir ia pintar, tapi nyatanya bodoh," kata Rica dalam hati. "Oke, aku tunggu kehadiran kalian. Oh, apa perlu aku meminta sopir menjemput kalian malam minggu nanti?"

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku bisa meminta pamanku untuk mengantar kami. Kirimkan saja alamat pestanya."


"Baiklah."


Mengira sudah berhasil menjebak mangsanya, Rica dan Delfa melangkah pergi dengan hati tersenyum. Sementara itu, Wendy, Febby dan Nisa dibuat bingung dengan keputusan Julia. Dalam sekejap ia bisa menebak muslihat dari lawannya tapi kenapa ia malah menyetujui untuk masuk ke perangkap tersebut? Apa yang sebenarnya Julia rencanakan?


"Julia, kenapa kau malah setuju untuk datang, sementara kau sudah tahu kalau itu adalah jebakan?" tanya Wendy.


"Karna aku tidak akan mungkin membiarkan mereka menjebak Nisa seorang diri," jawab Julia masih sedikit kurang dimengerti temannya.


"Hah? Jadi maksudmu kau menawarkan diri untuk dijebak dan juga menyeret kami bersamamu?" celoteh Febby mengatakan apa yang melintas di kepalanya.


"Sembarangan! Bukan itu maksudku."


"Lalu apa?"


"Em... Aku belum memikirkannya."


Senyap sebentar. Lalu tiba-tiba...


"Julia!!!" teriak Wendy dan Febby memekakan telinga.


"Untuk apa kau menyetujui ajakan Rica jika tidak ada rencana? Itu sama saja bersedia dijebak oleh olehnya."


"Pantas saja kakakmu dibuat pusing melihatmu, tingkahmu memang seperti ini."


"Maaf...!" Julia menutup telinganya menghindari amukan dari kedua temannya itu.


"Sudahlah, Wendy, Febby. Jangan meneriaki Julia lagi. Banyak orang disini," kata Nisa dengan lembut. "Julia, aku hargai bantuanmu, tapi sebaiknya kalian tidak perlu datang. Aku punya firasat buruk kalau Rica merencanakan sesuatu..."


"Tidak bisa begitu!" potong Julia sambil menepak meja.


Nisa benar-benar kaget sampai kacamata yang dikenakannya terjatuh. Julia memungut kaca mata tersebut lalu memasangkanya kembali di mata Nisa.


"Kau jangan khawatir, Nisa. Kau adalah teman kami. Tidak mungkin aku membiarkan temanku sendiri dalam bahaya. Kau masih belum tahu siapa aku yang sebenarnya. Kita ikuti dulu permainan apa yang ingin mereka mainkan, setelah itu baru kita balikan keadaan."


"Walau sedikit ragu tapi aku setuju dengan Julia. Terkadang Julia memang sering melakukan hal tak terduga dan tidak terbayangkan olehku," ujar Febby.

__ADS_1


"Kau teman kami, Nisa. Jangan takut meminta bantuan pada kami. Mau sesulit apapun, kami akan berusaha membantu," sambung Wendy.


"Kalian... Hiks... Terima kasih. Aku tidak tahu harus bagaimana caranya membalas kebaikan kalian. Ini untuk pertama kalinya ada yang bersedia menolongku," Nisa menyekat air mata nya yang tanpa sadar mengalir.


"Dengan tetap tersenyum."


"Itu benar. Tersenyumlah."


"Iya, kau terlihat jauh lebih cantik jika tersenyum."


"Baik," Nisa menebar senyum terbaik nya walau air mata masih menghiasi pelupuk matanya.


"Itukan lebih baik. Jadi sepakat kita akan menghadiri pesta tersebut. Bagaimana kalau besok siang kita ke kota untuk membeli gaun? Aku yang traktir," kata Julia.


"Yang benar saja kau mau mentraktir kami, Julia" Wendy sedikit terkejut mendengarnya.


"Kalian pikir aku bohong? Tentu saja aku serius."


"Sebaiknya tidak perlu Julia," tolak Febby merasa tidak enak.


"Aku juga. Aku masih punya cukup uang saku untuk membeli gaun pesta."


"Tidak, tidak. Aku minta kalian jangan menolak. Aku ingin kita tampil menawan di pesta tersebut. Pertama-tama kita kalahkan kecantikan di pesta nya sendiri."


"Baiklah jika kau memaksa."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2