
"Daniel?! Kau pulang cepat hari ini."
Lina (Violet) bergegas turun dari tangga disaat melihat Daniel sudah pulang. Dengan bahagia ia langsung memeluk Daniel. Seperti batang kayu mati, Daniel tidak memberi respon. Ia menatap kosong Lina (Violet) dalam diam.
"Aku senang kau pulang cepat hari ini. Hei, bagaimana kalau kita makan malam diluar? Menghabiskan waktu bersama di bawah sinar rembulan, kau dan aku. Hanya kita berdua," kata Lina (Violet) memberi saran.
"Cukup! Lepaskan pelukanmu sekarang!"
"Apa? Da-Daniel ada apa denganmu?" Lina (Violet) melepaskan pelukannya dan tanpa sadar melangkah mundur. Tekanan dari Daniel membuat tubuhnya gemetar.
"Enyalah dari hadapanku!"
Lina (Violet) terdiam menatap Daniel dengan air mata mengalir pelan dari pipinya. "Da-Daniel. Apa kau ada masalah di kantor? Cerita sama aku. Mu, mungkin aku bisa bantu."
"Diam!!" Daniel mengajukan tangannya hendak menampar Lina (Violet).
"AAAH......!!!"
"Papa!"
Teriakan kecil yang memanggilnya membuat Daniel tersentak sadar. Telapak tangannya terhenti sesenti lagi di pipi Lina (Violet). Ia menoleh pada gadis kecil yang berdiri di tangga dengan air matanya membasahi pipinya.
"Ju-Julia?!"
Julia berlari menaiki anak tangga sambil mengelap air matanya. Dengan cepat Daniel menyusul putrinya itu, meninggalkan Lina (Violet) yang sudah terduduk lemas di lantai. Violet berusaha mengatur nafasnya mencoba menenangkan dirinya. Tubuhnya masih gemetar hebat.
"Julia! Dengarkan dulu papa. Kau salah paham!"
Daniel menggedur pintu kamar anaknya, namun Julia tidak membukakan pintu. Ia menangis terseduh-seduh di bawah selimut sambil memeluk boneka kesayangannya. Untuk pertama kalinya Julia melihat papanya sangat marah pada mamanya.
"Papa," panggil Julius membuat Daniel menoleh.
"Julius, untunglah kau ada disini. Papa mohon bujuklah adikmu untuk membukakan pintu. Terjadi kesalahpahaman dan papa harap kalian mau mendengarkan penjelasan papa. Kumohon," pinta Daniel dengan sangat pada putranya.
"Julia, buka pintunya."
Panggil Julius sambil mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam. Sepertinya Julia juga tidak mau membukakan pintu untuk kakaknya. Julius melirik lukisan dinding yang ada sisi kiri dari pintu. Ia menghampiri lukisan itu dan mengambil sesuatu dibaliknya. Ternyata itu adalah sebuah kunci cadangan. Ia memberikan kunci tersebut pada papanya. Dengan cepat Daniel menerima kunci itu lalu membuka pintu. Ia segera menghampiri Julia dan seketika langsung memeluknya.
"Julia maafkan papa, sayang. Tidak seharusnya kau melihat itu tadi."
__ADS_1
"Lepaskan aku papa!" Julia memberontak mencoba melepaskan diri.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Julius yang masih kebingungan.
"Hiks... Hiks... Papa tidak sayang lagi sama mama. Kenapa tadi papa mau memukul mama? Apa salah mama? Hiks... Hiks..."
"Apa benar itu pa?" kali ini Julius bertanya dengan nada sedikit tinggi.
"Tidak! Dengarkan dulu penjelasan papa."
"Apa lagi yang perlu dijelaskan?!! Aku melihatnya sendiri! Papa hendak menampar mama!"
"Dia bukanlah mama kalian!" kata Daniel akhirnya membuat Julius dan Julia tersentak.
"Ma, maksudnya?"
"Dia bukanlah mama kalian. Mama kalian hilang, sedangkan wanita itu sengaja menyamar sebagai mama kalian untuk tujuan tertentu. Papa juga masih menyelidiki tujuannya apa, dan papa meminta Qazi mencari mama kalian yang entah berada dimana sekarang. Maaf, maafkan papa yang tidak memberitahu hal ini dari awal. Papa tidak mau kalian berdua sedih begitu mengetahui kalau mama hilang."
"Itu menjelaskan semuanya," kata Julius yang kali ini membuat Daniel bingung.
"Menjelaskan?"
"Karna itu Julia bersikeras ingin ikut papa ke kantor kemarin," tanya Daniel sambil menyekat air mata putrinya. "Lalu apa yang Julius dapatkan dari menyelidiki wanita itu? Apa ada yang eneh padanya disaat papa tidak ada?"
"Untuk keanehannya sih banyak," Julius menceritakan semua yang dianggapnya janggal pada papanya.
"Dia ingin mengetahui tentang rumah lelang? Julius tidak ceritakan apa-apa, kan?"
"Tidak. Aku cuman bilang padanya 'aku tidak tertarik dengan urusan rumah lelang itu.'"
"Siapa dia sebenarnya? Darimana dia tugu tentang rumah lelang tersebut? Apa dia bagian dari keluarga tersembunyi?" pikir Daniel.
"Oh, iya kak. Apa kau berhasil menginput data hp mama gadungan itu?" tanya Julia pada Julius.
"Iya, sudah. Semua datanya ada dalam robot ini," Julius menyodorkan robot yang selama ini dipegangnya.
"Ka, kalian menginput data hpnya?" tanya Daniel tidak percaya atas apa yang berhasil putra-putrinya lakukan.
"Iya. Kami penasaran siapa yang mama telpon kemarin," Julia menerima robot itu lalu memberikannya pada papanya.
__ADS_1
"Kerja bagus. Kalian sungguh putra-putri ku yang cerdas," dengan bahagia Daniel memeluk kedua anaknya. "Dengan ini papa mungkin bisa menemukan informasi yang mengarah ke mama kalian. Terima kasih."
"Em... Papa. Karna dia bukan mama... Apa boleh kami bermain dengannya?" tanya Julia.
"Tentu, tentu saja. Kalian boleh bermain sepuasnya dengan dia."
"Kebetulan sekali, aku butuh tikus percobaan untuk racun yang baru aku kembangkan."
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di sebuah rumah mewah tiga tingkat yang jauh dari ibu kota. Berdiri kokoh di tempat yang tenang dengan pepohonan di sekitarnya. Angin bertiup lembut bersamaan suara burung-burung berkicau dan suara gemeriksik air terjun samar-samar terdengar. Lina membuka matanya perlahan, walau terasa berat namun tetap ia paksakan. Langit-langit sebuah kamar menyambutnya. Ia melirik ke sekitarnya untuk mengetahui dimana dia sekarang. Tapi semuanya terlalu asing. Dia tidak mengenal tempat dimana dia berbaring dan bahkan melupakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau akhirnya sadar juga."
Dengan keadaan masih lemah dan masker oksigen tersemat di wajahnya, Lina berusaha melirik siapa yang baru saja berbicara. Seorang pria dengan kumis diwajahnya, bermata biru, rambut coklat bergaris-garis putih dan duduk di kursi roda masuk ke kamar Lina.
"Kau sudah tidak sadarkan diri kurang lebih seminggu. Tapi aku kagum padamu. Dengan luka yang terbilang cukup parah kau masih bisa bertahan, terutama dari hiasan rambut beracun itu. Maaf, tanpa seizinmu aku mengambil sempel darahmu untuk diteliti. Aku sungguh sangat penasaran. Dan hasil yang kami dapatkan diluar apa yang kami bayangkan. Darahmu kebal terhadap racun manapun dan bahkan bisa digunakan untuk menekan racun pada tubuh orang lain. Ini belum perna ditemukan pada diri seseorang di dunia ini."
"Dimana ini? Dan siapa kau?" tanya Lina dengan nada pelan.
"Oh, maafkan aku. Kau jangan takut. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Kau ada di rumahku sekarang. Ngomong-ngomong, siapa nama mu?"
"Nama? Li... Ve..." Lina mencoba mengingat-ingat siapa namanya sendiri namun semakin ia memaksakan diri untuk mengingatnya, itu membuat kepalanya sakit. "Tidak. Aku tidak ingat apapun."
"Sudah, sudah, jangan paksakan dirimu. Perlahan-lahan kau pasti mengingat semuanya. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa mu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1