
"Michael dan Stevan menuju ke atas."
"Apa?!" Lina dengan cepat memeriksa bagian ruang acara melalui cctv, dan benar saja terlihat Tn. Michael dan Tn. Stevan hendak meninggalkan ruang perjamuan.
"Aku selesai. Aku segera keluar dari sini," kata Daniel.
Dengan hati-hati Daniel berjalan santai keluar. Ia melanjutkan aktingnya menjadi pelayan begitu bertemu orang-orang yang lewat. Tapi disaat melewati lorong ia berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya.
"Tunggu dulu, itukan Tn. Harrison. Apa yang dilakukan anggota kepolisian rahasia disini? Apa mereka sedang menyelidiki sesuatu? Aku akan coba mengikuti dia."
Daniel melepaskan Handsfree lalu mengendap-endap mengikuti Tn. Harrison. Ia tidak memberitahukan hal ini pada yang lain. Sementara itu.
"Bagaimana dengan mu Via?" tanya Lina.
"Sebentar lagi. Pengunduhan baru 45%" jawab Via.
"Ayah, bisa bantu ulur waktu untuk Via?"
"Akan aku coba," Ducan berdiri lalu bergegas menghampiri Stevan dan Michael. "Permisi Tn. Stevan, Tn. Michael. Berkenanan kalian meluangkan sedikit waktu untuk membahas tentang proyek baru bersama saya?"
"Jangan sungkan begitu Ducan, kita ini keluarga. Bagaimana kalau kita membahasnya sambil jalan? Kebetulan aku mau ke ruang kerjaku untuk mengambil sesuatu," kata Stevan sambil merangkul bahu Ducan dan mengajaknya melangkah keluar.
"Tapi saya ingin membahas hal ini bersama kalian berdua."
"Tidak apa, kita bisa pergi ke ruang kerja Stevan dulu," ujar Michael.
"Sial," gerutu Ducan dalam hati.
"Kebiasaan ayah meninggalkan aku lagi," kata Violet yang mendapati ayahnya sudah tidak ada. Ia merogoh hp dalam tasnya lalu menghubungi seseorang. "Hallo, Azkya. Kau dimana?"
"..."
"Baiklah, aku segera kesana."
Violet beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah pergi menuju tempat yang dimaksud Azkya. Sementara itu, di lorong. Ducan masih berusaha menghambat langkah Stevan menuju ruang kerjanya.
"Masih ada satu acara lagi malam ini yaitu pesta dansa. Apa kau mau turun ke lantai dansa adikku?" tanya Stevan pada Michael.
"Aku rasa tidak. Istriku tidak terlalu pandai berdansa. Bagaimana kalau kita berikan kesempatan untuk anak-anak muda menguasai lantai dansa malam ini."
"Masa muda memang menyenangkan. Oh, iya Ducan. Apa yang mau kau bahas tadi?" tanya Stevan mengalihkan pembicaraan.
"Soal itu... Begini Tn. Stevan..."
Ducan mulai membahas tentang proyek baru. Ia sengaja memperlambat jalanya dan sesekali berhenti untuk membetulkan sepatu, dasi atau memperlihatkan rancangan proyek baru di layar hpnya. Hal itu sedikit menghambat laju Stevan ke ruang kerjanya. Ducan hanya berharap Via berhasil keluar dari ruang kerja tersebut sebelum mereka sampai.
__ADS_1
Kembali ke Violet. Ia telah sampai di tempat yang dimaksud Azkya. Terlihat Azkya sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia sambil menatap keluar jendela.
"Azkya," sapa Violet membuat Azkya menoleh.
"Sampai juga kau," Azkya hendak berdiri namun ia segera duduk kembali begitu merasakan rasa sakit di pinggangnya. "Aduduuuh...... Pinggangku sakit sekali."
"Ada apa denganmu?"
"Ini karna Robert, sepupumu itu."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Di kamar sebelah. Ia pingsan karna mabuk berat."
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Robert berbuat seperti itu padamu. Kau lebih mengenalnya. Dia akan berbuat kasar kalau sedang marah."
"Semua ini salah Lina dan Via. Karna mereka Robert mala melampiaskannya padaku."
"Caramu juga yang salah. Tapi aku punya ide, mendekatlah," Violet membisukan rencananya pada Azkya.
"Apa kau yakin itu akan berhasil?"
"Pasti berhasil. Dengan sifat Robert yang tidak mau menyerah sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Ia akan menyukai rencana ini."
"Baik. Aku akan bujuk Robert untuk mengikuti sesuai rencanamu."
"Dimana, kau Azkya? Berani sekali... Ciguk! Kau meninggalkan aku, sendirian disini," Robert membuka pintu lalu melangkah keluar. "Kau pasti ada diruang sebelah kamar ini. Aku... Akan menakapmu."
Robert menggunakan kartu khususnya untuk membuka pintu kamar sebelah. Ia sangat kesulitan mengesekan kartu tersebut pada tempatnya. Beberapa kali ia gagal namun ia tidak menyerah sampai akhirnya berhasil. Pintu terbuka, akan tetapi itu bukan kamar dimana Azkya berada.
"Siapa itu?"
Lina dikagetkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Ia refleks menutup leptopnya lalu meletakan ke samping tempat tidur. Baru hendak melirik ke pintu, Lina telah mendapati seorang pria dengan pakaian berantakan sudah berdiri dihadapannya.
"Kau?!"
"Ternyata nona manis. Aku begitu beruntung malam ini," Robert mendorong Lina dengan keras sampai membuat Lina terbaring di tempat tidur bersamaan dengan tubuhnya sekalian menimpa tubuh Lina.
"AAW ! !" jerit Lina menahan sakit disaat perutnya tertekan.
"Kakak! Ada apa?" tanya Via khawatir begitu mendengan teriakan Lina.
"Veliana!" teriak Ducan memanggil Lina.
Hal itu membuat Stevan dan Michael terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Ada apa Ducan?" tanya Michael.
"Maaf Tn. Stevan, Tn. Michael saya harus..."
"Tidak! Aku baik-baik saja. Jangan pedulikan aku. Lanjutkan saja rencananya," kata Lina sambil berusaha melepaskan cengkraman dari Robert.
"Bertahanlah kak, aku akan segera kesana. Ayok dong, cepat, cepat," kata Via yang melihat layar monitor komputer yang tinggal 15% lagi pengunduhan.
"Kau sungguh manis nona. Terutama perut hamilmu ini yang begitu indah," bisik Robert. Tangannya mulai mengelus perut.
"Dasar kau pria bajingan!!!"
Lina sekuat tenaga meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Ia menendang dengan keras bagian antara paha Robert. Hal itu menyebabkan rasa sakit yang teramat sangat Robert rasakan. Sangking sakitnya ia sampai berteriak tampa ada suara. Lina memanfaatkan situasi itu untuk melepaskan diri dari Robert. Lina berhasil menjauh dari Robert yang masih meringkuk kesakitan di atas tempat tidur. Lina mengelus perutnya perlahan beberapa kali yang sedikit sakit.
"Hoks... Hoks... Ibu harap kalian baik-baik saja. Waktunya membalas perbuatan makhluk biadab ini!"
Lina meraih meja kecil yang terbuat dari kayu. Tanpa aba-aba Lina memukul punggung Robert dengan sangat kuat sampai meja itu hancur.
"ARGH ! ! !"
Robert pingsan seketika setelah memuntahkan darah. Lina melemparkan sisa kaki meja yang ada di tangannya. Ia merogoh tasnya mencari sebuah tabung kaca kecil yang berisi racun Foxglove. Jangan tertipu dengan namanya. Lina memasukan racun tersebut ke mulut Robert.
"Nikmati hari-harimu terakhirmu dengan penderitaan."
Lina meraih leptop di atas tempat tidur itu lalu kembali membukanya. Ia melihat Stevan, Michael dan ayahnya sudah semakin dekat ke ruang kerja tempat dimana Via berada.
"Via, kau bisa mendengar ku?" panggil Lina. Ia kini duduk dilantai dengan tubuhnya ia sandarkan di ranjang.
"Kakak, kau tidak apa-apa?" balas Via.
"Aku baik. Apa kau sudah selesai? Mereka sudah semakin dekat."
"Sedikit lagi. Iya selesai."
Via menarik flashdisk nya lalu mematikan komputer tersebut. Baru hendak melangkah keluar Via dikagetkan dengan knop pintu yang bergerak.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε