
Lina menggoyang pelan tubuh Daniel mencoba membangunkannya. Tapi itu tidak cukup untuk membangunkan Daniel. Ia mala membetulkan posisi tidurnya, namun karna itu Lina mengetahui ada bekas darah yang telah mengering di sebelah kanan wajah Daniel. Lina mengangkat helaian rambut Daniel yang menutupi luka tersebut.
"Apa yang telah terjadi padamu Daniel? Bagaimana bisa dahi mu terluka seperti ini?"
Lina bergegas bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil sebaskom kecil air hangat dan kotak kesehatan. Lina membaringkan tubuh Daniel di lantai agar lebih leluasa mengobati lukanya, dan karna terlalu lelah, Daniel tidak terbangun sama sekali. Tentunya Lina tidak mungkin bisa mengangkat tubuh Daniel ke atas tempat tidur, apa lagi dalam kondisinya yang sedang mengandung.
Lina membersikan bekas darah yang telah mengering itu menggunakan air hangat. Setelah itu barulah mengobati lukanya. Tidak hanya di dahi, beberapa luka kecil juga ada di pipi, leher, tangan dan memar di bagian tubuh Daniel. Saat mengobati luka, Lina menemukan serpihan kaca yang masih menempel di jas Daniel. Serpihan kaca tersebut sempat melukai jari Lina.
"Aw! Serpihan kaca? Apa mungkin Daniel mengalami kecelakaan saat mengejar Tn. Stevan? Dan ini sepertinya serpihan kaca mobil," Lina menatap sedih Daniel. "Seharusnya kau tidak perlu memaksakan diri menakap Tn. Stevan. Jika tidak berhasil menangkapnya juga tidak apa-apa. Jangan sampai membahayakan dirimu. Aku tidak sanggup kehilanganmu."
"Jangan sedih. Aku tidak akan mati semudah itu," Daniel membuka matanya memandang Lina. Ia meletakan tangannya di atas perut istrinya itu. Ia bisa merasakan gerakan sapaan dari janin dalam kandungan Lina.
"Ah, Daniel. Teryata kau sudah bangun," kata Lina yang sedikit terkejut.
"Tidak. Aku baru bangun," Daniel bangkit dan duduk menghadap Lina. Tangannya kini meraih jari Lina yang terluka. "Kau terluka."
"Cuman luka kecil. Sebaliknya kau, lihatlah dirimu. Kau harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kalau-kalau ada luka dalam," kata Lina dengan nada khawatir.
"Aku baik. Tidak ada luka yang serius," Daniel memberi kecupan lembut di jari Lina yang terluka. "Tangan ini ataupun bagian dirimu yang lainnya jangan sampai terluka lagi. Aku tidak mau melihat itu."
"Kau juga sama. Memangnya aku bersedia melihatmu dengan keadaan seperti ini?" Lina membelai wajah Daniel dengan tatapan sedih. "Apa yang telah terjadi padamu?"
Daniel menggenggam tangan Lina yang menempel di pipinya. "Sudahlah, tidak perlu pikirkan itu. Yang pasti aku sudah memenuhi permintaanmu menangkap Tn. Stevan hidup-hidup. Dia ada dipenjara bawah tanah sekarang."
Daniel tidak mau menceritakan apa yang ia alami semalam pada Lina. Kecelakaan itu cukup parah. Mobilnya hancur tak berbentuk. Sungguh suatu keajaiban jika ia dapat selamat dan hanya menderita luka kecil. Ia takut Lina akan semakin sedih begitu mengetahuinya.
"Terima kasih. Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Kalian semua telah membantu. Tanpa kalian aku tidak mungkin bisa membalaskan dendam ibuku," dari pandangannya yang tertunduk Lina mengangkat wajahnya menatap lurus mata Daniel. "Terutama dirimu. Kau sampai terluka seperti ini karna untuk memenuhi permintaanku. Aku merasa bersalah. Seharusnya aku tidak memintamu melakukannya. Keselamatanmu lebih penting dari segalanya. Aku tidak mau kehilanganmu."
"Sssutt... Kau terlalu dramatis. Aku perna dalam keadaan jauh lebih buruk dari ini. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Aku bersedia melakukan apapun demi kebaikan, kebahagian dan keselamatanmu, tidak peduli seberapa bahayanya itu," Daniel menarik tubuh Lina ke pangkuannya. "Selain dirimu yang tidak boleh terluka, aku juga tidak mau melihat wajah murung ini lagi."
Daniel menyandarkan kepala Lina di dadanya yang bidang. Dibelainya untaian lembut rambut hitam yang telah tumbuh panjang melebihi pinggang Lina.
"Aku ingat dulu rambutmu tidak sepanjang ini," kata Daniel mengalikan pembicaraan.
"Iya. Mungkin suatu hari aku akan memotongnya. Trend rambut pendek sedang populer belakangan ini."
"Tidak, biarkan saja tetap panjang. Kau jauh lebih cantik dengan rambut panjang indah mu ini."
"Menurutmu begitu?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan di pintu membuat pandangan mereka berdua teralihkan ke pintu yang tertutup.
"Siapa itu?" tanya Daniel.
"Saya Judy, tuan muda. Saya hanya ini menyampaikan kalau makan siang sudah siap. Apa anda ingin turun ke bawah atau saya bawakan hidangannya kemari?" kata Judy tanpa membuka pintu.
"Makan siang?" kata Lina sedikit bingung. "Memang jam berapa sekarang?"
"Jam 11.45 nona Lina," jawab Judy.
"Hah?! Ternyata sudah sesiang itu."
"Kami akan segera turun."
"Baiklah," Judy berlalu pergi.
Lina berusaha bangkit dibantu Daniel. "Aku harus pergi mandi dulu."
"Daniel... Turunkan aku!"
"Aku tahu kau sangat suka berendam. Jadi aku meminta merenovasi salah satu ruangan menjadi kolam pemandian untukmu."
Daniel membawa Lina menuju ruangan yang ia maksud. Sampai disana, ruangan dengan pilar putih gading yang menghiasi menyambut mereka. Karangan berbagai bunga terlihat cantik di pinggiran kolam tersebut dalam vasnya. Kolam pemandian cukup luas tepat berada ditengah-tengah ruangan itu. Airnya yang jerni memantulkan cahaya lampu yang tepat berada di atasnya. Daniel menurunkan Lina tepat di pinggir kolam pemandian.
"Wow... Sejak kapan tempat ini berubah menjadi kolam pemandian yang begitu cantik seperti ini?" kata Lina yang terpesona.
"Kau menyukainya?"
"Tidak perlu dipertanyakan lagi. Aku sangat suka."
"Melihatnya saja tidak cukup. Kenapa tidak mencobanya?"
Daniel turun duluan ke kolam tersebut yang airnya setinggi pinggang Daniel. Ia sudah menanggalkan pakaiannya. "Sini, ku bantu kau turun."
"E... Sebaiknya aku ganti pakaian dulu," Lina sedikit ragu-ragu untuk turun. Ia memalingkan mukanya yang malu.
__ADS_1
Daniel mengangkat sebelah alisnya. "Ini bukan kolam berenang."
"Aku... Apa memang harus..."
"Astaga, kau masih pemalu saja."
"Si, siapa yang malu. A, aku cuman..."
"Oh, benarkah. Aku tidak percaya itu. Kalau memang kau berani, ayok lepaskan piyama mu dan turun kesini," goda Daniel memancing Lina agar mau turun.
"Baik. Akan aku buktikan," Lina terpancing. Ia menanggalkan piyamanya lalu turun ke kolam pemandian tersebut.
"Uuuu... Aku salah. Istri kecilku ternyata sangat berani. Tapi kenapa kau merendam seluruh tubuhmu?" Daniel melirik Lina yang cuman menyisakan hampir sebagian kepalanya di permukaan.
"Na, namanya juga berendam," keberanian Lina hanya sementara.
"Dasar pemalu."
Daniel ikut merendamkan tubuhnya. Ia tiba-tiba menarik tubuh Lina memeluknya dari belakang. Tubuh Lina seketika begetar disaat kulit mereka bersentuhan. Daniel mengendus tekuk Lina menjalar sampai ke telinga dengan kedua tangan merangkul perut Lina.
"Da-niel. Emmph... Hentikan!"
Dengan susahnya Lina berkata sambil menahan suatu suara yang hendak keluar. Tapi Daniel tidak memperdulikan itu. Ia mala memberi kecupan di leher Lina dan tangannya semakin turun ke bawah perut Lina.
"Ahh!" suara itu berhasil keluar ketika tangan Daniel menyentuh area sensitifnya. Dengan cepat Lina menutup mulutnya.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
__ADS_1