
Lina menarik lepas ikat pinggang pria itu. Ia akan menggunakan itu sebagai cambuk namun kepala dari ikat pinggang itulah yang menghantam tubuh pria tersebut. Suara teriakan dan jeritan dari pria tersebut tidak dapat terdengar dari luar karna kamar ini dirancang kedap suara. Mengetahui hal itu Lina semakin bersemangat melakukan permainannya.
"Kau seekor babi sudah berapa banyak gadis yang telah menderita di tanganmu? Izin kan aku membalaskan dendam mereka!!" Lina kembali mengayunkan kepala ikat pinggang itu ke tubuh pria tersebut.
"AAAAA ! ! ! Kau gadis kecil sungguh tidak tahu siapa aku! Aku adalah..."
Belum selesai pria tersebut berbicara, satu ayunan lagi telah mendarat di wajahnya. Darah telah memenuhi kepala ikat pinggang itu.
"Kau tidak perlu repot-repot memberitahu ku. Aku sudah tahu siapa dirimu. Kau merupakan seorang bos besar di suatu perusahaan parfum yang sangat terkenal di ibu kota. Tapi ketenaranmu sebagai pria yang suka bermain perempuan jauh lebih tinggi dari penjualan parfum mu itu. Kau sungguh pria yang membuat semua orang jijik."
Lina berjalan menjauhi pria itu mendekati meja di samping tempat tidur. Tepat di atas meja tersebut ada sebotol anggur disana. Lina mengambil botol anggur itu lalu di bawanya ke hadapan pria tersebut. Lina berjongkok sambi tersenyum dengan botol anggur yang sudah terbuka.
"Apa kau mau minum ini bersamaku?"
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap benci pada Lina. Tapi tiba-tiba tatapan wajah mesumnya muncul. Ia memainkan lidahnya begitu tergiur melihat paha mulus Lina. Menyadari itu Lina seketika menapar wajah pria itu dengan sangat keras.
"Dasar pria brengsek ! ! !"
Lina menuangkan sebotol anggur itu tepat ke mulut pria tersebut. Dengan susah payah pria itu menuguknya sampai ia tersedak.
"Ukhuk... Ukhuk..."
"Bagaimana? Bukankah rasanya enak? Kau sungguh seperti babi gemuk. Hah... Melihatmu sungguh menurunkan nafsuku untuk bermain. Bagaimana kalau kita akhiri saja?"
__ADS_1
"Kau gadis kecil yang kejam!! Aku pasti akan membalasmu!!!" bentak pria itu setelah memuntakan isi perutnya.
"Iya, iya, kau akan membalas ku. Tapi di kehidupan mu selanjutnya."
Lina memukulkan botol anggur yang masih setengah penuh itu tepat ke atas kepala pria tersebut. Darah mengalih memenuhi wajah pria itu, namun ia terlihat masih bernafas dengan mata setengah terbuka. Lina menancapkan bekas botol yang telah pecah itu tepat ke jantung pria tersebut.
"Argh!"
Suara terakhir pria itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Darah seketika muncrat ke wajah serta tubuh Lina. Belum cukup sampai disitu, Lina menarik botol tersebut turun sampai membelah perut pria itu.
Lina berdiri sambil merengangkan tubuhnya. Matanya tertujuh pada pintu kamar mandi. Lebih baik ia membersikan tubuhnya dari darah sebelum menyelinap pergi. 5 menit kemudian Lina keluar dari kamar mandi tampa sehelai benang pun. Lina berjalan menuju lemari dengan tubuhnya yang masih meneteskan air. Tidak ada pakaian lain selain dua jenis pakaian cosplay dalam lemari tersebut.
Lebih baik dari pada tidak berbusana, tanpa pikir panjang Lina memakai pakaian cosplay itu. Tapi ia tidak akan memilih kostum kelinci lagi, itu terlalu ketat. Ia mengenakan pakaian seragam sekolah alah anime jepang. Kemeja putih yang terlihat pusat begitu ia mengangkat kedua tangannya, di balut jas hitam bergaris merah dan pita merah besar menghiasi krah kemejanya, rok mini kotak-kotak dan kaus kaki hitam panjang sampai lutut serta sepatu berwarna senada.
Dengan rambut masih basa Lina mengintip keluar pintu. Tidak didapati satu orang pun di lorong itu. Lina mengambil kesempatan ini untuk keluar. Ia berjalan mengendap-endap menghindari beberapa orang yang lewat. Lina berhasil turun sampai ke lantai dua tanpa disadari siapapun. Tinggal melewati lantai dasar lalu menuju pintu keluar. Maka Lina akan terbebas dari tempat ini. Tepat di bawah sana adalah sebuah klub malam. Lina masih dapat mendengar suara musik yang begitu keras dari ruang klub malam tersebut. Lina tidak memperdulikan itu, lebih baik mencari jalan keluar.
"Jangan takut, ini aku Daniel. Lupakan apa yang kau lihat barusan. Aku akan membawamu keluar dari tempat ini."
"Daniel, apa kau yang membunuh mereka semua?" tanya Lina. Ia mencium bau amis darah yang kuat dari tubuh Daniel.
"Em... Iya," kata Daniel pelan. Ia sangat ragu mengakui itu. Ia takut kalau gadis di dekapannya ini akan trauma setelah melihat kejadian ini. "Lu, lupakan itu. Tenangkan dirimu, okey. Jangan takut!"
"Takut? Hah! Aku tidak perna takut. Tapi apa boleh aku katakan cara bermainmu sungguh tidak mengasik," kata Lina sambil menarik turun tangan Daniel dari matanya. Kini tangan Daniel berpindah melingkari bahunya. Lina mengangkat wajahnya menatap wajah Daniel yang tepat diatas kepalanya.
__ADS_1
"Bermain?" Daniel sungguh binggung melihat reaksi Lina. Memang benar tidak ada sedikitpun ketakutan dimata Lina begitu ia menatap wajah Daniel. Mata itu terlalu bergairah dan penuh semangat seperti seorang anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan baru.
"Iya. Kau langsung membunuh mereka begitu saja dengan menyerang titik vital. Sekali tembakan mereka sudah mati. Apa kau tidak mau mendengar jeritan mereka dulu sebelum ajal menjemput? Suara teriakan kesakitan dan tangisan mereka begitu sesuatu yang tajam menggores kulit mereka. Teringin kah kau mendengar semua itu?" Lina menatap lurus ke depan.
Daniel melirik Lina. Ia tidak percaya gadis ini bisa mengatakan semua itu dengan raut wajah polosnya. Rasa ketakutan Daniel akan trauma yang mungkin saja dialami Lina musnah seketika. Daniel saja yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan Lina.
"Aku sangat terkejut kucing sepertimu dapat berbicara demikian. Tapi berbicara saja tidak cukup. Aku takut kau bahkan gemetar begitu menggoreskan pisau di kulit seseorang yang berteriak kesakitan di depanmu. Wajahmu tidak menyakinkan untuk ku percayai," kata Daniel mencoba memancing Lina. Ia ingin membuktikan apa benar gadis ini memiliki jiwa Psychopath dari balik wajah polos itu.
"Aku memang tidak sekejam dirimu. Aku masih memiliki hati nurani. Aku tidak akan perna menyakiti siapapun yang tidak bersalah. Tapi sebaliknya, jika orang tersebut menyakitiku, aku akan dengan senang hati membalas mereka."
"Oh... Jadi tidak bisa sembarang orang yang bisa menemanimu bermain. Kebetulan sekali aku masih membiarkan dia hidup. Kau bisa tunjukan cara bermainmu padaku," bisik Daniel di telinga Lina sambil mempererat pelukannya.
"Baik, tapi kita lihat dulu siapa itu dan juga... Bisa lepaskan pelukanmu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
ξκύαε