Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Tertangkap basa


__ADS_3

"Aku takut sekali tadi. Untunglah mama tidak apa-apa," ujar Julia.


"Boleh aku bertanya satu hal?" tanya Lina membuat Julius dan Julia bingung.


"Tanya apa?" kata Julius.


"Siapa nama kalian?"


"Namaku Julia Francesca Flors," kata Julia dengan tegas.


"Julius Franklin Flors."


"Julius, Julia. Iya, itu nama kalian. Hiks... Hiks... Aku ingat semuanya. Siapa diriku, teman, keluarga, semuanya aku mengingatnya," Lina tersenyum pada putra-putrinya. Ia merentangkan kedua tangannya dengan mata berlinang. "Kemari lah, sayang."


"Mama!" Julius dan Julia seketika melompat dalam pelukan mamanya. Air mata telah mengalir di pipi mereka.


"Apa mama sungguh telah mengingat kami?" tanya Julia untuk menyakinkan dirinya sendiri.


"Iya sayang, mama sudah mengingat semuanya. Maafkan mama, maaf karna tidak mengingat kalian sebelumnya," Lina memeluk erat putra-putrinya melepas rindu.


"Itu bukan salah mama. Mama tidak perlu minta maaf," kata Julius yang semakin mempererat pelukannya.


"Jadi, ingatanmu sudah pulih sepenuhnya dan mereka sungguh putra-putri mu. Kau memiliki keluarga yang hebat," Samuel berhenti sebentar. Ia tertunduk dan sesekali melirik Lina lalu tertunduk lagi. "Kau akan kembali?"


"Iya."


"Kami pasti akan merindukanmu. Terutama aku," kata Samuel pelan sambil berdiri.


"Eh... Samuel, sebenarnya kita ini..."


"Mama, jika ingatan mama sudah pulih. Mama harus segera pulang," potong Julia. Ia melepaskan pelukannya dan beralih menarik tangan mamanya memintanya berdiri.


"Iya. Kami sudah muak dengan wanita itu," Julius juga ikut menarik tangan mamanya.


"Mama harus mengusirnya."


"Wanita itu?" Lina berpikir sebentar. "Astaga benar juga! Aku baru ingat dengan makhluk biadab satu itu. Samuel, pinjam mobilmu."

__ADS_1


"Kau bisa bawa mobil?" Samuel memberikan kunci mobilnya.


Lina berusaha berdiri dan menerima kunci mobil itu. "Terima kasih kakak sepupu!" teriak Lina sambil berlari pergi.


"Kakak sepupu..."


"Mama! kau melupakan kami!" teriak Julius namun Lina sudah pergi jauh.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


"Bagaimana keadaan Julius dan Julia?" tanya Daniel pada Qazi yang baru masuk ke ruangannya.


"Mereka sudah bertemu dengan mama mereka. Saya disini ingin menyampaikan pesan dari Judy. Joe meminta dokumen pembukuan lelang tahun lalu."


"Dokumennya ada di vila Krisan. Aku akan mengambil kuncinya di rumah dan menyerahkan dokumennya secara langsung pada Joe. Tolong gantikan aku sebentar di sini."


"Baik."


Daniel beranjak dari kursinya dan melangkah pergi menuju parkiran. Ia masuk ke mobil lalu mengendarainya sendiri pulang ke rumah. Sampai di rumah, Daniel tidak terlalu merasa janggal dengan keadaan rumah yang sepi. Ia naik begitu saja menuju kamarnya. Ketika ia membuka pintu kamar, Daniel dikejutkan dengan keadaan kamar porak-poranda dan mendapati Violet sedang mengutak-atik brankas yang tersembunyi dibalik lukisan abstrak. Dibalik brankas itulah tersimpan kunci dari vila Krisan yng hendak Daniel ambil.


"Daniel?! Kau pulang cepat," Violet sangat kaget dengan kehadiran Daniel. Namun yang lebih mengejutkan lagi baginya... "Tunggu, kau memanggilku Violet?"


"Sial! Aku keceplosan," Daniel mengeretakan giginya sambil mengalihkan pandang.


"Daniel, apa maksudnya ini? Apa kau menganggap ku sebagai Violet? Apa sebab itu kau menghindari ku selama ini?"


"Berhentilah berpura-pura! Aku sudah tahu semuanya. Kau adalah Violet, bukan kucing kecil! Mau bagaimanapun kau merubah wajahmu sama seperti dia, kau tidak akan perna dapat menggantikan posisinya. Aku tidak bisa ditipu olehmu," bentak Daniel meluapkan semua yang sudah lama ingin dia katakan.


"Sejak kapan kau mengetahuinya," Violet kini tidak berpura-pura lagi.


"Sejak kapan kau tanya? Tentu saja sejak kau mengijakan kaki di rumah ini. Aku sudah menyadari kalau kau bukanlah kucing kecil. Selama ini aku cuman mengikuti permainan mu agar aku bisa mencari tahu siapa kau sebenarnya!" tunjuk Daniel dengan geram. "Bahkan anak-anak juga sudah tahu hal ini. Apa kau tidak merasa kalau hidupmu terlalu sial beberapa minggu ini?"


"Oh... Aku terlalu meremehkan keluarga kecil Flors ini. Tapi walaupun begitu, percuma juga kalau kau ingin mengancam ku untuk mengetahui keberadaan Lina yang sebenarnya karna dia sudah mati!!"


"Itu menurutmu, tapi tidak bagiku. Kucingku masih hidup. Dia tidak akan mati dengan mudah."


"Berhentilah membohongi dirimu sendiri Daniel! Lina sudah mati. Aku sendiri yang membunuhnya dengan tanganku ini. Aku menusuk jantungnya dan menerjangnya sampai jatuh ke sungai. Ia tidak mungkin selamat! Sungai itu dipenuhi buaya yang langsung menerkamnya sampai tidak bersisa."

__ADS_1


"Ternyata itu yang dialami kucing kecil pada malam itu dan aku tidak ada disana untuk menyelamatkannya," rasa penyesalan menyelimuti hati Daniel setelah mendengar semuanya. "AAA!!! Kau harus membayar semua perbuatan yang telah kau lakukan pada kucingku!"


Daniel seketika menyerang Violet. Menyadari hal itu Violet berusaha menghindar. Tidak sapai disitu saja, pertarungan mereka berlanjut. Daniel tidak peduli lawannya mau seorang pria atau wanita. Baginya sama saja. Violet cukup kewalahan menandingi kekuatan Daniel walau ia sudah menggunakan berbagai perabotan di kamar itu sebagai senjata. Ditambah lagi keadaan tubuhnya masih lemah akibat racun dari Julius.


"Kau lumayan juga Violet. Tidak heran kau bisa menandingi kucing kecilku. Kau pasti berlatih sangat keras beberapa tahun ini."


"Apa kau masih seorang pria, Daniel? Beraninya kau menyerang wanita sepertiku!" betak Violet. Ia sudah tidak sanggup lagi menyerang Daniel. Semua serangannya berhasil ditangkis dengan begitu mudah.


"Di hadapanku semuanya sama, baik pria maupun wanita. Jika mereka musuhku, aku pasti akan membunuhnya."


Kali ini Daniel yang menyerang. Satu kali serangan ia berhasil mengunci Violet. Ia menekuk kedua tangan Violet ke belakang dan mendorongnya ke tembok.


"Argh! Percuma saja Daniel jika kau ingin membunuhku. Itu juga tidak akan mengembalikan kucing tercintamu itu!"


"Kau salah! Kucingku masih hidup dan aku sudah bertemu dengannya. Asal kau tahu saja, Julius dan Julia saat ini sedang bersama dengannya. Dia akan kembali padaku dan kau mati!" Daniel beralih menghempaskan tubuh Violet ke arah tempat tidur.


"Uhuk! Tidak...! Itu tidak mungkin!" Violet menyekat sisa darah yang mengalir ke dagunya. "Kau hanya mengeretakku! Aku melihatnya sendiri dia mati tenggelam. Kau jangan coba-coba membohongiku!"


"Jika begitu, apa kau memang sudah melihat mayatnya? Bawahanmu yang kau suruh mencari mayatnya saja tidak menemukannya. Bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau kucingku sungguh telah mati?"


"Tu, tubuhnya sudah dimakan buaya. Ba, bagaimana..." muncul keraguan dalam benak Violet. "Sial! Apa para idiot itu benar-benar mencari mayat Lina? Bagaimana bisa Lina masih hidup?"


"Apa lagi yang bisa kau katakan? Bersiaplah menerima hukumanmu tiruan Lina!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε

__ADS_1


__ADS_2