Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Taman kota


__ADS_3

"Wah... Ini sungguh kota yang besar," ujar Lina sambil menikmati keelokan ibu kota dari balik kaca jendela mobil.


"Kau ini seperti seseorang yang baru melihat peradaban."


"Biarin. Setelah aku sadar aku memang cuman melihat hutan."


Samuel tersenyum. Ia menambah kecepatan mobilnya semakin memasuki pusat kota. Karna paksaan dari ayahnya, Samuel terpaksa harus menemani Lina berkeliling kota hari ini. Selain untuk menghilangkan kebosanan dan mencari pandangan baru, tujuan utama yang sebenarnya jalan-jalan hari ini adalah untuk membantu mengembalikan ingatan Lina. Mungkin dengan mengunjungi beberapa tempat yang menurut Lina tidak asing bisa membuat Lina mengingat keluarganya. Sebenarnya Samuel suka menghabiskan waktu bersama Lina. Selain suka melihat wajah cemberut Lina yang imut, melihatnya tersenyum riang seperti ini juga ada perasaan tersendiri dalam benak Samuel.


"Jadi, apa ada tempat-tempat yang tidak asing menurutmu?" tanya Samuel disela-sela ia memperhatikan jalanan yang cukup padat kendaraan.


"Ada. Ayok kita berhenti kesana," tunjuk Lina pada kedai es krim yang tidak jauh di depan mereka.


"Oh, apa tempat ini muncul dalam ingatanmu?" Samuel mengarahkan mobilnya menuju kedai es krim yang ditujuk Lina lalu berhenti.


"Tidak. Aku ingin makan es krim," kata Lina dengan riang. Ia hendak keluar dari mobil sebelum Samuel tiba-tiba mencegatnya.


"Nanti dulu."


"Ada apa?"


"Pakai ini," Samuel menyelipkan kaca mata bundar dengan gagang berwarna pink di telinga Lina.


"Untuk apa aku memakai ini?"


"Sembunyikan penampilan mu. Jangan sampai ada orang yang mengenalimu," Samuel beralih membantu menguncir rambut Lina yang panjang.


"Memangnya kenapa? Bukankah akan bagus jika ada orang yang mengenali ku. Mungkin mereka merupakan temanku, kerabat atau keluargaku."


"Apa kau lupa apa yang di katakan ayah? Kau itu memiliki musuh yang menginginkan kematianmu. Jika yang mengenalimu itu bukan keluargamu atau temanmu tapi melainkan musuhmu, bagaimana? Kau bisa celaka."


"Apa yang dikatan Samuel benar. Selagi ingatanku belum pulih sepenuhnya, aku harus berhati-hati," pikir Lina.


"Ayah juga berpesan padaku untuk selalu menjaganya. Identitas asli Velia masih belum di ketahui sampai sekarang. Ayah menebak kalau Velia bukanlah berasal dari kalangan biasa dan kemungkinan besar orang yang menginginkan kematiannya juga bukanlah orang yang bisa dianggap remeh," batin Samuel. "Sudah," katanya setelah selesai menguncir rambut Lina.


Lina memperhatikan bayangan dirinya di kaca. Ia sedikit terkejut dengan penampilannya kini. "Aku seperti gadis berumur 15 tahun. Kenapa kau menguncir dua rambutku ini?"


"Jangan banyak protes. Penampilan mu itu memang cocok seperti itu. Ayok keluar, bukankah tadi kau mau es krim."


"Aku mau yang banyak coklatnya," kata Lina masih sedikit cemberut.

__ADS_1


"Hah... Dia sungguh mirip seperti anak kecil."


Mereka keluar dari mobil dan masuk ke kedai es krim tersebut. Seorang pelayan wanita menyambut mereka dan mempersilakan duduk. Ia bertanya ingin memesan es krim jenis apa yang diinginkan pelanggannya. Setelah mencatat pesanan, ia berlalu pergi. Tak berselang lama ia kembali dengan membawa pesanan Lina dan Samuel. Sebuah es krim coklat lava bertabur kacang almond dalam mangkuk ukuran besar menjadi pilihan Lina. Sedangkan Samuel cuman memesan semangkuk kecil es krim vanila.


"Kau bisa membeku makan es krim sebanyak itu," ejek Samuel.


"Tidak akan. Aku sudah sering makan es krim sebanyak ini," Lina mulai mencicipi es krim dihadapannya.


"Sudah sering?"


"Eh, iya. Aku rasa."


"Ingatanmu sudah perlahan-lahan kembali. Sepertinya aku harus lebih sering-sering mengajakmu berjalan-jalan keluar."


Setelah menikmati es krim, mereka melanjutkan perjalanan menyelusuri setiap kota dan berhenti di berbagai tempat yang menarik perhatian Lina. Tidak terasa hari telah menjelang makan siang. Untuk mengisi perut mereka, Samuel mengajak Lina makan di restoran BL. Samuel merupakan salah satu pelanggan VIP disana. Sehabis makan siang, Lina ingin berjalan santai di sebuah taman yang terletak tidak terlalu jauh dari restoran tersebut.


Lina menyadarkan tubuhnya di kursi taman yang tepat berada dibawa sebuah pohon. Angin senjuk berhembus menerbakan helaian rambutnya. Ia memejam mata sambil meletakan tangannya di atas perutnya. Samuel yang melihat raut wajah lembut Lina yang tengah terpejam itu membuatnya tanpa sadar mendekatkan wajahnya ke wajah Lina. Ia hendak mengecup bibir manis merah delima yang dimiliki gadis di sampingnya. Namun tiba-tiba Lina membuka matanya yang membuat Samuel tersentak dan segera menjauhkan dirinya.


"Kau mau apa?" tanya Lina.


"Ti, tidak. Aku tidak sedang mau menci... Maks... Kau tahu... A, aku..." seketika Samuel menjadi gugup. Ia memalingkan wajahnya yang malu. "AAH!! Kenapa aku tiba-tiba ingin menciumnya!"


"Si, siapa yang yang bertingkah aneh? Kau, kaulah yang aneh. Aku... Aku mau beli minuman dulu untuk kita," kata Samuel sambil tanpa sadar mengelus perut Lina sebelum pergi.


"Ha?!" Lina tersentak begitu usapan hangat tersebut menyentuh kandungannya.


"Kau tetaplah disini dan jangan kemana-mana," teriaknya.


Lina meletakan tangannya di perut nya lalu mengusapnya dengan lembut. Perasaan tadi membawa secercah ingatan samar. "Kenapa aku merasa perna hamil sebelumnya. Elusan tadi mengingatkanku pada seseorang yang suka mengelus perut hamilku. Tapi siapa?"


Lina mencoba mengingat-ingat siapa orang itu, namun bayangan di kepalanya masih tertutup kabut. Hanya ada seliwet hitam. Semakin dia memaksa untuk menyingkirkan kabut itu, kepalanya menjadi sakit. Lina sedikit mencengkram kepalanya menahan sakit yang menyerang.


"Aduh!"


Terdengar suara rintihan kecil yang membuat Lina membuka mata. Seorang gadis berumur lima tahun terjatuh tidak jauh dari hadapannya. Lina segera bangkit dari kursi taman itu menghampiri gadis kecil tersebut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Lina sambil membantunya berdiri.


"Tidak apa-apa. Terima ka...sih," Julia terdiam mematung begitu melihat siapa yang baru saja membantunya berdiri. "Ma...ma."

__ADS_1


"Kau harusnya lebih berhati-hati. Ini bonekamu," Lina menyerahkan boneka beruang yang ia pungut di tempat yang tidak jauh dari Julia terjatuh.


"Velia!" panggil Samuel tiba-tiba membuat Lina menoleh.


"Aku harus pergi. Sampai jumpa lagi cantik."


"Apa?!" Julia baru tersadar begitu Lina telah melangkah pergi. "Ma..."


"Julia!"


Panggil Julius sebelum Julia sempat menahan mamanya pergi. Ia menoleh pada kakaknya yang berlari menghampiri.


"Kakak?!"


"Kau jangan berlari-lari sembarangan. Apa kau mau..."


"Kakak, aku baru saja bertemu dengan mama. Dia ada..." potong Julia sambil menunjuk ke... Ia kurang cepat. Mamanya sudah tidak ada lagi disana.


"Dimana Julia?" tanya Julius yang mengikuti arah telunjuk Julia.


"Tadi ada disana. Ia baru saja menolongku," tegas Julia.


"Apa kau sungguh tidak salah mengenali orang?" Julius sedikit meragukan penglihatan adiknya.


"Aku tidak mungkin salah. Itu jelas mama. Ia pergi bersama pria berambut pirang, ia memakai kacamata bundar bergagang pink, mengenakan kemeja putih dengan rok mini berwarna hitam dan rambut dikuncir dua," jelas Julia dengan serius menyakinkan kakaknya.


"Jika itu benar mama, ia pasti masih ada disekitar taman ini. Ayok kita cari!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2