Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Kegelisahan


__ADS_3

"Lalu, apa tidak ada diantara bawahanmu yang terpercaya untuk dikirim kesana?"


"Tenangkan dirimu, kekhawatiran mu berlebihan kucing kecil. Apa kau lupa? Di sana kan masih ada kakak sepupumu, Samuel."


"Makhluk itu tidak dapat diharapkan. Pasti dia yang memberikan mobil pada Julia untuk balapan. Awas saja kau, aku akan menghajarnya jika bertemu nanti," Lina menggeretakan kesepuluh jarinya. Suara yang dihasilkan bisa membuat merinding.


"Sebaiknya aku memberitahu Samuel untuk lari jika bertemu dengan kucing kecil jika ingin nyawanya selamat," batin Daniel.


"Apa kakak butuh pengasuh?"


Terdengar suara wanita yang membuat Lina dan Daniel menoleh ke pintu. Mereka cukup dikagetkan begitu tahu siapa dia.


"Via. Kapan kau datang?" tanya Lina. Ia menghampiri Via dan segera memberinya pelukan selamat datang.


"Baru saja. Oh... Aku benar-benar merindukanmu, kakak ipar."


"Aku juga."


"Bukannya kau ada di Kyoto? Kenapa kau tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar dulu?" tanya Daniel.


"Sengaja. Aku ingin memberi kejutan."


"Kau sendirian? Dimana Kaito?" Lina melirik keluar. Tidak terlihat orang lain selain Via.


"Dia ada pekerjaan penting di Osaka selama sebulan. Aku tidak terlalu suka dengan logat Osaka dan aku tidak ada teman di Kyoto, sebab itu aku aku minta izin liburan kesini. Aku dengar-dengar kalian butuh pengasuh, aku dengan senang hati mengajukan diri."


"Apa kau bisa diandalkan?" kata Daniel dengan nada ejekan.


"Jangan meremehkan aku. Kalau urusan mengasuh anak-anak, aku jagonya."

__ADS_1


"Julius dan Julia bukan anak-anak lagi Via. Tapi... Mungkin Julia akan sangat senang bisa bertemu dengan bibi nya."


"Julia pastinya sangat senang tapi tidak untuk Julius."


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Di kamar nya Marjorie senyum-senyum sendiri mengingat apa yang berlangsung hari ini. Semuanya berlalu begitu cepat namun melekat kuat dalam ingatannya. Dari sekian banyak hari liburnya, akhir pekan ini merupakan yang terbaik. Biasanya ia liburan sendiri ke berbagai negara sebagai refresing setelah menjalankan misi. Walau tidak mengunjungi tempat-tempat berkelas atau menikmati hidangan di restoran mewah, liburan bersama teman-teman tenyata lebih mengasikan ketimbang sendiri. Terlebih lagi hari ini ia dapat berjumpa kembali dengan kakaknya yang sudah lama ia cari selama ini. Pantas saja ia tidak kunjung menemukan kakaknya di kota ini karna kakaknya menggunakan nama berbeda. Marjorie tidak tahu alasannya mengapa Kety mengubah namanya menjadi Laura. Tapi Majorie tidak terlalu memusingkan itu. Ia lebih berharap dapat cepat-cepat menyelesaikan misi ini agar bisa bersama dengan kakaknya. Ia rela mengorbankan seluruh pencapaiannya selama ini untuk itu.


Namun kekhawatiran dengan cepat menghampiri Marjorie. Ini tentang Julia. Marjorie dilanda kebimbangan antara menganggap Julia sebagai musuh atau teman? Julia adalah orang yang telah memperlihatkan sebuah ikatan persahabatan yang sempat hilang dari dirinya. Dia juga perna mengajari berbagai macam hal tentang sistem jaringan komputer yang belum Marjorie ketahui selama ini. Tapi disisi lain, identitas menjadi penghalang. Marjorie belum mengetahui identitas Julia yang sebenarnya. Siapa dia itu? Apa seorang mata-mata yang dibawah kendali negara? Atau lebih buruk lagi, ia merupakan bagian dari anggota mafia lain yang kemungkinan menjadi musuhnya. Tidak! Marjorie sama sekali tidak mau jika suatu hari nanti mereka harus bertemu dalam keadaan menjadi musuh.


"Tidak! Aku tidak mau hal itu sampai terjadi! Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi aku adalah bawahan Lady Blue dan disisi lain ada seorang teman yang kemungkinan ada di pihak lawan. Siapa yang harus aku pilih?" disaat pikiran Marjorie dilanda kegelisahan. Ia tiba-tiba menyadari satu kejangalan. "Tunggu dulu. Bukankah Lady Blue mengatakan kalau ia mengetahui semua yang aku lakukan. Apa dia juga tahu siapa Julia yang sebenarnya? Kalau begitu... Hah?! Jangan-jangan, ia memintaku libur bersama dengan Julia hari ini cuman sekedar memanfaatkan ku untuk memancing Julia atau Julius. Tidak. Jika itu benar maka sama saja dengan aku mengantar nyawa temanku sendiri. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku harus menjaga jarak dari mereka demi keselamatan mereka. Maafkan aku Lady Blue, aku tidak bisa membiarkan mu menyakiti teman-teman ku."


Krrrriiiing....


Suatu kebetulan hp Marjorie tiba-tiba berdering. Ia melirik ke hpnya untuk melihat siapa yang menelponya. Betapa kaget nya ia begitu mengetahui orang yang menelponnya adalah Lady Blue.


"Hah? Apa dia tahu kalau aku mencoba memberontak darinya? I, ini tidak mungkin. Tenangkan dirimu Marjorie. Jangan berpikir yang bukan-bukan," Marjorie menarik napas perlahan sebelum mengangkat telpon. "Halo."


"Eh... Soal itu... Cukup baik," jawab Marjorie dengan gugup.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau jadi gugup begitu, tidak seperti biasanya? Jangan coba-coba berbohong dariku ya."


"Tidak. Saya tidak mencoba membohongi anda."


"Bagus. Karna kau tahu hukumannya akan sangat berat jika berani membohongiku. Nah sayang, bisa kau ceritakan keseharianmu hari ini? Aku ingin mendengarnya."


"Apa tebakanku tadi benar? Lady Blue sungguh memanfaatkan ku untuk menjebak Julia," batin Marjorie. Ia sempat terdiam sesaat.


"Marjorie, kau masih disana?" panggil Lady Blue menyadarkan Marjorie yang melamun.

__ADS_1


"Ah, iya. Maafkan saya. Saya barusan sedang mengingat-ingat kejadian siang tadi."


"Oh... Sepertinya seru. Kau bisa mulai bercerita sekarang."


"Iya, baiklah. Em... Kami bertiga cuman berkeliling kota dan mengunjungi beberapa toko hanya sekedar untuk berbelanja. Karna keasikan berkeliling kami sampai lupa waktu jam makan siang. Kami berada dipinggir kota saat itu dan tidak ada restoran sama sekali disana. Beruntung ada kedai makanan kecil di ujung jalan."


"Wah... Itu pasti pengalaman baru untukmu sejak menjadi bawahanku. Karna yang aku tahu seluruh anak buah ku tidak ada yang pernah makan di tempat sederhana seperti itu."


"Iya. Tapi walaupun cuman kedai sederhana, makanan disana sangat enak."


"Benarkah? Apa seenak itu? Aku jadi teringin mencicipinya. Lanjut-lanjut. Aku dengar kau bertemu para perman disana. Apa itu benar?""


"Dia saja tahu hal ini. Sepertinya Lady Blue menempatkan seseorang untuk mengikuti atau yang sebenarnya diikuti adalah Julia," pikir Marjorie. "Itu benar. Mereka cuman preman kecil biasa yang selalu menggangu setiap toko di blok itu. Kami memberi mereka sedikit pelajaran pada mereka karna mereka berniat melakukan hal buruk pada kami."


"Para preman itu benar-benar sial telah bertemu denganmu. Oh, iya. Aku mendapat laporan kalau putri Tn. Arlo baru kembali dari luar negeri. Sore tadi dia marah-marah soal teman mu yang bernama Julia itu. Ia terus berteriak meminta kakaknya untuk tidak tertipu oleh Julia dan jangan mau bersamanya. Ia mengatakan kalau Julia adalah seorang gadis pengoda semua laki-laki dan bahkan sudah memiliki pacar. Hah... Veronica ini lucu sekali. Padahal pria yang disangkanya pacar Julia itu adalah kakak Julia sendiri serta ironisnya Yusra lah yang selalu mendekati Julia."



.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2