Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Sebagian dari ingatan


__ADS_3

"Aduuh... Kepalaku sakit," rintih Lina pelan tanpa disadari Samuel. Lina berdiri berjarak lebih dari dua meter dari Samuel.


"Kenapa kau merasa tidak asing dengan tempat ini? Apa kau merupakan seorang perawat?" tanya Samuel kemudian.


"Bukan. Aku yakin itu," jawab Lina sambil meremas rambutnya menahan sakit dengan tangan kanan berpegangan pada dinding.


"Dokter?"


"Bisa jadi," Lina mengatur nafasnya perlahan disaat rasa sakitnya sedikit mereda. "Cuman aku tidak terlalu sering menangani pasien. Aku merasa aku memiliki pekerjaan lain."


"Kau tahu, ada satu pekerjaan yang terlintas dipikiran ku yang bisa menjelaskan masalah mu ini secara masuk akal."


"Apa itu?" tanya Lina sambil menoleh.


Lina sedikit terkejut begitu mendapati Samuel sudah berdiri sangat dekat dengan dirinya. Samuel membungkukan badannya mendekatkan wajahnya ke wajah Lina dengan kedua tangan telah bersandar di dinding disisi kiri dan kanan tubuh Lina. Pandangan mata mereka bertemu. Sangking dekatnya, Lina bisa merasakan hembusan nafas Samuel. Beruntung lorong tempat mereka berada sekarang sepi dari orang yang lalu lalang.


"Kau seorang mata-mata," bisik Samuel.


"Mata-mata? Tidak mungkin."


"Bagaimana bisa kau yakin? Kau tidak ingat apa-apa. Kau merasa kalau kau seorang dokter tapi jarang menangani pasien dan disisi lain kau merasa memiliki pekerjaan lain, serta kau memiliki musuh yang menginginkan kematian mu. Lalu kau pikir pekerjaan apa lagi yang bisa menghubungkan semuanya selain mata-mata? Mungkin saja kau sedang menyamar sebagai dokter untuk mendapatkan suatu informasi penting."


Kalimat Samuel sedikit menggangu pikirannya. Apa benar yang dikatakan Samuel kalau sebenarnya dirinya adalah seorang mata-mata? Memang ada segelintir dari ingatannya yang pulih, dimana ia menembak mati seseorang. Tidak. Seorang dokter seharusnya menyelamatkan bukan membunuh.


"Bisa tidak kau jangan terlalu dekat denganku?" Lina berusaha mendorong Samuel menjauh. Kepalanya kembali diserang rasa sakit. Ia membutuhkan ruang lebih.


"Kenapa? Apa kau tidak menyukai aku terlalu dekat denganmu?"


Bukannya menjauh, Samuel mala lebih mendekatkan dirinya dan mulai menggoda Lina. Kesal akan hal itu. Lina mengepalkan tinjunya lalu menojok perut Samuel sekeras yang ia bisa.


"Argh!" pekiknya tertahankan. Samuel meringkuk kesakitan memengangi perutnya. Sangking sakitnya ia sampai terlutut dilantai.


"Atau aku akan melakukan itu padamu," Lina membuang muka dengan kesal sambil melangkah pergi.


"Kau itu, sungguh wanita yang kasar."


Baru beberapa langkah, Lina tidak bisa menahan dirinya lagi untuk berdiri tengak. Ia mencari penggangan di tembok dengan satu tangan kembali mencengkram kuat rambutnya sambil memejamkan mata. Rasa sakit yang dialaminya kali ini lebih menusuk dan tak tertahannya. Perlahan keseimbangannya goyang dan akhirnya pingsan. Samuel yang dengan cepat menyadari hal itu tepat waktu menangkap Lina sebelum tubuh Lina menyentuh lantai.


...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...


Langit-langit kamar menyambutnya disaat Lina membuka mata. Rasa sedikit pusing masih ia rasakan. Ia melirik ke samping dan melihat Samuel serta dokter pribadi George berdiri di dekat tempat tidurnya.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Samuel. "Aku terpaksa membawamu kembali ke rumah karna hanya dokter Pram yang tahu betul kondisimu."


"Terima kasih. Aku cuman masih sedikit pusing," Lina berusaha duduk dibantu Samuel.


"Kau terlalu memaksakan otakmu berpikir terlalu keras dan akhirnya kelelahan. Aku sudah memperingatkan mu, itu akan membuatmu pusing. Jika ada potongan-potongan ingatan samar muncul di kepalamu jangan paksakan diri untuk menyatukannya. Biarlah ingatan tersebut tersusun dengan sendirinya. Sama seperti halnya dengan kabut pagi di pegunungan. Kau akan sisa-sisa jika berusaha menyingkirkannya tapi kalau dibiarkan, perlahan-lahan kabut tersebut akan hilang dengan sendirinya."


"He, namun rasa sakit ini sepadan," kata Lina membuat mereka bingung.


"Apa maksudmu?" tanya Samuel.


"Aku sudah mengingat sebagian dari masa laluku," jelas Lina.


"Benarkah? Apa yang kau ingat?" tanya Samuel lagi.


"Dimana Tn. George?" Lina mala balik bertanya.


"Aku disini. Ada perlu apa kau menanyaiku?" George mendorong kursi rodanya masuk ke kamar Lina.


"Tn. George, kalau boleh tahu. Apa penyebab anda berada di kursi roda?" tanya Lina pada George. Ia mengubah posisi duduknya ke pinggir ranjang agar lebih leluasa berbincang dengannya.


"Tidak ada yang tahu, bahkan dokter terbaik sekalipun yang perna memeriksa kondisiku tidak tahu penyebab lumpuh nya kedua kaki ku ini. Sudah lebih dari tiga tahun ini aku terpaksa harus duduk di kursi roda. Kenapa kau bertanya?"


"Boleh saya memeriksanya?"


"Tunggu dulu. Maksudmu sebagian ingatanmu yang pulih itu, kau memang seorang dokter?" tanya Samuel memastikan.


"Iya. Aku ingat kalau aku memang seorang dokter, bukannya mata-mata."


"Aku kan cuman menebak-nebak. Lagi pula, sebagai seorang dokter, apa yang telah kau lakukan sampai ada orang ingin membunuh mu?" kata Samuel hampir tidak terdengar.


"Jadi ternyata kau seorang dokter. Kenapa kau berpikiran ingin memeriksa kondisiku? Aku sudah bilang, sudah banyak dokter yang memeriksaku tapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu penyebab lumpuh nya kaki ku ini."


"Karna aku bukan dokter biasa. Izinkan aku untuk mencobanya Tn. George."


"Dari tatapan Velia terlihat ia sangat yakin sekali," batin George. "Baiklah. Tidak ada salahnya aku membiarkan mu mencoba."


"Pertama-tama aku membutuhkan satu set jarum perak. Aku akan menggunakan teknik akupunktur."


"Aku akan meminta seseorang untuk mencarinya di kota," ujar Samuel sambil melangkah keluar.


"Sambil menunggu. Apa boleh anda menceritakan sedikit dari awal anda mengalami lumpuh, Tn. George?"

__ADS_1


"Itu terjadi tiga tahun lalu," George mencoba mengingat-ingat. "Disaat aku bangun pagi waktu itu aku tiba-tiba tidak bisa merasakan kaki ku lagi."


"Apa anda sebelumnya sering merasakan sakit di bagian lutut?"


"Em... Iya."


"Apa rasa sakit itu muncul disaat anda terlalu lama duduk dan berjalan jauh? Lama-kelamaan rasa sakitnya mala menjalar ke pinggang. Aku tebak anda waktu itu pasti tidak bisa berjalan sejauh lebih dari 100 m, iya kan?"


George tersentak mendengar tebakan Lina yang tepat. "Iya. Semua itu benar."


Lina tersuyum. "Okey, aku cuman ingin memastikan itu."


"Ini jarum perak yang kau inginkan, Velia," kata Samuel yang sudah kembali sambil membawakan pesanan Lina.


"Terima kasih," Lina menerima satu set jarum perak tersebut. Ia lalu duduk terlutut di depan George.


"Kalau kau ingin menggunakan akupunktur, bukankan sebaiknya Tn. George berbaring saja di tempat tidur dan..." dokter Pram tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tidak apa, duduk saja. Dan aku masih bisa melakukan akupunktur tanpa Tn. George harus melepaskan celananya. Aku mulai Tn. George."


Lina meminta persetujuan George yang dibalas anggukan. Ia mengambil satu jarum perak dan mulai menusukannya di titik-titik akupunktur pada kaki George.


"Jika aku menusukan jarum ini, apa anda merasakan sesuatu?" tanya Lina disela-sela ia melakukan akupunktur.


"Biar kau memotong kaki ku ini, aku tidak akan merasakan apapun."


"Sungguh? Bagaimana kalau dengan yang ini?" Lina menusukan satu jarum terakhir.


"Aw!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


ξκύαε


__ADS_2