Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia

Gadis Psychopath Itu Putri Bos Mafia
Menyusup


__ADS_3

Tidak ada percakapan apapun lagi setelahnya. Hening sebentar.


"Untuk apa mama membeli Cyanthillium cinereum?" tanya Julius kemudian.


"Untuk membuat obat."


"Obat? Apa mama sakit?" tanya Julia.


"Tidak. Itu bukan untukku. Obat ini untuk seseorang yang telah bersedia menampungku beberapa minggu ini. Ia sedang sakit dan harus mendapat obat ini segera agar bisa sembuh. Tapi aku kekurangan satu bahan untuk menyempurnakan obatnya."


"Cyanthillium cinereum."


"Iya. Tumbuhan itu tidak ada di kota, cuman ada di pedesaan. Hanya segelintir orang kota yang tahu manfaat dari tumbuhan ini. Sebab itu tidak ada tempat yang menjual atau menanam tanaman tersebut kecuali apotek tadi."


"Aku bisa memberikan Cyanthillium cinereum yang mama inginkan."


"Kau memiliki Cyanthillium cinereum?"


"Iya," jawab Julius sambil mengangguk.


"Apa aku bisa mempercayai mereka? Tapi tidak ada pilihan lain agar aku bisa mendapatkan Cyanthillium cinereum hari ini," pikir Lina. "Jadi apa yang kalian berdua inginkan agar aku bisa mendapatkan Cyanthillium cinereum? Aku yakin kalian tidak akan memberikannya secara cuma-cuma."


"Izinkan kami selalu bersamamu dan berjanjilah tidak akan perna meninggalkan kami," kata Julia dengan tatapan memohon.


"Bersama... Tidak perna meninggalkan..."


Belum sempat Lina memahami kata-kata tersebut, pandangannya tiba-tiba menangkap sosok Sara yang masuk ke gedung tepat di ujung taman. Sara terlihat masuk ke gedung itu bersama seorang pria.


"Apa yang dilakukan Ny. Sara disana? Dan siapa pria itu? Apa lebih baik aku selidiki saja mereka?"


"Apa yang mama lihat?" tanya Julius yang mengikuti arah pandangan Lina.


"Ha?" Lina tersadar. Ia berkedip beberapa kali dan memutar matanya ke sisi lain. "Gawat, bagaimana ini? Tidak mungkin aku meninggalkan mereka sendirian disini. Jika aku ajak mereka... Ini mungkin akan berbahaya," pikir Lina mencari cara agar bisa mengikuti Sara. "Em... Kita lanjutkan nanti saja. Bagaimana kalau kalian bersama paman itu duku?" tunjuk Lina pada sopir pribadi yang mengantarnya.


"Memang mama mau kemana?" tanya Julia.


"Mama mau ke toilet sebentar," kata Lina mencari alasan.


"Julia," panggil Julius lalu berbisik di telinga Julia.

__ADS_1


Julia terlihat mengangguk. "Baiklah. Kami tunggu mama bersama paman itu."


Julius dan Julia beranjak dari kursi taman dan berlari menghampiri sopir yang menunggu di kursi taman lainnya yang dekat dengan mobil terpakir.


"Gelagat mereka mencurigakan. Tapi biarkan saja. Yang penting mereka bisa aman."


Tanpa mengulur waktu lagi Lina bergegas menuju gedung di ujung taman. Ia masuk begitu saja ke gedung tersebut dengan cara mengendap-endap. Ia menghindari setiap orang yang lalu lalang disana. Tujuan pertamanya adalah lif. Karna kemungkinan besar Sara akan menggunakan lif. Lina hanya perlu tahu lantai berapa yang Sara tuju. Terlihat angka yang tertera di atas pintu lif masih bergerak naik dan akhirnya berhenti di lantai 70.


"Lantai 70 ya. Aku harap masih sempat terkejar."


Lina perlahan mendekat ke pintu lif. Disaat hendak menekan tombol lif, Lina baru menyadari kalau ternyata lif tersebut memerlukan kartu pengenal khusus untuk bisa menggunakan lif tersebut.


"Sial! Lif ini menggunakan kartu identitas untuk membuka nya," gerutu Lina pelan.


"Aku bisa membukanya."


"AAH!!"


Teriak Lina sangking kaget nya dengan suara Julia yang muncul dari arah belakangnya. Dengan cepat ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangan sebelum suara teriakan nya di dengar orang lain.


"Apa yang kalian lakukan disini? Aku kan sudah bilang untuk menungguku saja di taman bersama sopir."


"Aku ingin membantu mama."


"Kenapa aku bisa terjebak bersama dua anak-anak ini," Lina menutup wajahnya menggunakan sebelah tangan.


"Velia, ada apa sebenarnya ini? Kenapa dua anak-anak ini memanggil mu 'mama'?"


"Dan kau lagi. Bagaimana bisa kau ada disini? Bukannya kau ada pertemuan penting hari ini?" tanya Lina pada Samuel yang ternyata datang bersama Julius dan Julia.


"Kami bertemu paman ini begitu hendak masuk kemari," jelas Julius. "Ayah mengatakan, demi keamanan kami harus merahasiakan identitas kami dari orang ini dan pastikan dia tidak berbuat macam-macam pada mama."


"Kau mengikutiku?" lirik tajam pada Samuel.


"Aku tidak bisa menggapai tombol lifnya," kata Julia yang berusaha menggapai tombol lif. Mata kini tertuju pada Samuel. "Paman, gendong."


Julia merentangkan tangannya minta digendong oleh Samuel. Samuel tidak memperhatikan apa yang ingin dilakukan Julia. Ia hanya menuruti apa kemauan Julia saja.


"Eh... Sebenarnya pertemuan itu dibatalkan. Jadi... Aku menyusulmu kesini. Kebetulan aku bertemu dengan mereka di luar," jelas Samuel mencari alasan.

__ADS_1


"Pembohong," kata Julius dengan ekspresi dinginnya. "Kenapa tidak katakan saja yang sebenarnya kalau paman memang mengikuti mama sendari tadi, sejak dari apotek."


"Samuel..."


"Berhasil," ujar Julia membuat mereka menoleh.


Samuel dan Lina cukup dikejutkan dengan pintu lif yang terbuka. Ternyata sendari tadi Julia membuka paksa pintu lif menggunakan suatu perangkat sebesar hp namun lebih mirip seperti kalkulator lengkap dengan barisan tombol dan layar. Tanpa pikir panjang mereka segera masuk ke dalam lif dan naik menuju lantai 70.


"Kau gadis kecil yang sangat hebat. Di seusiamu ini kau sudah bisa melakukan hal yang kebanyakan orang dewasa tidak bisa melakukannya," puji Samuel. "Dengan kemampuan luar biasa ini, aku sangat yakin kalau mereka bukanlah anak-anak biasa."


"Kau sungguh mengejutkanku. Tapi, apa tidak apa mereka ikut?" Lina sangat mengkhawatirkan keselamatan Julius dan Julia.


"Mama tidak perlu khawatir. Kami cukup mahir bela diri dan menggunakan senjata. Kami tidak akan terluka," ujar Julius meyakinkan.


"Tidak apa. Aku akan menjaga mereka. Mereka akan baik-baik saja," tambah Samuel.


"Aku harap begitu."


"Oh, iya ma. Aku tadi sempat mengecek bahan-bahan yang mama beli tadi. Dari bahan-bahan yang mama pesan, itu sepertinya resep obat penawar dari racun Gold crystal," kata Julius. Sambil menyerahkan kantung belanjaan yang berisi bahan obat-obatan. Kantung belanjaan itu tertinggal di kursi taman.


"Apa? Da, darimana kau tahu?" Lina lagi-lagi dibuat terkejut.


"Mama sendiri yang memberi tahu aku resepnya."


"Apa maksudnya? Apa mereka sungguh anak-anakku?" batin Lina.


Ting!


Pintu lif terbuka. Lorong panjang menyambut mereka. Disisi kiri dan kanan terdapat pintu yang menghubungkan ke suatu ruangan yang terkunci. Mereka mulai menyelusuri lorong tersebut. Tidak ada siapa-siapa disini.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


ξκύαε


__ADS_2