
"Dasar pria tidak tahu diri! Kalau bukan karna ingin mencari tahu tentang kakak ku di sekolah Anthony, sudah lama aku menolak mentah-mentah misi ini. Aku masih memandang Lady Blue saja, kalau tidak aku pasti sudah memrobek mulutmu itu! Aku bawahan Lady Blue tidak tunduk dan menerima perintah dari pada siapapun. Aku mengikuti semua kemauan mu juga karna terpaksa. Jika tidak, identitas ku sebagai bawahan langsung Lady Blue akan terbongkar," gerutu Marjorie sepanjang jalan.
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di senin pagi yang menurut sebagian orang adalah hari yang membosankan. Semua orang dituntun untuk kembali pada kegiatan keseharian masing-masing setelah menjalani liburan yang singkat. Begitu juga yang dialami Julius dan Julia hari ini. Mereka harus mengikuti pelajaran seperti biasa. Tiada ada kejadian apa-apa yang terjadi hari ini sampai hari terus berganti. Paling-paling Julius masih sering mendapatkan beberapa surat dan hadiah kecil dari penggemarnya. Ia menerima surat-surat tersebut namun tidak ada satupun yang dibacanya dan untuk hadiah yang ia terima biasanya ia berikan lagi pada orang lain.
Keseharian Julia juga tidak lebih tenang dari kakaknya, Julius. Karna taruhan Sean, Alwen dan Yusra untuk memperebutkan hati Julia, membuat mereka berlomba-lomba menarik perhatian Julia dengan berbagai cara. Untuk menghindari hal ini, Julia biasa lebih suka berlama-lama di kamar dari pada berkeluyuran di luar. Dan jika merasa bosan, Julia akan menyeret Julius hanya sekedar untuk menemaninya berkeliling taman belakang. Dengan kehadiran Julius bisa membuat keengganan pada Sean, Alwen dan Yusra untuk mendekati Julia.
Walaupun kesehari mereka sering terganggu, Julius dan Julia tetap harus tekun belajar. Jika nilai mereka sampai turun, bersiap-siap saja untuk menyambut kedatangan mama mereka. Dan itu tentunya bukan datang dengan maksud baik. Setidaknya peringatan itulah yang papa mereka sampaikan. Selain aktif di pelajaran akademik, mereka juga tidak perna absen di kegiatan non akademik. Kelas musik yang selalu diadakan setiap rabu sore menjadi semakin menyenangkan untuk di ikuti, terutama bagi Julia. Kenapa? Karna pamannya Samuel menjadi guru musiknya sendiri.
Dilain kesempatan, disaat mereka sedang berduaan saja terkadang pembahasan mereka menyimpang dari apa yang diajarankan kelas musik. Kerap kali Julia mempertanyakan tentang robot terbaru yang tengah Samuel kembangkan saat ini. Bicara soal robot tentunya membuat kegiatan mereka seketika teralihkan. Dengan geram Felisia terkadang terpaksa menegur mereka berdua secara tegas karna teguran biasa sering kali diabaikan. Kejadian itu menjadi hiburan tersendiri bagi yang lain.
Selain kelas musik, Julia juga mengikuti klub sain bersama Nisa. Sementara untuk Wendy dan Febby, mereka tidak tertarik sama sekali dengan klub yang menggunakan kecerdasan otak tersebut. Wendy jauh lebih memilik klub olahraga dan sedangkan Febby mengikuti klas memasak dan juga melukis. Tapi bagi Julia dan Nisa, klub sain cukup menyenangkan. Terutama guru yang mengajar mereka sering melakukan beberapa eksperimen seru. Hanya saja lagi dan lagi Julia harus satu klub bersama kakaknya. Tidak mengherankan juga Julius ikut bergabung di klub sain karna memang bermain dengan bahan kimia adalah kesukaan Julius sejak kecil.
Tapi kenapa dia juga ada di kelas sain ini?!! Kesenangan Julia dalam menikmati eksperimen yang ditunjukan gurunya menjadi terganggu karna Sean menjadi salah satu perserta di klub sain dan merupakan seniornya. Ingin rasanya Julia menonjok wajah Sean yang sering kali menggangunya itu. Walau keisengan Sean tidak seberani sewaktu di pesta malam itu karna kehadiran Julius tapi tetap saja Julia masih merasa terganggu. Sean tidak akan menyerah untuk mendapat hati sang pujaan hati dan lagi ia tidak rela kehilangan mobil kesayangannya yang menjadi bahan taruhannya.
__ADS_1
Sementara itu, beberapa hari Rica tidak terlihat mencoba balas dendam pada Julia dan teman-temannya. Setelah kejadian pesta malam itu yang membuat ia lagi-lagi dipermalukan. Sempat muncul desas-desus diantara para siswa siswi lainnya yang membahas hal ini. Biarpun mereka tidak berani megosipkannya di depan Rica namun tetap saja hal itu sampai di telinga Rica. Ia benar-benar merasa kesal dan kemungkinan besar Rica merencanakan sesuatu untuk membalas. Julia tidak mengambil pusing soal itu. Apapun rencana licik, kejam dan aneh lainnya, Julia siap menghadapi semuanya.
Semuanya sudah dibahas. Tak lengkap rasanya jika melupakan Marjorie. Untuk beberapa hari terakhir ini ia tidak mendapat tugas apapun dari Lady Blue. Tungasnya mengawal Yusra juga membosankan. Untuk mengisi waktu luang nya ia kembali memeriksa data sekolah yang didapatnya dari komputer kepalah sekolah tempo hari. Berkat bertukar ilmu dengan Julia minggu itu, Marjorie bisa mengakses satu data yang benar-benar dikunci sangat ketat. Butuh beberapa hari bagi Marjorie untuk berhasil membukanya. Ia begitu penasaran apa isi dari data tersebut. Ternyata isinya sangat mencengangkan. Pantas saja kepalah sekolah menyimpannya dengan sangat ketat. Tapi timbul pertanyaan di kepala Marjorie.
"Kenapa Tn. Vincent menyimpannya di komputer sekolah?"
Data tersebut berisikan kesenangan pribadi dari kepalah sekolah. Majoriet cukup terkejut begitu mengetahui kalau si tua bangka itu tenyata masih memiliki gairah muda. Rupa-rupanya Tn. Vincent senang mengoleksi foto-foto wanita seksi yang cuman mengenahkan pakaian kekurangan bahan. Marjorie terus mengscroll ke bawah foto-foto tersebut sampai akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang tidak terduga.
"Tunggu dulu, apa-apaan semua ini?"
"Tn. Vincent!!! Berani sekali kau berbuat seperti ini pada kakak ku! Anda harus menerima ganjarannya, yaitu kematian!!!"
...⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜⚜...
Di siang hari yang sedikit mendung, Julius baru kembali dari perpustakaan dan hendak menuju kelasnya. Disaat di lorong lantai dua, ia tanpa sengaja melirik keluar kaca jendela yang mengarah langsung ke atap gedung asrama wanita. Tepat di atas bangunan tersebut ia melihat seseorang. Hal itu membuat Julius berhenti sesaat untuk lebih memastikan siapa orang tersebut.
__ADS_1
"Hei, bukankah itu Death knell? Apa yang dilakukannya di atas sana? Sebaiknya aku menghampiri dia."
Julius berbalik lalu melangkah kembali turun. Ia pergi menuju gedung asrama. Walau laki-laki tidak diperbolehkan memasuki asrama wanita tapi itu bukan masalah besar bagi Julius. Dengan mengandalkan kealihannya menyelinap membuat Julius dapat dengan mudah naik ke atas atap bangunan asrama wanita tanpa harus ketahuan. Di atas gedung asrama wanita itu, Julius berdiri tepat di belakang Marjorie yang sedang bersiap-siap membidik sasarannya menggunakan senapang M21.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
ξκύαε